
"Perhiasan Ibu masih tertinggal di sana, Ibu membelinya seharga 2.500.000!!!" Teriak perempuan itu sembari memukul-mukul pahanya mengabaikan luka bakar yang ada di sana.
🧕🧕🧕
Dia sangat tidak tega memikirkan perhiasannya yang telah hangus bersama-sama dengan barang-barangnya yang lain.
Kesya dan wasti yang melihat itu sama sekali tidak kasihan, karena saat ini mereka sedang bersenang-senang dalam hati bahwa mereka akan segera memasuki kediaman utama sebab tempat tinggal mereka telah rata dengan tanah karena terbakar oleh api.
Beberapa menit kemudian, pemadam kebakaran akhirnya tiba lalu mereka memadamkan api yang ada di sana.
Tak jauh dari rumah itu, heriani bersama dengan keempat orang yang ada di sana berdiri memandangi api yang sedang dipadamkan itu.
Tetapi kemudian dia menatap kesal pada Clarissa saat melihat perempuan itu tiba-tiba saja meraung-raung menangis.
"Huwaa...!! Tempat tinggal kami sudah terbakar, tempat kau tinggal kami sudah terbakar!!! Di mana lagi kami harus tinggal setelah ini??? Keluarga kami sangat malang!! Hikss hiks,," Isak perempuan itu dengan suara yang begitu keras diikuti Kesya dan juga wasti yang mulai menangis.
Heriani yang menatap itu hanya membuang muka dari mereka, dan Dia merasa bahwa kebakaran itu mungkin saja disengaja oleh orang-orang itu supaya bisa pindah ke kediaman utama.
Meski begitu, heryani tidak mengatakan apapun dan dia hanya berdiri diam di sana menatap rumah mereka yang diguyur air oleh para petugas pemadam kebakaran.
"Ibu, berhenti menangis, tidak ada yang bisa kembali meskipun Ibu menangis seperti ini dan melukai diri ibu sendiri," Kata Dito sembari merapikan rambut ibunya yang sudah berantakan.
"Ibu tahu,, Tapi sekarang ibu tidak bisa dihibur, sekarang ibu harus bagaimana dengan kedua Putri Ibu? Kau sudah enak bersama dengan istrimu bisa tinggal di kediaman keluarga Romania, tetapi Kami bertiga bersama-sama dengan ayahmu!! Mau tinggal di mana kami Setelah rumahnya terbakar?!!" Bentak Clarissa terus menangis tersedu-sedu.
Kesya yang menatap kakaknya berharap pria itu akan segera berkata sesuatu tentang tempat tinggal mereka, tetapi Dito hanya terdiam dan menatap ke arah heriyani yang saat itu juga menatap Dito.
"Ibu harus dibawa ke rumah sakit," ucap heriani.
"Benar," kata Dito segera mengangkat ibunya, lalu dia pun membawa perempuan itu ke depan rumah dan menyetop sebuah taksi.
Clarissa pun menggigit bibir bawahnya menatap ke arah Dito yang terus duduk di samping sopir taksi, tampak tidak ingin berbicara apapun.
Padahal, dia sudah bersusah payah melakukan semuanya, bahkan sekarang ia meringis menahan sakit pada tubuhnya yang sempat terbakar.
"Ini,, setelah ini kita mau tinggal di mana Bu?" Tanya wasti pada ibunya.
Pertanyaan itu langsung membuat Dito menoleh ke arah belakang, dan dia melihat istrinya yang duduk di kursi paling belakang juga menatap ke arahnya.
"Ibu juga tidak tahu, cepat telepon ayah kalian," kata Clarissa sembari menghela nafas.
Dito yang mendengarkan percakapan orang itu orang itu terdiam di tempatnya, dan dia sebenarnya ingin mengajak mereka pergi ke kediaman utama, Namun karena berbicara dengan kakeknya Komang maka dia cemas bahwa mereka mungkin akan dimarahi, Oleh sebab itu, Dito hanya diam saja.
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
"Ada apa kau menelpon ayah di jam kerja seperti ini?" Tanya Agus dari seberang telepon ketika panggilan telepon Kesya telah terhubung dengan pria itu.
"Ayah!! Rumah kita kebakaran, rumah kita telah rata dengan tanah!!!" Teriak Keisha pada orang di seberang telepon.
"Apa?!! Bagaimana bisa?" Tanya sang pria dirangi seberang telepon dengan nada suara yang begitu terkejut mendengar kabar buruk yang menimpa mereka.
"Sekarang kita tidak punya tempat tinggal lagi, apa yang harus kita lakukan ayah? Ibu juga terluka komandan saat ini sedang dibawa ke rumah sakit," ucap Keisha pada Agus.
"Ah,, baiklah, Ayah segera ke rumah sakit sekarang, tapi mungkin agak lama, karena ayah masih ada di luar kota" jawab sang pria dari seberang telepon lalu panggilan telepon itu diakhiri dengan Keysha yang langsung menatap kakaknya.
Perempuan itu semakin kecewa melihat kakaknya yang masih belum berbicara apapun sehingga dia tidak bisa tahan untuk menunggu kakaknya menawarkan mereka dan langsung saja berbicara, katanya, "kakak,, apa yang harus kami lakukan? Tidak bisa kakak membantu kami dengan berbicara pada kakek supaya kakek memberikan kami tempat tinggal baru?"