
Rangga menghampiri Bintang yang masih terbaring tak sadarkan diri di bangsal rumah sakit.
Dia duduk di samping bangsal sambil menggenggam tangan istrinya itu.
"Bintang kamu kenapa? Bangunlah! Aku tidak tahan melihatmu seperti ini" kata Rangga dengan suara lirih.
Dia akan terlihat sangat lemah jika itu menyangkut orang yang dia cintai, terutama istrinya.
"Bagaimana kondisi Bintang, Nak?" tanya Mia yang baru saja masuk ke ruang di mana Bintang di rawat.
"Dia masih belum sadar Ma," jawab Rangga.
"Bintang adalah wanita yang kuat, dia pasti akan baik-baik saja".
" iya,Ma.Semoga saja Bintang cepat sadar ",jawab Rangga.
Dia terus menggenggam tangan istrinya itu sambil menatap wajah istrinya yang masih setia terpejam.
" Bagaimana keadaan Tama dan Mikha? Maaf kan Rangga ya Ma,karena Rangga membuat repot mama"ucap Rangga.
"Tama dan Mikha baik, mereka sempat sedih saat mendengar mommy nya pingsan dan memaksa ingin ke sini.
Untungnya ada baby Juno,jadi mereka sedikit terhibur".
" Apa kamu begitu mencintai Bintang, Nak?"tanya Mia.
"Melebihi nyawaku sendiri" jawab Rangga.
"Seandainya ingatan Bintang tidak kembali,apa kamu masih akan tetap mencintai dia?"
"Selamanya aku akan mencintai Bintang. Dan jika memang ingatan Bintang tidak bisa kembali, maka aku akan membuat kenangan baru bersamanya.Kenangan yang akan dia ingat sepanjang hidupnya."
Mia tersenyum mendengarnya.
Tidak lama kemudian, Bintang mulai menggerakkan jari-jarinya.
Rangga yang merasakan itu segera bergegas memanggil Juan.
Juan mulai memeriksa keadaan Bintang.
"Semuanya baik" kata Juan setelah selesei memeriksa.
"Bintang,apa kamu mengingat sesuatu?" tanya Juan.
Bintang hanya menggelengkan kepalanya.
"Tadi kenapa kamu bisa pingsan? Apa ada hal yang membuatmu shock?" tanya Juan lagi.
Bintang kembali menggelengkan kepalanya.
"Kalau ada sesuatu yang kamu ingat tolong beri tahu aku", suruh Juan.
Bintang menjawabnya dengan anggukan.
Bintang menepis tangan Rangga saat Rangga ingin menyentuh tangannya.
" Dokter,Aku ingin istirahat. Suruh semua orang keluar dari ruanganku",pinta Bintang kepada sang Dokter.
Juan menatap ke arah Rangga. Rangga menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Bintang, Aku akan pergi sebentar. Aku akan berada di sini saat kamu bangun nanti" ucap Rangga.
Bintang tidak mengatakan sepatah katapun.Dia malah memalingkan wajahnya dari Rangga.
Rangga berfikir mungkin Bintang masih marah padanya karena kejadian saat dia bangun tidur pagi tadi.
Dia keluar dari ruangan Bintang dan membiarkan Bintang sendirian untuk beristirahat.
Ketika semua orang sudah pergi dari ruangannya,Bintang bangun dari posisi dia tidur.
Dia menghela napasnya panjang. Dia keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ke suatu tempat.
Setelah meminta izin kepada polisi penjaga.Bintang masuk ke ruangan di mana seorang wanita cantik dengan tubuh kurus,mata yang agak cekung sedang terbaring lemah.
Dia menatap wanita itu prihatin. Apalagi ketika dia mendengar dari polisi kalau wanita itu tidak mau di operasi saat mendengar dirinya kecelakaan.
"Bintang", panggil wanita itu dengan suara lemah.
Bintang tidak menjawab, dia menatapnya sekilas.
"Kenapa kamu menolak untuk di operasi,Lyvia?" tanya Bintang.
Wanita yang di temui Bintang adalah Lyvia, mantan kekasih suaminya.
"Apa ingatanmu sudah kembali?"
"Iya,aku ingat semuanya.Bahkan aku juga mengingat saat kamu dan suamiku berpelukan", jawab Bintang dengan wajah datar.
" Bintang, kamu salah paham.Rangga memelukku ..."
"Lakukan operasimu" sela Bintang sebelum Lyvia menyelesaikan kata-katanya.
"Apa?"
"Aku bilang lakukan operasimu! Jangan jadikan kecelakaan yang menimpaku sebagai alasan dirimu menolak untuk di operasi.Karena aku tidak ingin merasa bersalah padamu" Bintang mengatakan itu dengan menatap Lyvia tajam.
