
Ding dong Ding dong...!
Bel rumah yang berbunyi langsung membuat Clarisa dan wasti yang saat itu duduk menonton TV kini menoleh ke arah depan rumah.
"Siapa yang datang bertamu di rumah kita?" Ucap wasti yang merasa heran, sebab selama mereka tinggal di rumah itu, mereka belum mendapatkan satupun tamu yang datang berkunjung ke rumah mereka kecuali itu adalah teman-teman wasti dan Keisha tetapi mereka selalu datang bersama-sama.
"Ibu akan membukanya," ucap Clarissa segera berdiri lalu dia pun pergi membukakan pintu untuk tamu yang datang dan terkejut kala ia melihat bahwa yang datang ternyata ialah putranya dan menantunya.
Maka tanpa basa-basi, Clarissa segera mempersilahkan kedua orang itu masuk lalu mereka pun duduk bersama-sama.
Setelah duduk, Clarissa menatap wasti, "pergilah buatkan minuman untuk mereka," ucap Clarissa langsung membuat wasti melototkan matanya menatap ibunya.
"Ibu ini bagaimana? Sudah 2 hari kita tidak minum karena tidak ada gula! Semua itu karena Ibu menghabiskan banyak uang untuk menyambut mereka makan malam tempo hari tetapi mereka tidak datang, sekarang kita tidak punya apa-apa lagi!!" kesal Wasti yang sudah berhari-hari ini mereka berusaha menghubungi Dito, namun pria itu tak pernah mengangkat panggilan telepon, sementara kalau mereka menghubungi ayah mereka, Maka mereka hanya bisa mendapatkan kemarahan, Sebab mereka sudah ditinggalkan uang senilai 2 juta untuk biaya hidup mereka selama satu bulan
Tetapi belum cukup satu minggu, uang itu telah habis, jadi pastilah mereka mendapat omelan yang panjang dari Agus yang memang saat ini juga sedang tertekan.
Dito yang mendengarkan ucapan ibunya pun jadi sangat terkejut, ia segera berkata, "tidak perlu menyiapkan minuman, kami juga membawa makan siang, Bagaimana kalau kita makan siang dulu?"
Clarissa langsung bersemangat kala ia melihat putranya sudah menyerahkan paper bag yang tadi dibawa oleh putranya.
"Baiklah, kalau begitu biar Ibu siapkan dulu, kalian tunggu di sini sebentar," ucap Clarissa merasa sangat senang, karena akhirnya mereka bisa makan enak.
Setelah ibunya pergi, maka wasti kembali lagi menatap dua orang yang ada di depannya, "Aku berkali-kali menelpon Kakak, tapi kakak tidak pernah mengangkat teleponku! padahal, kakak ditugaskan oleh ayah untuk menjaga kami semua, dan sekarang kami benar-benar menderita kelaparan! Namun kami tidak bisa pergi ke rumah itu untuk meminta bantuan!! Seandainya hari ini kakak tidak datang, maka kami semua akan mati kelaparan!!" Bentak Wasti yang merasa kesal pada dua orang di depannya.
Dito pun mengerutkan keningnya, ia mengambil ponselnya dan mengecek ponselnya, di mana memang ada banyak panggilan masuk ke ponselnya tetapi tak pernah diangkat. Namun dia juga tidak ingat kalau ponselnya pernah bergetar berdering atau menyampaikan adanya panggilan tak terjawab hingga membuat pria itu kebingungan.
Wasti sangat terkejut, bahkan Clarissa yang mendengar ucapan heriyani langsung berlari dari ruang makan dan menatap putranya dengan sangat cemas.
"Kau terluka? Bagaimana bisa kau terluka?!" Tanya Clarissa.
Dito tersenyum tipis, "tidak apa-apa, hanya luka kecil saja," ucap Dito.
"Benarkah?" Clarissa sangat panik.
"Iya betul Bu, suamiku hanya terluka sedikit saja, biar aku membantu ibu menyiapkan makanan di meja makan," ucap heriani segera berdiri lalu dia pun bersama-sama dengan Clarissa kembali pergi ke meja makan.
Wasti ikut menyusul kedua orang itu hingga ketiga perempuan itu pun berada di ruang makan dengan Dito yang duduk di sofa sambil menonton TV.
Saat tengah merapikan makanan di atas meja, Clarissa pun menatap menantunya sambil berkata, "Sepertinya kau hidup dengan enak, kau makan makanan yang baik di kediaman utama keluarga Romania, sangat berbeda dengan kami yang kekurangan makanan di sini!!!"
Melihat ibunya mertuanya berbicara dengan sangat pelan, maka heriyani tidak berniat untuk bekerjasama memelankan suaranya, heriani berkata, "ya, kami makan dengan sangat baik, tapi Oh ya bu, Bukankah seharusnya saat ayah mertua pergi dia meninggalkan uang bulanan untuk kalian? dia memberitahu suamiku tentang itu lewat pesan, dan Dia menyuruh suamiku untuk tidak memberikan kalian uang bulanan selama 1 bulan terakhir ini. Tapi bagaimana bisa kalian--"
"Diam!!" Bentak Clarissa yang tak menyangka bahwa ternyata menantunya mengetahui hal tersebut, bahkan putranya juga mengetahui hal itu hingga membuatnya tidak bisa berkutik lagi.
Meskipun sangat terkejut, dan ia hendak berbicara ketika tiba-tiba saja Dito sudah muncul di ruang makan.
"Apa yang dikatakan istriku itu benar, ayah memberi pesan pada kami kalau dia meninggalkan uang senilai 2 juta untuk biaya hidup kalian selama satu bulan. Aku rasa itu sudah cukup untuk Kalian bertiga, Karena Kalian tidak perlu membayar sewa rumah dan juga rumah ini dekat dengan kampus, jadi tidak perlu banyak biaya untuk pergi ke sana. Bukankah di samping juga ada sepeda? Kalian disuruh memakai sepeda itu bukan?!!" Ucap Dito langsung membuat Clarissa dan wasti tak mampu berkata apa-apa.
Ternyata dari awal rencana mereka memang sudah tidak berjalan dengan lancar!!