Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 196


Tawa keduanya terhenti ketika mendengar teriakan dari kedua anaknya.


"Mommy ... Daddy..."


Bintang dan Rangga segera menuju ke tempat di mana ke dua anaknya berada. Keduanya benar-benar takut terjadi sesuatu dengan kedua anak mereka. Namun rasa cemas yang mereka rasakan seketika sirna, mana kala mereka melihat kedua anaknya baik-baik saja, bahkan sangat baik. Malahan saat ini keduanya sedang berebut kipas karena ingin membantu Uwa Susi yang sedang membakar jagung. Dan suara teriakan itu terjadi karena keduanya sama-sama tidak mau mengalah.


"Biar Mikha yang ngipasin, sini!" teriak Mikha dengan tangan yang masih memegang gagang kipas yang terbuata dari bambu itu.


"Kamu itu cewek, biar aku yang melakukannya," tukas Tama yang tak mau kalah. Tangannya juga sama, sama-sama sedang memegang gagang kipas yang juga sedang di pegang oleh Mikha.


"Biar Mikha saja,"


"Tama saja,"


"Mikha,"


"Tama,"


Mereka saling tarik menarik gagang kipas tersebut.


Dan keduanya sama-sama melepaskan gagang kipas tersebut, ketika melihat tatapan tajam mommynya.


"Mommy, Mikha cuma mau membantu nenek Susi," kata Mikha dengan nada manja yang selalu dia ucapkan.


"Tama juga mau membantu nek Susi," kata Tama.


Bintang berjalan mendekati kedua anaknya dan berjongkok di depan mereka.


"Sayang, kenapa harus berebut? Ini apa?" kata Bintang seraya mengambil sesuatu di belakang mereka, dan sesuatu tersebut adalah kipas bambu yang sama seperti kipas bambu yang mereka perebutkan tadi.


"Tapi itu jelek, Mikha maunya yang itu," jawab Mikha sambil menunjuk kipas bambu yang mereka jatuhkan tadi.


"Tama juga tidak mau yang itu," imbuh Tama.


"Kalau mereka mau, sudah Uwa tawarkan pada mereka dari tadi, tapi kedua anakmu ini malah memilih yang itu untuk di perebutkan," ujar Uwa Susi.


"Baiklah. Tama, Mikha, dan Uwa Susi, tinggalkan saja bakar jagungnya. Biar Mas Rangga yang melanjutkan!" seru Bintang.


Bintang menatap suaminya sembari tersenyum.


"Baiklah, biar Daddy yang menyelesaikan ini," jawab Rangga.


"Yey yey yey, Daddy bakar jagung. Yey," sorak kedua anak itu.


Akhirnya Rangga menggantikan Uwa Susi untuk membakar jagung.


Para tetangga sudah pulang, karena memang hari sudah terlalu larut. Namun di dalam rumah yang sederhana itu, masih terdengar perdebatan kecil di antara dua anak bersaudara, siapa lagi kalau bukan Tama dan Mikha. Dan kali ini yang mereka perebutkan adalah bantal guling yang dulu di pakai oleh ibu mereka ketika masih kecil.


"Tama, kamu pakai guling itu. Guling ini buat Mikha," ujar Mikha.


"Kamu saja yang pakai itu, biar aku yang memakai guling ini," tukas Tama.


"Ini buat Mikha,"


"Buat Tama,"


"Mikha,"


"Tama,"


Keduanya kembali saling tarik menarik berebut bantal guling.


"Tama, Mikha, apa lagi yang kalian ributkan?" tanya Bintang ketika dia masuk ke kamar kedua anaknya.


Bintang mengambil bantal guling yang di perebutkan oleh kedua anaknya.


"Guling ini, Mommy yang pakai. Jadi jangan ribut lagi karena ini sudah malam, oke!" seru Bintang.


Mikha dan Tama saling tatap sejenak, kemudian keduanya menjawab, "oke, Mommy."


Bintang menyuruh kedua anak kembarnya untuk berbaring, kemudian dia membantu memasang selimut untuk kedua anaknya. Dan sebelum keluar dari kamar, tidak lupa dia memberikan ucapan selamat malam kepada ke duanya.


"Good night, Sayang. Moga mimpi indah," ucap Bintang kepada keduanya sembari memberikan kecupan kecil di kening keduanya.


"Good night too, Mommy," ucap keduanya. Bintang melangkahkan kakinya meninggalkan kamar kedua anaknya. Sebelum ke luar tidak lupa dia mematikan lampu kamar mereka.


*****


"Anak-anak sudah tidur, Sayang?" tanya Rangga ketika melihat istrinya masuk ke dalam kamar.


Bintang merangkak naik ke atas ranjang dan duduk di samping suaminya.


"Aku betul-betul heran dengan kedua anak kita, Mas. Tiap hari selalu saja ada yang mereka ributin," keluh Bintang kepada suaminya.


"Makanya, kita buatkan adik yang banyak untuk mereka, biar mereka tidak rebutan lagi," goda Rangga.


