
Ada perasaan tidak enak di hati Bintang saat melihat kepergian Bima. Namun apa mau di kata terkadang cinta memang egois.
Kita tidak mungkin memaksakan hati kita untuk mencintai seseorang saat hati kita sudah memilih satu nama untuk bersemayam di sana.
Bintang menghela napasnya panjang.
"Kayaknya berat banget", suara Itu mengagetkan Bintang.
" Ternyata kalian"
"Maaf kita telat,maklum tadi bumil mintanya macam-macam" kata Ana sambil mendudukkan dirinya di bangku sebelah Bintang.
"E...kok aku sih,bukannya kamu ya yang tadi minta ketemu dulu sama dokter tampan kamu itu", sergah Dewi.
" Ya deh iya aku yang salah.Harusnya kamu Itu maklum akukan nggak bisa tiap hari ketemu sama yayang Alex. Nggak kaya kalian yang bisa ketemu yayang kalian tiap hari ",Ana berusaha membela diri.
" idiihh curhat,kalau mau curhat sono sama mamah dedeh",kata Dewi.
"Lho Bi,ini bakso siapa kok nggak di makan?emang kamu sudah pesen duluan ya?" tanya Ana saat melihat ada semangkuk bakso di meja mereka.
"itu milik Kak Bima"
"What!?!", teriak Ana dan Dewi barengan.
" Apaan sih kalian,bikin telinga aku mau pecah saja"kata Bintang sambil menutup telinganya.
"Kalian ketemuan?" tanya Dewi.
"Hei, tolong di garis bawahi ya aku nggak ketemuan sama dia cuma kebetulan ketemu disini.KEBETULAN catet ya" jawab Bintang dengan menekankan kata kebetulan.
"iya-iya,kamukan sekarang cinta matinya sama Pak Rangga.Ups keceplosan" kata Ana kemudian membungkam mulutnya sendiri.
Bintang terdiam.
"Emang kelihatan banget ya?" tanya Bintang kepada kedua temannya.
"Jadi kamu beneran sudah jatuh cinta lagi sama Pak Rangga?" tanya Dewi.
"Sudah-sudah jangan bicarakan itu lagi.Sekarang kalian mau pesen apa?"tanya Bintang kepada kedua temannya.
" Pak Samad, sini"panggil Bintang.
"Wah,Neng-neng cantik dah pada kumpul nih."
"Pak kita pesen yang seperti biasanya ya"
"Bakso super pedas sama es teh manis kan?" tanya Pak Samad.
"Bapak masih inget saja kesukaan kami" jawab Ana.
"Tunggu sebentar ya Neng", Pak Samad meninggalkan meja mereka bertiga.
*****
Rangga yang awalnya tidak ingin ke kantor memutuskan pergi ke kantor.
Setelah tahu orang yang di temui Bintang adalah Bima,perasaannya jadi sedikit kacau.
Dia lebih memilih melampiaskan emosinya pada pekerjaan.
" Pak sudah sampai "kata sang pengemudi taksi online.
" oh",Rangga keluar setelah memberikan dua lembar uang seratus ribuan.
"Pak,ini kebanyakan.Biayanyakan cuma lima puluh ribu".
" Ambil saja buat Bapak", jawab Rangga.
Dengan perasaan galau,Rangga berjalan menuju ruang kerjanya.
"siang Pak"
"siang Pak"
Sapa setiap karyawan yang berpapasan dengannya.Rangga hanya membalasnya dengan senyuman.
Akhirnya dia tiba juga di ruangannya,Rangga mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.
Rangga menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil memejamkan matanya.
"Ngga,bukannya kamu bilang hari ini nggak datang ke kantor ya?", tanya seseorang yang tiba-tiba masuk di ruangannya.
Siapa lagi orang yang berani masuk ke ruang kerja bosnya tanpa izin selain Nando.
" Hei, bukannya ketuk pintu langsung nerobos aja kamu.Benar-benar tidak punya sopan santun sama Bos",kata Rangga.
"ya ya sorry" ucap Nando seraya duduk di depan Rangga.
"Kenapa? kelihatannya mood kamu sedang jelek"
"Apa aku harus melepaskan Bintang ya",
Nando terkejut mendengar ucapan bosnya tersebut.
" Kenapa lagi? "tanya Nando.
" Barusan Bintang ketemuan sama si Bima. Aku jadi bingung harus bersikap bagaimana."
"Memang kamu sudah tidak mencintai Bintang lagi?"
"Masih lah,bahkan setiap hari aku semakin jatuh cinta padanya" jawab Rangga.
"Terus kenapa kamu berfikir buat nglepasin dia?" tanya Nando.
"Ya..aku merasa seperti orang jahat, yang memisahkan orang yang saling mencintai".
" Memang kamu yakin kalau Bintang mencintai Bima?"
Rangga diam.
"Terus bagaimana dengan kedua anakmu?Apa mereka harus kehilangan ibu mereka?"
lagi-lagi Rangga diam.
"Rangga, jadi segitu saja usahamu buat mendapatkan cinta Bintang?
Kamu tidak ingat bagaimana usaha Bintang untuk mendapatkan cintamu dulu?Dia bahkan rela kamu bentak setiap hari.
Dia juga tetap bersabar meski awalnya kamu tidak pernah menganggap dia sebagai istri."
