
Bab 176. Istri idaman para suami
Dito berkata, "Sudah kubilang itu uang istriku, dan hari ini aku mentraktir kalian menggunakan uang pribadiku! Sekarang aku buru-buru, jadi aku pergi dulu!"
Setelah berbicara, Dito langsung berdiri meninggalkan semua orang itu tanpa menunggu satupun orang menjawabnya.
✨✨✨
Para pria yang melihat kepergian Dito menjadi berpandangan satu sama lain sebelum mereka kemudian mengejar Dito.
Salah seorang pria merangkul Dito yang saat itu sedang membayar makanan di kasir, lalu pria itu berkata, "hei,, kau tidak boleh bersikap seperti ini, kau adalah anak baru di divisi kami dan kami semua membutuhkan sedikit bantuanmu. Apa susahnya meminjami kami sedikit uang ketika kau punya banyak sekali uang?"
Pria lain ikut merangkul Dito, lalu pria itu berkata, "benar sekali, kau tidak boleh pelit-pelit jadi orang! Kalau kau membantu kami, kau membantu kami menyelamatkan nyawa anak dan istri kami dan juga orang tua kami!"
Setelah 2 pria itu, masih banyak juga pria yang datang menghampiri Dito hingga membuat Dito merasa sangat kesal dengan orang-orang yang begitu mudah mengatakan uang puluhan juta untuk dipinjami pada mereka semua.
Padahal, dia sudah berkali-kali menegaskan kalau itu bukanlah uangnya, itu adalah uang istrinya dan dia tidak bisa mengambil uang istrinya meski itu hanya satu sen saja!
Udah sebab itu, Dito kembali mempertegas ucapannya, "aku benar-benar tidak bisa, itu uang istriku, bukan uangku! Istriku sudah menungguku di rumah, jadi aku harus pergi sekarang."
Setelah berbicara, Dito pun melepaskan terang bulan kedua tangan temannya di bahunya dan pergi keluar dari restoran tersebut.
Saat ia berdiri menunggu taksi, pria itu merasa sangat kesal terhadap orang-orang yang baru saja bersama-sama dengannya, 'bisa-bisanya mereka memaksaku untuk meminjami mereka uang. Memangnya aku punya uang sebanyak itu untuk dipinjami pada mereka? Lagipula istriku yang menang lomba, Bukan Aku!' kesal Dito dalam hati sambil menatap ke arah jalanan, ia berharap taksi cepat-cepat datang menghampirinya.
Baru saja berhenti, pintu mobil langsung dibuka oleh salah satu orang lalu pria itu pun turun dari mobil menghampiri Dito dan dengan cepat pria itu mendorong Dito untuk masuk ke dalam mobil.
Begitu tubuh Dito didorong ke arah mobil, dua orang pria menariknya dari dalam mobil hingga membuat Dito kalang kabut dan dengan cepat ia berusaha melepaskan diri.
Tetapi karena jumlah orang yang ada di sana jauh lebih banyak, apalagi ditambah sopir mobil tersebut sudah keluar dari mobil dan membantu temannya mendorongnya ke mobil, maka Dito tidak bisa lagi berbuat apapun dan hanya bisa ditarik paksa ke dalam mobil.
"Ikat dia!" Perintah salah seorang pria setelah Dito berada dalam mobil hingga Mereka pun mengikat Dito.
Dito berusaha merontah agar dilepaskan, tetapi orang-orang di sana tetap menahannya dengan mobil yang kini kembali berjalan.
Seorang pria yang ada di sana merogoh saku Dito dan mengambil dompet milik Dito lalu menatap Dito.
"Karena kau tidak mau memberikan uangmu secara baik-baik, maka kami hanya bisa memaksamu! Katakan apa sandi dari kartu ini!!!" Perintah sang pria yang ada di sana langsung membuat Dito menggelengkan kepalanya.
"Sudah kubilang, itu uang istriku, bukan uangku!" Tegas gitu yang kini menjadi panik, kalau sampai uang istrinya diambil oleh orang-orang itu, dia tidak tahu harus berkata apa pada istrinya nanti.
"Sial! Situasi sudah seperti ini dan kau belum sadar juga apa yang terjadi?! Kalau begitu Kau akan kami buat menyadarinya!" Kata salah seorang pria sebelum dia mengambil lakban dan melakban mulut Dito lalu mobil tersebut terus berjalan di keramaian jalanan kota.
Dito yang merasa dirinya terancam kini hanya bisa berpasrah, dia tidak berusaha lagi merontak, dia hanya diam saja dan berusaha tenang mencari kesempatan agar bisa melarikan diri. O dari rekening milik Dito.
Semuanya membicarakan apa yang akan mereka lakukan dengan uang-uang itu, karena jumlahnya tidak main-main dan tentunya akan membuat mereka semua akan menjadi orang kaya dalam satu malam.