
"Sayang!!!" Heryani berteriak keras saat ia bangun di pagi hari dan melihat suaminya sedang mengangkat sebuah meja.
Dito yang hendak memindahkan meja ke sudut lain ruangan kamar mereka, ia menghentikan gerakannya dan menatap istrinya yang kini berjalan mendekatinya dengan raut wajah marah.
Dito pun berkata, "Aku baik-baik saja, aku bisa me--"
"Diam!!" Bentak heriani langsung mengambil meja dari tangan Dito dan melemparkannya secara sembarangan, "Kau pikir kau sudah cukup kuat untuk melakukan semuanya?! Aku berupayah merawat lukamu supaya cepat sembuh, tapi kau malah tidak menghargai usahaku!! Apakah sebaiknya aku biarkan saja kau?!!" Kesal heriani yang sangat marah pada pria yang ada di hadapannya.
Melihat istrinya sangat marah, maka Dito pun menjadi menyesal dan segera mengulurkan tangannya memegang tangan istrinya, "maafkan aku sayang, maaf,, Aku tidak akan mengulanginya lagi, pokoknya aku tidak akan melakukan apapun tanpa seijin istriku!" Ucap Dito yang kini merasa panik kalau istrinya mungkin benar-benar mengabaikannya.
Melihat suaminya, maka heriani menghembuskan nafasnya dengan panjang, "sekarang duduk di situ, akan ku ambilkan kau makanan!" Ucap heriani menunjuk ke arah sofa lalu perempuan itu pun keluar dari kamar dengan amarah yang tertahan.
Melihat istrinya sangat marah, maka Dito tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya mematuhi perintah istrinya dengan berjalan ke arah sofa lalu duduk di sana sambil melihat meja yang tadi dibanting oleh istrinya.
'Dari mana dia mendapatkan kekuatan untuk membanting meja itu?' ucap Dito sambil menghela nafas, Tetapi dia tidak berani untuk menyentuh majalah itu apalagi memperbaiki posisinya, dia takut istrinya menjadi semakin marah padanya, Padahal, selama ini istrinya tak pernah semarah itu padanya.
Sementara heriani yang keluar dari kamar, perempuan itu akhirnya tiba di dapur lalu dia dengan cepat mengambil roti dan memanggangnya.
Seorang pelayan yang ada di sana mendekati heriyani lalu berkata, "Nyonya muda, kami sudah menyiapkan makanan di meja makan, Nyonya muda bisa membawa itu untuk dimakan oleh Tuan Muda."
"Tidak usah, suamiku sedang sakit, aku akan merawatnya sendiri, Kau pergilah kerjakan pekerjaanmu!" Ucap heriyani masih dengan rasa kesalnya Karena dia masih mengingat Bagaimana sikap suaminya yang begitu menyebalkan.
Pelayan yang melihat heriani berada dalam suasana hati yang tidak baik akhirnya mundur perlahan-lahan dan dia tidak berani lagi berbicara pada perempuan itu, karena dia tahu sedikit saja membuat kesalahan maka dia beresiko dipecat dari pekerjaannya.
Saat pelayan itu baru saja meninggalkan dapur, tiba-tiba saja Niko kembali menghampiri heriyani dengan raut wajah yang tampak menyeramkan karena kantong mata pria itu tampak menghitam dan sepertinya sedang menanggung beban yang begitu berat.
"Adik ipar, Tolong beritahu aku, aku sudah menarik semua sahamku yang telah mengalami kerugian, sekarang Apa yang harus dilakukan?" Tanya Niko langsung membuat heriani yang saat itu sementara mengoles selai pada roti yang telah Ia panggang kini meletakkan pisaunya dengan kesal.
Perempuan itu lalu menatap pria yang ada bersama-sama dengannya, "kau benar-benar tidak menyerah, Jadi kukatakan untuk yang terakhir kali nya padamu, jangan pernah lagi menghampiriku atau bukan hanya kata-kata yang kuberikan padamu tetapi juga sebuah luka fisik!!!" Bentak heriani langsung membuat Niko merasa tak berdaya di tempatnya.
Beberapa hari terakhir dia terus berusaha berbuat baik pada heriyani, tetapi perempuan itu terus saja mengabaikannya hingga membuatnya merasa frustasi.
"Adik ipar,, aku sungguh-sungguh, aku akan melakukan apapun!!" Ucap Niko diabaikan oleh heriani yang saat itu lanjut lagi mengoles selai pada roti.
Niko pun mengikuti heriani dari belakang dan tanpa henti-hentinya memohon pada perempuan itu karena dia benar-benar penasaran tentang cara heriyani mengetahui nilai saham-saham itu.
Tetapi heriani terus mengabaikannya sampai ia menutup pintu kamar lalu dia melihat suaminya yang duduk di sofa tampak menegang ketika dia sudah masuk ke kamar.
Hal itu membuat heriyani menghela nafas, lalu dia pun mendekati suaminya dan meletakkan sarapan di atas meja, "makan lah," ucap heriyani berusaha berbicara dengan suara yang tenang.
"Terima kasih istriku," Kata Dito mengulurkan tangannya mengambil garpu dan pisau yang disediakan lalu dia pun dengan perlahan memotong roti yang ada di sana Lalu menikmatinya.
Heryani yang melihat suaminya sudah makan kini berdiri lalu dia masuk ke kamar mandi dan mandi.
Saat keluar dari kamar mandi, didapatinya suaminya sudah tidak ada di sofa, tetapi pria itu ada di balkon kamar sedang berjemur.
"Hah,, Sepertinya aku sudah terlalu kasar padanya," ucap heriani segera berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya sebelum dia pergi ke balkon lalu memeluk suaminya dari belakang.
"Maaf," ucap heriyani yang menyadari kesalahannya hingga membuat Dito terkejut.
Pria itu pun melepaskan tangan heriyani yang melingkar di pinggangnya lalu dia berbalik menatap istrinya dan memeluk perempuan itu.
"Aku juga minta maaf, lain kali aku tidak akan melakukan apapun jika tidak meminta izin pada istriku," Kata Dito sembari mendaratkan sebuah ciuman di puncak kepala heriyani.
Heriyani merasa tenang dengan pelukan itu, jadi dia mengangkat wajahnya menatap suaminya dan melihat suaminya terlihat sangat menyesal setelah Apa yang dilakukan oleh pria itu.
"Bolehkah aku minta dicium?" Tanya heriani membuat Dito mengangkat sebelah alisnya karena tidak menyangka perempuan itu akan meminta ciuman di saat-saat seperti itu.
Tetapi kemudian, Dito tetap menundukkan kepalanya lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibir istrinya.
Cup!
Setelah dicium, heriyani semakin melebarkan senyumnya, "Terima kasih sayangku," kata heriyani sambil menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.