
Setelah mengurus berkas-berkas yang berhubungan dengan kesya, Dito kemudian keluar dari kantor polisi disusul oleh Clarissa dan wasti.
"Kau mau langsung pulang?!" Tanya Clarissa sambil menatap putranya dengan tatapan tak percayanya.
"Lalu apa lagi yang harus kulakukan?" Tanya Dito pada ibunya.
"Kau ini! Adikmu di dalam sel kedinginan, ia menderita di dalam sel tanpa ada alas kaki dan jaket, dan kau di sini mau langsung pulang begitu saja?!" Bentak Clarissa.
Dito menghela nafas dengan berat, "kita di sini pun tidak akan bisa membantunya, istriku menungguku di rumah, dan ibu juga harus pulang ke rumah untuk beristirahat, Ayo biar ku antar," ucap Dito sambil berjalan menuju mobilnya yang terparkir rapi di tempat parkir.
Clarissa yang melihat kepergian putranya benar-benar merasa kesal, namun dia langsung mengikuti pria itu saat melihat wasti juga sudah berlari kecil mengikuti Dito.
Saat mereka berada dalam mobil, wasti kemudian berkata, "Kenapa hanya Kesya saja yang ada di dalam penjara sementara suami dari para perempuan itu tidak ada di sana?"
"Tidak ada? Bagaimana kau tahu?" Tanya Clarissa pada putrinya Sebab Dia memang tidak tahu apa-apa.
"Tadi aku sempat bertanya pada salah satu polisi, dan dia bilang hanya kesya saja yang ditangkap karena laporan dari 3 perempuan berbeda. Tapi suami-suami dari para perempuan itu tidak ditangkap, atau mungkin mereka melarikan diri sampai belum ditemukan oleh polisi ya?" Ucap Wasti yang merasa heran dengan hal itu.
"Mereka punya banyak uang, jadi mereka punya banyak koneksi di kantor polisi dan bisa membayar siapapun. Tetapi kita, memangnya kita punya apa untuk menyelamatkan Kesya? Lagi pula, ini bagus untuk Kesya supaya dia bisa belajar bahwa segala sesuatu yang buruk yang dilakukan tidak akan berbuah baik!" Tegas Dito.
Clarissa mengganggukan kepalanya, "adik mu benar, sekarang Ibu benar-benar tak punya muka, bahkan untuk bertemu dengan para tetangga saja sudah sangat memalukan bagi ibu!! Seharusnya kita mengeluarkannya dari penjara supaya kita tidak dihina-hina oleh orang lain!" Kata Clarissa yang sama sekali tidak mengerti dengan pemikiran putranya membiarkan keluarga mereka diolok-olok karena aib yang terbongkar.
Tetapi Dito menghela nafas, "hah,,, seperti Ibu punya kekuasaan saja untuk mengeluarkannya, satu-satunya cara untuk mengeluarkannya dari sana ialah menghubungi kakek! Tapi apakah Ibu mau melakukannya?!" Tegas Dito.
Clarissa menggertakan giginya, karena dia jelas tahu bahwa dia tidak mungkin bisa menghubungi tuan besar Romania, atau mungkin masalah besar akan terjadi pada keluarga mereka jika sampai tuan besar Romania mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh Kesya.
Melihat ibu dan adiknya telah diam, maka Dito berkata, "ke depannya, ini menjadi pelajaran bukan hanya untuk kesya, tetapi untuk semua orang supaya Kalau bertindak lebih menggunakan otak terlebih dahulu untuk memikirkan tindakan yang diambil sudah benar atau tidak. Karena kedepannya kalau salah satu di antara kalian berdua juga melakukan kesalahan seperti Keisha, Aku tidak mau membantu lagi, sebab Sudah cukup selama ini aku membantu kalian!
"Mulai dari apa yang kalian lakukan pada istriku, lalu kebakaran yang kalian sengaja demi mendapatkan rumah Dan terakhir rumah yang seharusnya menjadi milikku dan istriku kalian ambil tanpa sepengetahuan kami. Aku sudah cukup sabar menghadapi kalian berdua Jadi kalau masih ada masalah lagi maka aku tidak mau lagi memberi kalian kesempatan!" Tegas Dito.
Ucapan putranya membuat wajah Clarissa menjadi pucat, karena dia tak menyangka bahwa ternyata putranya mengetahui segalanya.
Wasti juga sangat terkejut, sehingga dia berkata, "Bagaimana kakak tahu soal kebakaran?"
"Menurut kalian, kenapa kakek tidak menyediakan rumah untuk kalian? Itu semua karena kakek telah mengetahui apa yang kalian lakukan, dengan sengaja membakar rumah di belakang kediaman utama keluarga kita!!" Tegas Dito langsung membuat Clarissa dan Wasti tak mampu lagi berkata-kata.