
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Dito yang saat itu sedang sibuk di kantor langsung mengambil ponselnya yang berdering lalu melihat panggilan tersebut berasal dari ibunya.
Dito pun mengangkat panggilan telepon itu, "halo Bu," jawab Dito pada orang di seberang telepon.
"Ibu mau bicara denganmu sebentar, ini tentang Kesya, Apakah kau punya waktu?" Saya Clarissa dari seberang telepon langsung membuat Dito berdiri dan berjalan ke arah toilet.
"Ada apa dengan Kesya?" Tanya Dito yang merasa penasaran kenapa ibunya tiba-tiba saja menelponnya untuk membahas adiknya.
"Hah,,, adikmu itu, dia mau tinggal di apartemen, Padahal ibu sudah berusaha melarangnya tapi dia tetap bersikeras. Dan kau tahu sendiri, Kita tidak punya uang untuk menyewa apartemennya, Tetapi dia tetap memaksa ibu untuk mencarikan uang baginya menyewa apartemen!" kata Clarissa dari seberang telepon dengan suara putus asa.
Kening Dito langsung berkerut ketika mendengar ucapan ibunya, 'Apakah Kesya berniat tinggal di apartemen karena berpikir bahwa tinggal di apartemen akan membuatnya lebih mudah menjadi sugar baby? Tapi kenapa dia tidak punya uang untuk menyewa apartemen?" Pikir Dita dalam hati sebelum dia menyimpulkan bahwa adik perempuannya sudah tidak menjadi sugar baby sehingga tidak punya uang untuk menyewa apartemen.
Dengan dugaannya tersebut Dito merasa sangat senang sehingga dia berkata, "kalau begitu biarkan dia melakukannya, tapi tidak perlu memberinya uang, biarkan dia berusaha sendiri kalau dia memang mau tinggal di apartemen."
Clarissa yang ada di seberang telepon langsung menyipitkan matanya untuk berpikir, 'Dito tidak membahas apapun, itu artinya Dito belum tahu masalah Kesya. Mungkinkah menantu jelek itu menunda mengatakan segalanya pada Dito?' ucap Clarissa dalam hati yang merasa aneh pada heriyani, tapi meski begitu, dia tetap senang karena Dito belum mengetahui masalah adiknya.
Dalam perasaan leganya, Clarissa kemudian berkata, "ya, Baiklah, ibu akan mendengar saranmu. Kalau begitu kembalilah bekerja, Ibu tutup dulu teleponnya."
"Baik Bu," jawab Dito menurunkan ponselnya lalu dia melihat panggilan teleponnya telah dimatikan oleh ibunya, 'aku harus mengecek komputer saat kembali ke rumah,' ucap Dito dalam hati yang mana Dia merasa bahwa dia perlu memastikan hal tersebut, dan untuk memastikannya hanya bisa menggunakan komputer di rumah yang sering digunakan istrinya.
Maka setelah selesai berteleponan dengan ibunya, Dito kembali ke meja kerjanya, ia melanjutkan pekerjaannya sampai Mikael datang menghampirinya.
"Apa sudah selesai?" Tanya Mikael sambil menatap layar komputer Dito di mana di layar tersebut ada banyak sekali data yang sedang dikelola oleh Dito.
Michael mengangguk dengan puas, "bagus sekali. Sudah dua hari kita mengerjakan ini, jadi usahakan sisanya yang ini diselesaikan sebelum jam pulang kantor. Dengan begitu kita punya banyak hal untuk dijadikan bukti," ucap Mikail menyerahkan sebuah flash disk yang berisi hal lain yang perlu diperiksa oleh Dito.
"Baik," jawab Dito mengambil flash disk dari tangan Michael lalu dia lanjut bekerja dengan penuh semangat.
Pada sore hari saat menjelang jam pulang kantor, Dito selesai mencetak semua file yang telah Ia kerjakan lalu pria itu menyerahkannya pada Mikael.
"Ini adalah berkas yang telah saya periksa," ucap Dito.
Michael mengambil berkas tersebut dari tangan Dito, "Baiklah, sekarang pergi cetak ini," kata Mikail menyerahkan sebuah flashdisk pada Dito.
"Baik," jawab Dito lalu pergi dari tempat itu menuju ke ruangan percetakan.
Dito melakukan tugasnya dengan baik sebelum dia kembali menghampiri Michael lalu menyerahkan berkas yang telah Ia cetak pada Mikael.
Mikael melakukan pengecekan terakhir pada berkas-berkas itu sebelum dia berkata, "bawa berkas-berkas ini, kita akan menyerahkannya pada manajer."
"Baik senior," jawab Dito mengambil semua berkas di atas meja lalu membawanya ke ruangan Manager mengikuti Mikael yang lebih dulu berjalan di depannya.
Tok tok tok...
Mikael mengetuk pintu ruangan Manager dengan Dito yang berdiri di belakang Michael dalam rasa percaya diri yang tinggi.
Dito sangat yakin bahwa kali ini mereka bisa memberi hukuman pada direktur yang telah melakukan korupsi besar-besaran!