
Heriani berbincang-bincang dengan beberapa orang yang dikenalkan Nyonya asmiati sampai akhirnya Dito yang sebenarnya dari tadi menahan hasratnya untuk ke toilet kini tidak bisa menahannya lagi.
"Sayang, Bisakah kita ke toilet sebentar?" Ucap Dito yang merasa cemas meninggalkan haryani sendirian, karena sejak tadi lebih banyak laki-laki yang diperkenalkan Nyonya asmiati pada mereka.
Hal itu membuat Dito merasa cemas bahwa istrinya mungkin akan dilirik oleh pria lain sehingga dia tidak akan berdaya kalau istrinya sampai tergoda oleh pria tersebut.
Tetapi Nyonya Asmiati yang ada di sana langsung menatap Dito dengan tatapan tak sukanya.
"Kalau mau ke toilet pergilah, toiletnya ada di sana," nyonya asmiati menunjuk jalan ke arah toilet "biar aku yang bersama-sama dengan heriani di sini," ucap Nyonya Asmiati langsung membuat Dito menatap istrinya, dan dia merasa bahwa dia tidak bisa meninggalkan perempuan itu.
Tetapi heriani menganggukkan kepalanya pada suaminya, "Aku akan menunggumu di sini," ucap heriani yang jelas tahu bahwa dia masih perlu menjalin koneksi dengan banyak orang yang mana Nyonya Asmiati sangat membantunya dalam hal tersebut sehingga dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Melihat istrinya yang sudah menyuruhnya pergi, maka Dito hanya bisa mengangguk dengan pasrah lalu pria itu pun berjalan meninggalkan istrinya sambil sesekali menoleh ke arah belakang menatap istrinya yang sudah berjalan bersama Nyonya asmiati untuk menghampiri beberapa pebisnis lainnya.
'Hah,, sebaiknya aku cepat-cepat, supaya nanti bisa berdiri lagi di samping istriku,' Kata Dito akhirnya mempercepat langkahnya hingga dia meninggalkan aula dan tiba di sebuah toilet.
Namun sayang sekali, di situ agak ramai karena itu adalah toilet terdekat dari aula sehingga Dito menghela nafas lalu berjalan pergi mencari toilet yang lain yang akhirnya Dito mendapatkan sebuah toilet yang lebih sepi meski agak jauh dari aula tempat acara berlangsung.
Begitu tiba di toilet, maka pria itu langsung melakukan aktivitasnya di toilet sebelum pria itu bernafas dengan lega lalu buru-buru keluar dari toilet.
Tetapi saat dia keluar, seorang perempuan yang tadi bertemu dengannya saat mengambil coklat kini berdiri di hadapannya sambil tersenyum ke arahnya.
"Hai, Bisakah kita bicara sebentar?" Tanya perempuan itu langsung menghampiri Dito hingga membuat Dito menyipitkan matanya menatap perempuan di depannya.
"Aku buru-buru," ucap Dito sambil melangkah untuk pergi ketika tangannya malah dicekal oleh perempuan tersebut.
Yang lebih membuat Dito menjadi jijik ialah dada perempuan itu yang sengaja ditempelkan ke lengannya hingga membuatnya bisa merasakan jepitan dari dua benda kenyal tersebut.
Buk!!?
Perempuan tersebut langsung tersungkur membentur tempat sampah hingga membuat tangannya terluka dan mengeluarkan darah.
Hal itu membuat Dito sangat terkejut hingga mau tak mau pria itu dengan cepat menghampiri perempuan yang terjatuh lalu melihat tangan perempuan itu yang berdarah.
"Astaga, maafkan aku, Aku sungguh tidak sengaja," ucap Dito langsung membantu perempuan itu berdiri.
Tetapi setelah berdiri, perempuan itu dengan cepat mendorong Dito menjauh darinya sambil menatap Dito dengan tatapan kemarahannya.
"Aku akan melaporkan masalah ini ke polisi dan membuatmu dipenjara karena sudah melakukan kekerasan terhadapku sampai aku terluka!!! Kulit perempuan itu mahal! Tidak boleh ada bekas luka di sana!!" Bentak perempuan tersebut sambil menggertakan giginya lalu dia melangkah menjauhi Dito hingga membuat Dito menjadi semakin panik.
Kalau nanti dia masuk penjara, siapa yang akan menjaga istrinya???
"Itu,, Aku meminta maaf, Bisakah kau tidak membawa masalah ini ke polisi?" Tanya Dito langsung membuat sang perempuan menggerakkan giginya sambil mendengus kesal..
"Heh! Kau pikir aku semudah itu?!! Lihat saja nanti, aku akan membawa masalah ini ke polisi!" Kata perempuan itu sambil berjalan memegangi tangannya yang terluka hingga membuat Dito menjadi kalang kabut dan cepat menahan perempuan itu.
"Aku akan melakukan apapun asal kau tidak membawa masalah ini ke kantor polisi!" Ucap dito yang merasa sangat cemas.
Jawaban itu langsung membuat Sang Perempuan tersenyum, apalagi ketika dia melihat wajah pria tampan di depannya tampak begitu panik hingga perempuan itu mengeluarkan sebuah kartu dari tas kecil miliknya.
"Besok, temani aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan luka ini!" Ucap perempuan itu sebelum dia meninggalkan Dito yang kini tinggal di tempatnya memegang sebuah kartu di tangannya.
'bagaimana ini? Kalau istriku sampai tahu, dia pasti akan marah besar!' ucap Dito sambil memegang erat kartu di tangannya.