Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
111


Saat ini, Agus tengah berada di ruang kerjanya dan dia sedang menyelesaikan berkas-berkasnya ketika tiba-tiba saja ponselnya yang diletakkan di atas meja mendapatkan sebuah panggilan telepon.


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Pria itu pun langsung mengangkat panggilan teleponnya Setelah dia melihat bahwa nama pemanggil adalah putranya sendiri.


"Ada apa tiba-tiba kau menelpon ayah?" Tanya Agus pada putranya yang memang tak biasanya Dito meneleponnya kecuali Ada hal penting yang harus mereka bicarakan berdua.


"Aku hanya ingin menanyakan tentang rumah yang dikatakan oleh ibu dan kedua adik perempuan ku, Apakah rumah itu diberikan oleh kakek?" Tanya Dito dari seberang telepon langsung membuat Agus mengerutkan keningnya.


Pria itu berpikir selama beberapa detik sebelum dia mengambil tasnya yang ada di salah satu kursi di ruangannya lalu dia pun memeriksanya, pria itu terkejut ketika dia tidak mendapati map coklat berada di sana.


Maka Agus langsung merasakan perasaan seperti dihempaskan dari gedung tinggi mengetahui apa yang baru saja dilakukan oleh istri dan kedua putrinya.


Dito yang ada di seberang telepon pun merasa heran mengapa ayahnya diam saja, sehingga dia pun berkata, "Apakah ayah baik-baik saja?"


Agus langsung duduk di sofa dan dia pun mengepal kuat tangannya sembari menjawab putranya, katanya, "ya, ayah baik-baik saja. Tapi,, masalah rumah itu, Ayah akan membicarakannya denganmu nanti. Sekarang Ayah ada rapat penting, jadi Ayah harus menutup panggilan teleponnya."


Setelah berbicara, maka Agus pun menekan-nekan layar ponselnya lalu dia menghubungi istrinya.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Sembari menunggu panggilan teleponnya diangkat oleh istrinya, Agus merasakan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya karena dia benar-benar cemas bahwa perempuan itu telah merubah nama pemilik rumah tersebut.


"Kau!! Kau mengambil surat itu dari tasku! Jangan bilang padaku kalau kau sudah mengubah nama kepemilikan rumah itu?!!" Bentak Agus pada istrinya.


Clarissa berkata, "Ahh,, aku memang sudah merubahnya tadi pagi, tapi Memangnya ada apa? Setelah Putraku kembali dari desa aku baru akan memberitahunya dan dia tidak akan pernah keberatan jika rumah yang diberikan padanya diambil oleh ibu kandungnya sendiri. Apalagi dia tahu bah--"


"Perempuan sialan!!!!" Bentak Agus langsung dimatikan panggilan telepon itu dan dia merasakan kepalanya menjadi sangat sakit dan keringatnya semakin deras membasahi seluruh tubuhnya.


Maka pria itu pun menjatuhkan ponselnya ke lantai dan dia berjalan dengan langkah tidak stabil untuk mendapatkan obatnya.


Setelah menelan 2 butir obat, barulah Agus merasa lebih baik, dia duduk di kursinya sembari bersandar dengan mata terpejam serta pikiran diusahakan menjadi lebih tenang.


Setelah beberapa saat, barulah Agus merasa tenang dan pria itu kemudian membuka matanya secara perlahan-lahan.


"Ayah pasti sudah mengetahui masalah ini, dan dia akan mengutuk keluarga kami atas apa yang kami lakukan!" Ucap Agus yang kini tidak tahu lagi harus berbuat apa setelah masalah besar yang ditimbulkan oleh keluarganya.


Pria itu duduk sembari memijat keningnya, ia berusaha mencari jalan keluar dari permasalahannya sehingga dia tidak punya pilihan lain selain menelpon putranya.


Maka pria itu kembali lagi mengambil ponselnya dan menghubungi putranya.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


"Ya ayah," jawab Dito dari seberang telepon saat panggilan telepon itu sudah terhubung.


"Ayah minta maaf padamu, Jadi sebenarnya rumah yang ditempati oleh ibumu dan saudara perempuanmu itu adalah rumah yang diberikan oleh kakek untuk kau dan istrimu, tapi ibumu mencuri berkasnya dari tangan ayah dan mengubah nama kepemilikan rumah itu menjadi milik ibumu. Ayah tidak bisa berbuat apa-apa karena ayah juga baru tahu sekarang jadi Ayah hanya bisa minta maaf padamu." Ucap Agus berharap bahwa putranya bisa menerima hal tersebut.