
Begitu masuk ke dalam rumah, Clarissa langsung pergi ke kamarnya lalu membuka laci di sana untuk menemukan uang, namun betapa terkejutnya dia bahwa ternyata uang senilai 1 juta yang ia simpan di dalam laci kini telah menghilang!!
"Kemana uang-uangku?!" Ucap Clarissa dengan raut wajah yang begitu terkejut melihat laci miliknya telah kosong.
Meski begitu, Clarissa tetap berusaha mencari uang-uangnya di laci-laci yang lain, bahkan memeriksa sampai ke kolong meja, namun hasilnya tetap saja sama, dia tidak mendapati uangnya di manapun.
"Sial!! Jangan-jangan Wasti juga lah yang mengambil uang itu?!!" Gerutu Clarissa Dengan kepala ingin meledak memikirkan nasibnya yang begitu sial di hari ini.
Apalagi ketika dia mengingat bahwa tadi sebelumnya ketika mereka hendak pergi ke rumah Dito, putrinya memang sempat kembali ke dalam rumah dengan alasan barangnya ketinggalan. Apalagi, dia mengingat bahwa perempuan itu cukup lama berada di dalam rumah sebelum keluar menghampirinya.
Maka dengan penuh rasa cemas, Clarissa kebingungan harus melakukan apa, "Aku tidak mau masuk penjara, aku tidak mau masuk penjara!!" Gerutu Clarissa sambil menggertakkan giginya.
Sementara sang sopir yang menunggu Clarissa di depan, pria itu mulai merasa risih karena Clarissa sudah terlalu lama di dalam rumah sehingga pria itu tak tahan untuk mendorong pintunya dan berteriak, "cepat bawakan ongkos taksiku kemari atau aku akan membawa kasus ini ke polisi!!"
Teriakan tersebut membuat Clarissa yang ada di dalam kamar kini mematung di tempatnya karena dia tidak tahu harus berbuat apa.
Dia berusaha berpikir selama beberapa saat sampai akhirnya dia membuka pintu kamar lalu pergi menghampiri sopir taksi, "Maaf, tetapi aku baru saja kecurian, semua uang yang kusimpan di rumah telah menghilang!! Kalau Anda ma, anda bisa membawa barang-barang yang ada di rumah Ini, sofa ini, Anda boleh membawa semuanya, harganya jauh lebih banyak daripada--"
"Diam!!" Teriak sang supir taksi menyela ucapan Clarissa, "Kau pikir aku ini penampung barang bekas?! Aku tidak punya waktu untuk berurusan dengan mu, jadi cepat sekarang juga serahkan ongkos taksinya atau sekarang juga Aku seret kau ke kantor polisi!!"
Teriakan itu membuat Clarissa mundur beberapa langkah, Tetapi dia masih berusaha berkata, "saya benar-benar berkata yang sesungguhnya, uang saya yang saya simpan di rumah semuanya telah menghilang, pasti ada maling yang datang ke sini mengambilnya!! Lagi pula, barang-barang di rumah ini juga cukup mahal. Anda bisa mengambilnya lalu menggunakannya untuk menggantikan ongkos taksiku!!" Ucap Clarissa dengan nada suara yang tegas.
"Apa?! Kau mau mempermainkanku bukan?!" Teriak sang pria tanpa aba-aba langsung menghampiri Clarissa lalu menyeret perempuan itu keluar dari rumah.
"Akhh!! Akh!! Lepaskan, Tolong berikan aku kesempatan, aku akan mencari uangnya sekali lagi!!" Teriak Clarissa benar-benar diabaikan oleh sang sopir taksi, supir taksi itu hanya terus menyeret Clarissa sampai ke dalam mobilnya lalu dia pun membawa perempuan itu ke kantor polisi.
Terus berada dalam mobil, Clarisa kemudian berkata, "tolong lepaskan aku, aku benar-benar bisa membayarnya, Bagaimana kalau besok saja Anda datang mengambilnya? Saya akan membayarnya dua kali lipat dari yang seharusnya saya bayar hari ini!!"
"Dasar penipu, memangnya aku mau mendengarkanmu?!!" Bentang sang supir taksi terus melajukan mobilnya sampai mobil mereka tiba di kantor polisi membuat Clarisa merasa gemetar karena tentunya dia tidak mau masuk penjara sama seperti yang dialami oleh putrinya.
Meski begitu, Clarissa tidak bisa berbuat apa-apa ketika dia sudah diseret oleh sang pria keluar dari mobil taksi lalu dibawa menuju ke kantor polisi.
