
Beberapa hari setelah teleponnya dengan putranya, Agus akhirnya dihubungi oleh Dean supaya hari itu juga yaitu tepatnya pada malam hari, dia segera berangkat ke ibukota.
Maka setelah kembali dari kantor, Agus langsung mengambil koper Dan meletakkan pakaiannya ke dalam koper.
Clarissa yang melihat itu, ia langsung mendekati suaminya sambil berkata, "kamu kemana sehingga mengemas begitu banyak barang?"
"Aku akan pergi ke ibukota bertemu dengan Ayah, jadi kau bersikap patula di rumah dan jangan membuat keributan!!!" Tegas Agus pada istrinya.
"Apakah kau akan menghadiri acara Gender reveal yang akan diadakan oleh Dito?" Tanya clarissa membuat wasti yang ada di sana juga langsung masuk ke dalam kamar ayah dan ibunya karena sempat mendengarnya di ambang pintu.
"Kak Dito akan menggelar gender reveal untuk anaknya, dan aku bersama dengan Ibu tidak pergi?!" Tanya wasti pada ayahnya.
Melihat sikap dua perempuan itu, maka Agus menghela nafas sambil berdiri lalu dia menatap istri dan anaknya, "kalian tidak akan pergi, kalian akan tetap tinggal di sini!!! Lalu kuingatkan sekali lagi, jika masih melakukan sesuatu yang buruk, maka aku tidak akan segan-segan melakukan sesuatu yang lebih ketat untuk mendisiplinkan kalian berdua!!!" Tegas Agus sebelum dia kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
"Tapi ayah, Mengapa kami tidak boleh pergi?!" Tanya Wasti Yang tak habis pikir bahwa mereka tidak diizinkan pergi ke ibukota, padahal acara yang akan digelar ialah acara dari orang yang berhubungan sangat dekat dengan mereka.
"Hah,,, inilah akibat kalau kalian berdua terus melakukan sesuatu yang buruk, jadi tidak ada yang bisa mempercayai kalian untuk diajak pergi kemana-mana. Siapa yang mau membiarkan Kalian pergi ke sana dan membuat keributan di sana hingga keluarga kita mungkin akan dibuang ke pelosok desa?" Gerutu Agus yang tidak bisa lagi mempercayai istri dan putrinya, karena dia cemas dua orang itu akan melakukan sesuatu yang merugikan keluarga mereka.
"Ayah!! Kami tidak mungkin membuat keributan, tidak mungkin!!!" Tegas wasti sambil menatap ayahnya dengan tatapan paling meyakinkan.
"Jangan banyak bicara, kalian berdua tidak akan pernah ikut!!" Tegas Agus sebelum dia menutup kopernya lalu pria itu pun segera pergi ke dapur dapur untuk meminum air putih sebelum dia meninggalkan rumah.
Tetapi ketika Agus keluar dari kamar, saat itulah Clarissa yang sangat kesal pada suaminya, ia dengan cepat mengambil surat-surat yang diletakkan suaminya dalam sebuah tas kecil di atas tempat tidur lalu dia mendapatkan sebuah catatan kecil yang menjadi kebiasaan suaminya menulis hal-hal penting di catatan kecil.
"Kenapa Ibu mengambil itu? Apakah ibu berniat menyusul Ayah ke ibu kota?" Tanya wasti dengan raut wajah bingungnya menatap ibunya.
"Tentu saja kita harus pergi, paling tidak jika kita pergi mungkin kita masih bisa memanfaatkan kesempatan untuk tetap tinggal di ibukota bersama-sama dengan kakakmu! Ibu sudah lelah berada di sini, setiap hari harus mengerjakan kerajinan tangan yang membuat tangan Ibu menjadi sangat kasar, dan juga kembali ke rumah masih harus mengurus makanan untuk ayahmu, Memangnya ibu tidak lelah??!" Gerutu Clarissa membuat wasti menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena dia tak menyangka bahwa ternyata ibunya memang sangat nekat.
Meski begitu, wasti tidak mengatakan apapun, dia berpikir beberapa saat sebelum berlari ke kamarnya lalu memasukkan beberapa barang-barangnya ke dalam kompor, Karena dia pikir apa yang dikatakan ibunya itu memang benar.
Asalkan mereka mengetahui alamat Dito, maka mereka bisa pergi ke depan rumah pria itu dan memaksa pria itu untuk menerima mereka masuk ke dalam rumahnya.
Namun setelah beberapa saat, ketika Agus sudah meninggalkan rumah, wasti yang telah siap dengan kopornya kini menghampiri ibunya yang saat itu sedang memasukkan barang-barang ke dalam koper.
Wasti kemudian berkata, "Tapi bu, kalau kita pergi menyusul Ayah secara diam-diam, Aku cemas Ayah mungkin akan menceraikan Ibu kalau--"
"Tidak masalah kalau pria itu menceraikan ibu, yang penting Ibu bisa tinggal di ibukota bersama dengan kakakmu, itu sudah lebih dari cukup!!!" Tegas Wasti.
"Lalu bagaimana kalau Kak Dito tidak mau menampung ibu di rumahnya?" Tanya wasti yang merasa cemas.
Pertanyaan putrinya membuat Clarissa melototi wasti, "Kau ini!! Mana mungkin kita tidak mau menampung ibu?! Ibu adalah ibu kandungnya, orang yang telah melahirkannya dan membesarkannya untuk waktu yang sangat lama, jadi meskipun ayahmu menceraikan Ibu, dia harus tetap hormat pada ibu kandungnya!!" Tegas clarissa.
Waati yang mendengarkan itu merasa bahwa ucapan ibunya memang benar, sehingga dia menganggukkan kepalanya sebelum dia berkata, "kalau begitu kita langsung pergi saja ke ibukota, lagi pula Ibu sudah mengetahui alamat apartemen Kak Dito, jadi kita bisa langsung pergi ke sana."