"Apa hubungannya kebiasaan mereka yang selalu ribut dengan adik yang banyak?" tanya Bintang kepada suaminya.


"Tentu saja ada, Sayang," jawab Rangga.


Bintang menatap suaminya, dia masih belum mengerti dengan maksud dari ucapan suaminya barusan.


"Kalau adik mereka cuma satu, aku yakin mereka akan berebut untuk menggendongnya. Jadi kita harus berusaha Sayang, agar secepatnya mereka memiliki adik," kata Rangga lirih.


Rangga mulai memberikan sentuhan-sentuhan kecil pada tubuh istrinya, sentuhan yang mampu membangkitkan gairah pada diri Bintang. Sentuhan itu berubah menjadi panas ketika Rangga mulai bermain menggunakan mulutnya. Perlahan tapi pasti keduanya hanyut dalam permainan panas tersebut. Permainan yang sengaja mereka lakukan untuk memberikan adik kepada ke dua anak kembarnya.


*****


Hari berikutnya...


Pagi itu Uwa Susi dan Ratih berniat mengajak Mikha dan Tama untuk berbelanja di pasar tradisional. Mereka ingin memperkenalkan seperti apa pasar tradisional kepada dua bocah kembar tersebut. Selama ini dua bocah kembar itu belum pernah sekalipun di ajak pergi ke pasar tradisional.


"Tama dan Mikha beneran mau ikut Nenek ke pasar?" tanya Bintang kepada kedua anaknya, ketika mereka sedang sarapan di ruang tengah.


"Iya, Mommy," jawab Mikha dengan mulut yang masih penuh.


"Ingat, ketika di pasar nanti kalian tidak boleh nakal. Kalian harus menurut dengan Nenek Ratih dan Nenek Susi!" seru Bintang kepada dua anak kembarnya.


"Iya, Mom. Kami pasti akan menuruti perintah Nenek Ratih dan Nek Susi," kini giliran Tama yang menjawab.


"Bintang, kamu mau membeli oleh-oleh apa untuk di bawa pulang ke kota?" tanya Ratih.


"Terserah ibu saja, lagian Ibu pasti lebih paham dengan kesukaan Mama," jawab Bintang.


"Lho memang kalian sudah mau kembali ke kota lagi?" tanya Uwa Susi.


"Iya, Uwa. Aku tidak bisa meninggalkan pasienku terlalu lama," jawab Bintang.


"Kalau Uwa mau, Uwa bisa ikut Kami ke kota besok," imbuh Rangga.


"Terimakasih, Nak. Tapi Uwa di sini saja, Uwa akan kembali menjaga rumah kalian ini," tutur Uwa Susi.


"Kalau itu yang Uwa inginkan aku tidak akan memaksa," kata Rangga.


"Terimakasih ya, Nak atas pengertiannya," ucap Uwa Susi.


"Seharusnya Kami yang bilang begitu kepada Uwa Susi," kata Rangga lagi.


"Hari ini aku dan Mas Rangga akan ke lokasi proyek, mungkin Kami akan pulang agak sore. Karena ada beberapa urusan yang harus Kami selesaikan sebelum Kami kembali," ujar Bintang.


"Tidak apa-apa, Nak. Selesaikan saja urusan di sana dengan baik. Dan soal si kembar biar ibu dan Uwa Susi yang menjaga mereka," kata Ratih lembut.


"Makasih ya, Bu," ucap Bintang.


Ratih menjawabnya dengan sebuah senyuman.


*****


Pukul sembilan pagi, Bintang dan Rangga sudah berada di lokasi proyek. Mereka merasa puas dengan kinerja yang di tunjukkan oleh para pegawainya.


Dan sebagai ucapan terimakasihnya kepada semua pekerja, Rangga memberikan bonus dua kali lipat dari biasanya.


*****


Di pasar tradisional....


Mikha dan Tama begitu menyukai pengalaman baru yang mereka rasakan. Apa lagi pengalaman pertama mereka menaiki delman tadi. Ya, mereka semua menuju pasar dengan naik delman.


Begitu sampai di pasar, mereka turun dan mulai memasuki area pasar. Mereka mulai mencari barang yang ingin mereka beli.


Ratih dan Uwa Susi mulai melihat-lihat ke sekeliling pasar. Dan mereka berhenti tepat di depan sebuah lapak yang menjual aksesoris tradisional buatan penduduk desa. Mereka mulai melihat-lihat aksesoris yang di jual oleh pedagang di lapak tersebut. Namun keduanya seketika berhenti memilih saat menyadari kedua cucu kembarnya tidak ada di sampingnya.


Ratih dan Uwa Susi mulai panik dan mencari kedua bocah kembar itu. Mereka berkeliling seraya berteriak memanggil nama kedua cucu kembar mereka.


"Tama...Mikha..,"


🌹Berikan like, komen dan vote sebanyak-banyaknya! Trimakasih😘😘