"Tolong, ini adalah perempuan penipu, Dia menyewa taksi saya dengan ongkos rp900.000 tapi tidak mau membayarnya!!" Kata Sang sopir taksi langsung membuat para polisi yang ada di sana menatap ke arah mereka.
"Kalau begitu duduklah di sini, biar kita dengarkan keterangan kalian berdua!" Tegas tang polisi langsung membuat sang pria melepaskan cengkramannya pada tangan Clarissa lalu dia pun pergi menuju kursi dengan sang polisi yang juga menarik pelarisan menuju kursi untuk dimintai keterangan.
Pertama-tama, identitas mereka diklarifikasi terlebih dahulu sebelum sang supir taksi menceritakan segala kronologi kejadian Kenapa mereka berdua bisa berada di sana.
Setelah mendengarkan keterangan dari sang sopir taksi, maka polisi kemudian menatap claritas sambil berkata, "apakah yang dia katakan itu benar?"
Clarissa menggertakkan giginya sebelum dia berkata, "itu memang benar, tapi aku berniat untuk membayarnya dengan menggunakan barang-barang yang ada di rumahku, tapi dia sama sekali tidak sabar dan tidak mau menunggu!! Lagi pula, barang-barang yang ada di rumah saya yang Saya tawarkan padanya itu adalah barang-barang yang lebih mahal harganya, bahkan bisa dua kali lipat daripada ongkos taksinya!!"
Polisi yang mendengarkan itu hanya bisa memijat keningnya melihat ibu-ibu di depannya, "tetap saja, Anda harus membayar dengan uang tunai, bukan menggunakan barang bekas. Sekarang juga, berikan nomor ponsel wali Anda supaya saya bisa menghubunginya untuk--"
"Saya tidak punya wali!!" Sela Clarissa, "suami saya baru saja berkata akan menceraikan saya dan putri saya meninggalkan saya entah ke mana lalu Putra saya mengusir saya dari rumahnya, jadi saya tidak punya wali siapapun!!!"
"Suami Anda baru saja berbicara akan menceraikan anda tetapi bukan berarti dia sudah menceraikan Anda, sebaiknya sekarang berikan nomor ponselnya supaya saya menghubunginya." Ucap sang polisi.
Sopir taksi yang ada di sana juga menganggukkan kepalanya, "benar sekali, lagi pulang saya tidak akan memperpanjang kasus ini kalau kau membayar uang ongkos taksi saya. Tapi itu hanya sampai 1 jam berikutnya, Kalau satu jam lagi dan masih tidak ada, maka sebaiknya Anda tinggal saja di penjara!!" Ucap sopir taksi Langsung membuat Clarissa melototkan matanya menatap sopir taksi tersebut.
Setelah Clarissa selesai berbicara, maka sang polisi pun menelpon nomor taksi tersebut hingga seorang pria dari seberang telepon menjawab, "halo?"
"Halo, ini dari kantor polisi ibukota Selatan, Saya ingin menginformasikan bahwa istri anda yang bernama Clarissa sedang berada di kantor polisi karena terlibat kasus dengan sopir taktis. Dia menggunakan taksi dari ibukota pusat menuju ibukota Selatan dan tidak mau membayar ongkosnya sebanyak 900.000. silakan datang ke kantor Polisi untuk membicarakan masalah ini." Ucap sang polisi pada pria di seberang telepon.
"Maaf pak polisi, ini sudah jam tidur, jadi silakan menghubungi saya besok pagi. Ah,, masalah istri saya, biarkan saja dia dipenjara, semua orang sudah muak dengan kelakuannya, dia melakukan banyak sekali hal yang membuat keluarganya menjadi pusing!" Tegas pria dari seberang telepon langsung membuat sang polisi tersenyum.
"Baiklah Pak, kalau begitu masalah ini akan kami proses secara hukum," kata sang polisi langsung membuat Clarissa melototkan matanya.
Tetapi Clarissa belum berkata apa-apa ketika polisi sudah mengakhiri panggilan telepon tersebut Lalu menatap Clarissa yang terbengong.
"Suami Anda bilang anda sudah terlalu banyak melakukan kesalahan yang membuat semua orang merasa pusing, jadi malam ini anda akan tinggal di kantor Polisi untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah anda lakukan!" Ucap sang polisi memberi kode pada salah satu bawahannya hingga Clarissa kemudian dibawa menuju sel dengan perempuan itu hanya bisa meneteskan air matanya.
Maka, selama satu malam penuh Clarissa berada di penjara, namun ketika keesokan harinya dia pikir dia akan datang ditebus oleh suaminya, ternyata sama sekali tidak ada perubahan.
