
Setelah Dito meninggalkan toilet, pria itu pun berjalan menghampiri istrinya yang saat itu sedang berbincang bersama dengan seorang perempuan paruh baya.
Dito yang mendekati istrinya merasa begitu gugup dan takut kalau istrinya sampai mengetahui masalah yang terjadi di depan toilet.
Dan akhirnya, saat ia menghampiri istrinya, heriani pun tersenyum ke arahnya lalu heriyani dengan cepat memperkenalkan suaminya pada perempuan yang ada di depannya.
Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum heriyani berkata, "Ayo istirahat, kakiku sudah lelah."
"Tentu," Kata Dito langsung membawa istrinya untuk duduk di kursi mereka sambil memegang tangan perempuan itu.
"Perlu ku pijat kakimu?" Tanya Dito sembari mengunlurkan tangannya untuk menyentuh kaki istrinya ketika heriani dengan cepat menghalangi suaminya.
Karena saat itu heriani tertunduk, maka wajahnya menjadi dekat dengan lengan suaminya hingga membuat perempuan itu mengerutkan keningnya saat ia mencium aroma parfum perempuan dari lengan suaminya.
Lebih parahnya lagi, itu bukanlah parfumnya, sehingga membuat heriani mengingat-ngingat apa saja yang telah terjadi.
"Ada apa?" Tanya Dito ketika dia sudah tidak lagi berusaha menyentuh kaki istrinya, namun kini ia melihat istrinya tampak menatapnya dengan tatapan dalam.
"Kau,, kau pergi ke toilet dan bertemu dengan siapa?" Tanya heriyani yang masuk ke mode cemburunya, karena dia ingat selama mereka datang di tempat itu, tidak ada satupun orang yang menggantinya untuk berada di sisi suaminya.
Apalagi sampai menempelkan bau parfum ke lengan suaminya hingga membuatnya merasa bahwa satu-satunya waktu suaminya bisa mendapatkan aroma parfum perempuan pada lengan ialah ketika pria itu pergi ke toilet meninggalkannya.
"Ah, ini,, ini,," Dito tidak bisa menyembunyikan apapun di depan istrinya dan tidak pernah berbohong di depan istrinya hingga membuatnya menjadi sangat gelisah.
Kegelisahan suaminya langsung membuat heriani menyadari ada sesuatu yang tidak beres sehingga dia berkata, "Jangan berbohong padaku, katakan apa yang terjadi saat kau pergi ke toilet?"
Dito menelan air liurnya, dan dia tidak sanggup mengatakan pada istrinya bahwa tadi di toilet seorang perempuan memeluknya dan bahkan menempelkan 'benda itu' ke lengannya.
"Aku,, aku hanya bertemu dengan beberapa orang pria yang juga menggunakan toilet," ucap Dito dengan keringat mulai membanjiri keningnya hingga membuat heriyani tentu saja tahu bahwa pria itu sedang berbohong.
Meski begitu, heriani berpura-pura menganggukkan kepalanya, "baguslah kalau hanya lako-laki saja, ada aroma Arema aneh dari lengan mu," kata heriani sambil membuang muka mengambil minuman yang terletak di meja lalu dia meminumnya sambil berpikir keras.
'Jelas-jelas itu aroma parfum wanita, dan suamiku juga menyembunyikannya, apa jangan-jangan,,' heriyani mengepal kuat tangannya, 'aku akan menyelidikinya!' ucap heriyani segera meletakkan gelas di atas meja lalu dia pun mengambil tasnya.
"Ayo kita pulang sekarang. Aku sudah lelah," ucap heriani langsung membuat Dito berdiri.
Dalam perjalanan ke rumah, Dito menyadari bahwa sikap istrinya sangat berbeda dari yang biasanya.
Perempuan itu duduk agak jauh darinya sambil bersandar memejamkan matanya, padahal biasanya perempuan itu akan menempel padanya menyandarkan kepalanya di bahunya dan tertidur sambil memeluk lengannya.
Tetapi saat ini, perempuan itu tampak menjaga jarak hingga membuat Dito menjadi sangat takut.
'Aku harus mengatakan yang sebenarnya,' ucap Dito dalam hati sambil mengepal kuat tangannya, dan dia hanya bisa diam di tempatnya sambil menunggu mobil tiba di apartemen mereka.
Saat mobil sudah tiba, Dito yang hendak membukakan pintu untuk istrinya. Tapi dia tidak bisa melakukannya karena heriani sudah membuka pintunya lebih dulu dan perempuan itu memasuki kediaman lift.
Maka Dito hanya bisa mengejar perempuan itu, Dan ketika mereka tiba di dalam lift, Dito melihat tombol pada lift belum ditekan sehingga dia pun menekan sala satu tombol yang ada di sana.
Setelah itu, Dito balik menatap istrinya, "sayangku, apa kau marah padaku?" Tanya Dito.
Heriyani menatap suaminya, "Aku tidak marah, aku hanya merasa lelah." Ucap Heryani.
"Kalau begitu nanti saat tiba di kamar, aku akan langsung memijat mu, dan--"
"Tidak usah, nanti aku pakai kursi pijat saja, lagi pula kau juga lelah, Jadi kau juga harus beristirahat," kata Kadita bersamaan dengan lift mereka yang telah tiba di lantai apartemen mereka.
Maka tanpa menunggu Dito berbicara apapun, heriani segera keluar dari lift lalu berjalan ke apartemen mereka.
Setelah menempelkan jari jempolnya pada pengaman kunci apartemen, maka heriani pun langsung berjalan menuju kamar dan pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
Dito yang melihat sikap istrinya yang begitu dengan, dia menjadi semakin cemas akan perempuan itu dan kebohongan yang ia simpan dalam hatinya membuatnya semakin tidak tenang sehingga dia dengan cepat berlari mengejar istrinya.
Setelah melihat istrinya yang sedang membuka pakaiannya, Dito berkata, "Sayang, Aku mau mengatakan sesuatu padamu, Sebenarnya tadi di toilet aku--"
"Ayo bicara Besok saja, Aku sangat lelah," kata heriyani dengan cepat memakai sebuah gaun nyaman sebelum dia keluar dari kamar ganti meninggalkan suaminya yang belum sempat mengganti pakaiannya.
Heriyani pun pergi ke sebuah ruangan di mana kursi pijat berada lalu dia duduk di sana sambil menikmati pijatan dari kursi tersebut.
Dito yang melihat istrinya sedang memejamkan matanya di kursi pijat hanya bisa berbalik untuk masuk ke kamar dan tidak berani lagi mengganggu istrinya.