
Bab 197. Istri idaman para suami
'Secepat ini barangnya sampai?' Kata Dito sambil melirik ke arah jam yang terletak tak jauh darinya lalu melihat bahwa waktu masih menunjukkan pukul 20.00.
🐬🐬🐬
"Baiklah, tunggu sebentar," Kata Dito pada orang yang ada di depan pintu apartemennya lalu pria itu mematikan layar monitornya sebelum pergi untuk membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Dito mengambil makanan yang ia pesan, "Terima kasih atas bantuannya," Kata Dito dengan sopan.
Sang pria yang ada di sana juga menunjukkan sikap yang lebih sopan lagi dari Dito, "baik tuan muda. Nanti kalau kalian membutuhkan sesuatu yang lain kalian bisa mengatakannya pada saya," ucap pengawal tersebut sambil menyerahkan kartu namanya yang berisi identitas pribadinya supaya Dito lebih mudah menghubunginya.
"Baiklah," jawab Dito mengambil kartu nama yang disodorkan oleh sang pengawal, Tetapi dia masih penasaran akan satu hal sehingga dia bertanya lagi, "Bagaimana caramu mendapatkan makanan ini dalam waktu yang begitu cepat?"
Dito merasa penasaran karena dia jelas tahu bahwa perjalanan ke desa memakan waktu yang cukup lama sehingga Dito pikir pesanannya baru akan tiba beberapa jam lagi.
Sang pria dengan sopan menjawab Dito, katanya, "saya pergi ke desa menggunakan pesawat jet pribadi yang merupakan pesawat milik keluarga Romania."
Ucapan pengawal itu membuat Dito tercengang di tempatnya, Tetapi dia tak mengatakan apapun dan Dito hanya mengangguk saja.
"Baiklah, kalau tuan muda tidak membutuhkan sesuatu lagi saya pamit permisi sekarang. Selamat malam," ucap sang pengawal diangguki oleh Dito lalu Dito membiarkan pria itu pergi meninggalkan apartemennya.
Setelah pengawal tersebut pergi, Dito kembali ke apartemennya lalu dia segera menyiapkan makanan itu untuk istrinya.
Keduanya menikmati makanan dari desa sebelum mereka beristirahat.
🐬🐬🐬
Ting!
Heriyani mengerutkan keningnya karena ia yang duduk di meja kerjanya mendapat sebuah pesan email dari email bajakan yang ia ambil dari adik iparnya.
Dia pun membuka isi email tersebut dan heriyani tersenyum membaca email tersebut, "heh,,, dia menerima bayaran lagi, bahkan bisa mendapatkan bayaran sampai puluhan juta," ucap heriani sebelum meletakkan ponselnya lalu dia lanjut bekerja.
Setelah beberapa saat bekerja, heriyani kembali mendapatkan sebuah email yang berisi laporan pemasukan uang hingga dia pun mengambil ponselnya lalu pergi ke toilet.
Saat tiba di toilet, heriani melakukan panggilan telepon pada ibu mertuanya.
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Begitu panggilan telepon terhubung, seseorang dari seberang telepon langsung membentak heriani, "Ada apa lagi kau menelpon?! Kau ingin menanyakan keadaan kami lalu menghina kami?!"
Bentakan dari seberang telepon membuat heriani tersenyum konyol, "Ibu, aku tidak bermaksud begitu, hanya saja, sepertinya ibu belum berbicara dengan adik ipar tentang apa yang kukatakan beberapa waktu yang lalu ya?' ucap heriyani yang memang telah mengatakan perkara Kesya pada ibu mertuanya.
Dia pikir perempuan itu akan syok mengetahui tentang kelakuan putrinya, tapi sampai sekarang ternyata perempuan itu belum melakukan apapun hingga membuat heriyani mau tidak mau harus kembali mengingatkan perempuan itu agar nanti dia memiliki sesuatu untuk dibicarakan pada suaminya Kalau suaminya sampai menanyakan masalah Kesya.
"Hei!! Kau jangan banyak bicara! Sudah berulang kali ku katakan padamu kalau putriku tidak akan melakukan hal menjijikan seperti yang kau tuduhkan padanya! Jadi jangan mencampuri urusan keluarga kami dan urus saja urusanmu sendiri!" Tegas Clarissa dari seberang telepon sebelum panggilan telepon itu diakhiri secara sepihak.
Tut tut tut...
Heriyani tersenyum menatap layar ponselnya, "hm,,! Dasar perempuan ini, Sepertinya dia terlalu senang karena mendapat banyak uang dari putrinya hingga dia memilih menutup mata, tapi lihat saja, aku akan membuat kalian menangis pada waktunya!" Ucap heriani sebelum menyimpan ponselnya lalu pergi meninggalkan toilet untuk lanjut bekerja.