Bahkan setelah 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu dan 1 bulan, dia malah mendapatkan sebuah surat yang merupakan surat gugatan cerai dari suaminya.
"Hiks,, hiks,, hiks,,," Clarissa terisak begitu keras di dalam sel tahanannya dan dia tidak tahu harus berkata apa serta meminta tolong pada siapa, sebab nomor ponsel putranya, dia tidak menghafalnya, juga putrinya dan hanya menghafal nomor ponsel suaminya.
Tetapi suaminya tidak mau membebaskannya, sehingga dia harus memasuki pengadilan yang akan dijadwalkan dalam satu minggu lagi.
Sementara saat itu, Wasti yang kini tinggal di sebuah apartemen bersama dengan ayahnya, perempuan itu merasa bahagia meski setiap hari dia tidak mendapatkan uang jajan, namun dia tidak berani membantah pada ayahnya karena dia tahu ayahnya tidak seperti ibunya yang mudah untuk dikibuli.
Saat ini dia sedang menonton bersama ayahnya sambil menikmati cemilan yang diletakkan di atas meja.
"Ha ha ha.. rumah tangga ini seperti rumah tangga ayah dan ibu, benar-benar hancur parah!!" Ucap wasti sambil berteriak begitu keras membuat Agus hanya tersenyum tipis melihat ke arah TV.
'Kau tidak tahu saja, kalau saat ini ibumu sudah berada di penjara, dan aku tidak akan menolongnya, biarkan saja dia berada di dalam perjalanan selama beberapa bulan untuk menebus kesalahannya terhadap sopir taksi itu. Juga, hitungan untuk menebus kesalahannya karena dialah yang menjadi penyebab keluarga kami menderita selama bertahun-tahun lamanya!' ucap Agus dalam hati yang kini merasa menyesal bahwa dulunya dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada ayahnya sehingga seluruh anaknya harus menderita selama bertahun-tahun.
Tepat ketika Agus masih berpikir dalam hatinya, tiba-tiba saja ponsel Wasti berdering hingga pasti dengan cepat melihat ponselnya.
"Siapa yang menghubungiku dengan nomor baru?" Ucap wasti sambil mengangkat panggilan telepon itu dan memasukkannya dalam mode speaker karena saat ini tangannya dipenuhi oleh cemilan dan dia tidak mau lahir ponselnya menjadi lebih kotor kalau dia harus berlama-lama memegang ponsel miliknya.
"Halo?" Jawab Wasti pada orang di seberang telepon.
"Halo, ini dari pinjaman online xx, kami menginformasikan bahwa ibu anda yang bernama Clarissa telah mengambil pinjaman sebanyak 1 juta dari tempat kami dan belum melakukan pembayaran sampai kini sudah jatuh tempo! Kami mengingatkan bahwa jumlah yang harus dibayar pada bulan ini adalah 250.000 dan sekarang ditambah dengan dendanya sebanyak 200.000 maka jumlahnya sudah mencapai 450.000. Tolong segera beritahukan padanya untuk segera membayarnya!"
Ucapan pria dari seorang telepon langsung membuat Wasti melototkan matanya sambil berbalik menatap ayahnya dengan rasa cemasnya.
Benar saja, Agus langsung mengambil ponsel putrinya lalu dia pun berkata, "ku beritahukan padamu, aku dan istriku sudah bercerai dan ini adalah nomor ponselku, jadi jangan pernah menghubungiku lagi atau perusahaan kalian akan ku tuntut ke jalur hukum karena memberikan pinjaman yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan!!!"
"A,, apa?! Berani-beraninya kalian bilang ingin menuntut kami?! Ku beritahukan pada mu!! Istrimu lah yang telah mengambil pinjaman pada kami, jadi kenapa kami yang harus disalahkan ketika istrimu tidak bisa membayar tagihannya?!!" Teriak pria dari seberang telepon membuat Agus menggertakan giginya lalu dia pun mereject panggilan telepon tersebut dan memblokir nomor telepon itu.
"A,, ayah,," ucap wasti menatap ayahnya dengan perasaan cemasnya.
"Ganti nomor ponsel mu supaya orang itu tidak menghubungimu lagi!" perintah Agus langsung membuat wasti menganggukkan kepalanya lalu melihat ayahnya meletakkan tumpukan uang berwarna merah di atas meja sebelum pria itu pergi meninggalkannya.
Wasti tersenyum, 'sudah kuduga, mengikut Ayah adalah pilihan yang jauh lebih baik daripada bersama dengan ibu yang tidak memiliki modal!' ucap wasti dalam hati.