Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 192


Rangga tidak menjawab pertanyaan istrinya, pandangannya menatap ke arah satu alat di dalam mobil miliknya.


"Ya ampun, Mas. Kok bisa sih sampai bensinnya kehabisan," kata Bintang setelah mengikuti arah pandangan suaminya, yang ternyata melihat ke arah fuel meter mobilnya.


"Semalam aku lupa ngecek. Maaf ya, Sayang!" ucap Rangga.


Bintang hanya menggelengkan kepalanya.


"Lalu bagaimana kita akan pergi sekarang?" tanya Bintang lagi.


"Terpaksa kita beli bensin dulu, atau kamu mau kita pakai mobil yang lain?" Rangga balik tanya.


"Tidak usah, lebih baik Mas beli bensin saja dulu," jawab Bintang.


"Yah... Daddy," gerutu kedua anak kembar mereka.


Semuanya pun kembali turun dari dalam mobil.


"Lho, kenapa turun?" tanya Mia yang masih berdiri di tempat semula.


"Daddy lupa isi bensin, Grandma," jawab Tama.


"Tumben sekali daddy kalian ceroboh, biasanya dia selalu mempersiapkan segalanya dengan baik," kata Mia.


"Mungkin karena dia terlalu bersemangat, Mi," tambah Ratih.


Akhirnya Rangga menyuruh sopir untuk membelikan bahan bakar mobilnya. Setelah bahan bakar terisi penuh, Rangga dan yang lainnya kembali masuk ke dalam mobil. Rangga mulai menyalakan mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


*****


Jam 4 kurang 10 menit, Mia dan Yuna sudah menunggu ke datangan Harry dan Dinda di bandara. Cukup lama mereka menunggu di depan pintu ke luar penumpang. Dan akhirnya orang yang mereka tunggu datang juga.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Mia begitu anak dan menantunya sudah berada di hadapannya.


"Alhamdulillah baik, Ma," jawab Harry.


"Kabar Mama dan Ibu sendiri bagaimana?" Harry balik tanya.


"Kami juga baik, iyakan Yuna?" jawab Mia.


"Iya, Harry. Kami benar-benar tidak sabar ingin mendapatkan kabar baik dari kalian," ujar Yuna.


"Mudah-mudahan ya Ma, Ibu, semoga cepat ada hasil," jawab Dinda sedikit malu-malu.


"Ayo, kita pulang! Kakakmu sudah menunggu di rumah!" seru Mia.


"Bukannya Mama bilang, Kak Rania sedang berada di Berlin kemarin?" tanya Dinda. Karena seingat Dinda kemarin mamanya bilang kalau Rania sedang berada di Berlin untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di sana.


"Dia baru pulang siang tadi," jawab Mia.


"Lalu Bintang? Dia jadi pergi ke desa?" tanya Dinda sekali lagi.


"Tadi pagi mereka berangkat, mungkin saja mereka sudah sampai. Nanti kita hubungi mereka ketika kita sampai di rumah," jawab Mia.


Mia dan yang lainnya segera berjalan meninggalkan bandara dan pulang ke rumah kediaman keluarga Wijaya.


******


(Di kediaman keluarga Wijaya)


Rania sudah mempersiapkan pesta kecil untuk menyambut ke pulangan adik dan adik iparnya. Dengan di bantu oleh Erik, dia mempersiapkan beberapa menu untuk melengkapi pesta kecil mereka.


"Sepertinya sudah pas," ucap Rania setelah menyiapkan segala hidangan yang dia buat di atas meja.


"Kamu benar-benar istri idaman. Tidak hanya pintar dalam berbisnis ternyata kamu juga sangat pandai memasak," puji Erik kepada calon ibu dari anak angkatnya, Leon.


"Terimakasih atas pujian," ucap Rania.


"Mami, kapan auncle Harry akan sampai?" tanya Leon kepada mami angkatnya tersebut.


"Sebentar lagi, Sayang," jawab Rania.


'Tin tin'


Bunyi klakson mobil dari luar rumah ruamah.


"Mungkin itu mereka," kata Rania.


Rania, Erik dan Leon segera ke luar untuk menyambut kedatangan adik mereka.


"Terimakasih ya Kak, buat sambutannya," ucap Harry.


"Ayo, masuk!" Rania mempersilahkan mereka semua masuk ke dalam rumah.


"Kalian berdua mandi dulu, setelah itu kita makan bersama. Tadi aku sudah memasak makanan untuk kita semua," kata Rania lagi.


"Sekali lagi terimakasih ya, Kak. Aku dan Mas Harry jadi merepotkan Kakak," ucap Dinda.


"Jangan sungkan begitu, kita inikan keluarga," jawab Rania.