Tiba-tiba saja Rangga bangkit dan berjalan keluar meninggalkan Nando.
"Hei mau kemana kamu?" tanya Nando sedikit berteriak.
Rangga berjalan sambil melambaikan tangannya.
"Kebiasaan" gumam Nando sambil menatap kepergian Rangga.
*****
Bintang tiba di rumah pukul dua siang.Dia menghentikan langkahnya saat melihat Rangga berdiri di depan pintu dengan bersandar di daun pintu.
"Kenapa berdiri di sini?" tanya Bintang
"Dari mana kamu?"
"Aku..."
Belum sempat Bintang menjawab, Rangga sudah memeluknya dengan sangat erat.
"Jangan pergi! Jangan pernah tinggalkan aku".
" Pak Rangga, kenapa Bapak tiba-tiba bicara seperti ini? "tanya Bintang bingung.
" Jika kamu belum mencintaiku tidak apa-apa. Tapi tetaplah di sisiku,jangan pergi kemanapun", pinta Rangga.
Sebenarnya tadi setelah dari kantornya,Rangga pergi ke hotel tempat Bima menginap.
Dia menemui Bima untuk menanyakan alasan Bima menemui istrinya.
Bima tidak berniat menjelaskan apapun pada Rangga, dia hanya bilang kalau sebenarnya dia ingin membawa Bintang ikut bersamanya.
Ketika Rangga menanyakan apa Bintang bersedia ikut dengannya,dengan santainya dia menyuruh Rangga untuk menanyakan sendiri kepada Bintang.
Entah kenapa Bintang merasakan sesak si dadanya.Dia jadi merasa bersalah karena telah membohongi suaminya itu.
"Aku...aku ingin mengatakan sesuatu padamu".
Rangga melepaskan pelukannya dan menatap mata istrinya itu.
" Apa?"tanya Rangga.
Entah kenapa Rangga merasa menjadi seorang pecundang saat ini.Dia takut dengan apa yang akan Bintang katakan.
"Aku..sebenarnya aku..."
"Jangan katakan apapun karena aku belum siap mendengarnya", sela Rangga.
Rangga merasa takut kalau kenyataannya Bintang bersedia pergi dengan Bima.
" Tapi Kamu harus tahu kalau aku..."
"Aku akan menjemput anak-anak di rumah Kak Tari. Kita bicara lain kali"
Rangga meninggalkan Bintang yang masih berdiam di tempatnya semula.
"Mas,aku ingin bilang kalau aku sudah mengingat semuanya.Aku tidak ingin membohongimu lagi"
Bintang hanya bisa mengatakan hal itu di dalam hati karena Rangga tidak memberinya kesempatan.
Rangga sudah bersiap untuk menjemput kedua anaknya di rumah Mentari,Namun saat dia hendak membuka pintu mobilnya ada sebuah mobil yang memasuki halaman rumahnya.
Dan dia sangat mengenali pemilik mobil tersebut.
"Baru saja aku mau menjemput mereka kamu sudah kesini mengantarnya", Kata Rangga pada sang pemilik mobil.
"mereka sudah tidak sabar ingin pulang" jawab Juan.
Mobil yang memasuki halaman rumahnya adalah mobil Juan.Dia datang untuk mengantar Tama dan Mikha.
"Anak-anakmu ketiduran di dalam mobil,mungkin mereka kecapekan".
" Aku bawa mereka ke kamar dulu,nanti kita ngobrol sebentar "suruh Rangga.
Rangga menggendong anaknya satu persatu ke luar dari mobil dan memindahkannya ke kamar mereka.
Sementara Juan dia duduk di ruang tengah di temani Bintang.
" Kamu sudah bilang soal ingatanmu pada Rangga? "tanya Juan.
Bintang menggelengkan kepalanya.
Bintang menarik napas dalam-dalam kemudian menghempaskannya perlahan.
" Tadinya aku berpura-pura belum ingat apapun hanya untuk memberinya hukuman karena dia tidak jujur padaku soal Lyvia, tapi..."
Bintang menghentikan perkataannya saat melihat Rangga menatapnya dengan tatapan tajamnya.
Dia berjalan mendekati Bintang sambil bertepuk tangan.
"Wah,ternyata istriku benar-benar hebat ya.Dia tega membohongi suaminya hanya untuk memberinya hukuman"
"Mas aku..."
Rangga berdiri tepat di hadapan Bintang.
"Apa kamu tahu? saat kamu kecelakaan itu adalah hukuman terbesar bagiku.
Sejak saat itu aku selalu menyesali perbuatanku.
Dan saat dokter mengatakan kamu koma,itulah hukuman kedua untuk ku.
Saat itu aku berharap akulah yang berada di posisimu.Dan ketika kamu sadar tapi tidak mengingatku,itu juga hukuman untukku.
Lalu hukuman apalagi yang ingin kamu berikan padaku? Apa semua itu belum cukup?"
"Mas,aku minta maaf", ucap Bintang sambil mencoba menyentuh tangan Rangga, tapi di tepis dengan kasar oleh Rangga.
" Aku kecewa padamu",Rangga mengucapkan kata-kata itu penuh penekanan.
"Rangga,Bintang hanya..."
tatapan Rangga membuat Juan bungkam.
Rangga menatap istri dan kakak iparnya itu bergantian,kemudian dengan keadaan emosi dia meninggalkan rumahnya.