Dinda dan Harry segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Kemudian keduanya kembali ke luar dan bergabung dengan keluarga yang lain di ruang keluarga.


*****


Sementara itu, Rangga dan yang lainnya sudah tiba di desa setelah hampir 8 jam perjalan. Saking lamanya, Tama dan Mikha sampai ketiduran ketika tiba di tempat tujuan. Padahal awal perjalanan mereka berdualah yang paling tidak bisa untuk diam. Hampir setengah dari perjalanan tersebut, di habiskan oleh kedua bocah kembar itu dengan bertanya tentang hal-hal yang belum pernah mereka lihat.


Mobil sport berwarna hitam itu, berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sangat sederhana. Ratih terlebih dulu turun dari dalam mobil, diikuti Bintang di belakangnya. Sementara Rangga, dia mengeluarkan bawaan mereka dari dalam bagasi mobil.


Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah tersebut, dia adalah orang yang selama ini membantu Ratih menjaga rumah miliknya. Sejak kematian ibu Ratih yang tak lain adalah nenek Bintang, wanita itulah yang selalu menjaga dan merawat rumah tersebut.


Wanita itu berjalan mendekat ke arah mereka.


"Bagaimana kabarmu, Tih?" tanya wanita itu.


"Alhamdulillah baik, Mbak. Mbak Susi sendiri, bagaimana kabarnya?" jawab Ratih sembari bertanya.


"Aku juga baik," jawab wanita paruh baya yang bernama Susi.


"Ini Bintangkan? Anakmu yang waktu itu menikah dengan orang kaya, dan sekarang sudah menjadi dokter?" tanya Susi ketika melihat Bintang.


"Iya, Uwa. Aku Bintang," jawab Bintang di sertai senyum terbaiknya.


"Sayang, di mana aku bisa menidurkan anak-anak?" tanya Rangga yang masih berada di dekat pintu mobil.


"Di kamar depan, Mas. Mas gendong Tama, biar nanti aku yang menggendong Mikha," jawab Bintang.


Bintang kembali menghampiri mobil suaminya.


"Mas angkat Mikha ke luar dari dalam mobil, nanti biar aku yang menggendongnya ke dalam," seru Bintang.


Rangga menuruti perkataan istrinya untuk mengangkat putri kecilnya itu ke luar dari dalam mobil. Namun gadis itu terbangun sebelum Rangga mulai menggendonya.


"Apakah sudah sampai Daddy?" tanya Mikha ketika dia membuka matanya.


"Sudah, Sayang. Kita sudah sampai," jawab Rangga. Selang sedetik kemudian giliran anak laki-lakinya yang terbangun.


Pertanyaan yang sama juga di lontarkan oleh Tama saat dia membuka matanya.


"Apa ini sudah sampai Daddy?" tanya Tama.


"Iya, Sayang. Kita sudah sampai," jawab Rangga lagi.


Kedua bocah itu pun ke luar dari dalam mobil dengan di bantu oleh daddy mereka.


"Ohya, Wa. Kenalkan, ini anak-anakku namanya Tama dan Mikha. Tama, Mikha, ayo beri salam kepada Nek Susi!" seru Bintang kepada kedua anaknya.


"Apa kabar, Nek Susi. Aku Mikha," ucap Mikha seraya mencium punggung tangan wanita yang ia panggil, Nek Susi.


"Aku Tama," Tama ikut-ikutan memperkenalkana diri. Dia pun mengikuti saudara kembarnya mencium punggung tangan wanita itu.


"Wah, anak-anakmu pintar ya, Bi," puji Nek Susi.


Mereka pun segera masuk ke dalam ruamah yang sangat sederhana tersebut. Rangga meletakkan barang-barang pribadi mereka di kamar depan. Sementar barang bawaan yang berupa oleh-oleh, dia taruh di dekat sofa yang ada di dalam rumah tersebut.


Malam harinya, Bintang dan yang lainnya bercengkerama dengan kerabat yang lain. Cukup lama mereka berbincang, dan mereka baru tidur ketika jam menunjukkan pukul 11 malam.


*****


Keesokan harinya, Bintang dan Rangga memutuskan untuk melihat ke lokasi proyek tempat pembangunan rumah sakit. Mereka ingin memastikan sudah sejauh mana proyek tersebut berjalan.


Namun, ketika sampai di lokasi proyek keduanya tercengang melihat suasana yang terjadi di lokasi proyek.


"Apa-apaan ini!?!" bentak Rangga.


Wajah Rangga merah padam menyaksikan pemandangan di depannya. Bahkan amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun. Dia menatap satu-satu persatu orang yang sedang berada di depannya dengan tatapan yang mematikan. Tatapan yang membuat semua orang yang berdiri di depannya ketakutan.


➡️ Jangan lupa like, komen dan vote nya ya😁😁😁!