"Jika itu keinginanmu baiklah,aku akan melakukan operasi itu secepatnya. Tapi Bintang, kamu harus percaya kalau orang yang di cintai Rangga saat ini hanyalah dirimu.
Waktu itu dia memeluk ku sebagai salam perpisahan "
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hubunganku dengan suamiku,karena itu bukan urusanmu."
"Maafkan aku" ucap Lyvia lagi.
Bintang tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat Lyvia. Namun sebelum pergi dia mengatakan sesuatu.
"Aku mengizinkanmu untuk bertemu dengan suamiku saat operasimu berhasil",Bintang mengatakan itu tanpa melihat ke arahnya.
*****
Bintang sudah berada di ruangannya.Dia mengambil ponsel miliknya,dia ingin sekali menelpon kedua anaknya.
Tok
tok
tok
"Boleh aku masuk?", ternyata yang mengetuk pintu adalah Juan.
" Masuklah,Dok!",Bintang mempersilahkan Juan masuk.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini?" tanya Juan, Bintang menatap Juan seolah bertanya apa maksud dari ucapan Juan barusan.
"Aku tahu ingatanmu sudah kembali,kamu lupa aku ini dokter?"
Bintang masih diam.
"Tadi saat kamu bilang kamu belum ingat apapun, aku tahu kamu bohong".
" Aku memang sudah mengingat semuanya,Kak"akhirnya Bintang mengaku.
"Tapi...aku masih ingin memberi suamiku itu hukuman.Aku masih kecewa sama dia Kak" kata Bintang kemudian.
"sampai kapan?"
Bintang menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu tahu,tanpa kamu menghukumnya dia sudah menderita selama ini".
" Tentu saja Kak Juan membelanya,diakan sahabat Kakak",kata Bintang dengan sedikit candaan.
"Ya sudah,terserah padamu.Kalau kamu masih tetap ingin menghukumnya silahkan! Tapi jangan terlalu lama,Ok"
"Iya,Kak.Aku hanya ingin menghukumnya beberapa hari saja kok" jawab Bintang.
Juan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan tidur terlalu malam,meskipun kamu sudah sembuh kamu masih memerlukan banyak istirahat", Juan memperingatkan.
" Rangga sedang dalam perjalanan,mungkin sebentar lagi dia sampai.Aku tinggal ya".
Juan keluar dari ruang rawat adik iparnya itu.
Bintang menatap langit,dari jendela kamarnya.
"Maafkan aku Mas.Sebenarnya aku sangat merindukanmu,tapi aku masih kecewa padamu karena kamu tidak jujur padaku", Bintang berbicara dengan dirinya sendiri.
" Sayang, kamu sudah bangun? ",tanya Rangga yang baru saja tiba.
" Maaf, maksudku Bintang ",Rangga meralat perkataannya.
" Apa yang Pak Rangga bawa?"tanya Bintang saat melihat kantong plastik di tangan Rangga.
"Aku membelikanmu bakso.Ana dan Dewi bilang kamu paling suka dengan bakso pak Samad,jadi aku mampir kesana sebelum datang kemari" jawab Rangga.
Rangga menaruh bakso tersebut ke dalam mangkuk.
Dia duduk di samping istrinya itu.
"Aaaa", Rangga menyodorkan sendok berisi bakso kepada Bintang.
" Aku bisa makan sendiri "kata Bintang.
" Aku ingin menyuapimu,dan aku tidak terima penolakan" titah Rangga.
Bintang hanya pasrah menerima suapan demi suapan dari sang suami.
"Maaf Mas,karena aku tidak jujur padamu kalau aku sudah mengingat semuanya", batin Bintang sambil terus menatap wajah suaminya.
" Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku terlihat tampan saat ini?"tanya Rangga sembari bertanya.
"Apaan sih Mas,nggak jelas banget", gumam Bintang.
" Kamu bilang apa barusan? "tanya Rangga.
" Duh,Bintang kebiasaan deh.Dari dulu sifat cerobohmu itu nggak ilang-ilang",batin Bintang.
"Memang aku bilang apa Pak?", Bintang pura-pura tidak tahu.
" Tadi aku seperti mendengar kamu memanggilku Mas",Kata Rangga sedikit berhati-hati.
"Pak Rangga salah dengar kali,kenapa aku harus manggil Pak Rangga mas ? Memang Pak Rangga siapanya aku?" tanya Bintang yang berusaha membuat suaminya itu tidak curiga.
"Sudah lupakan saja,lebih baik kamu habiskan baksonya sebelum dingin".
Rangga kembali menyendokkan bakso ke mulut istrinya itu.
Bintang merebut mangkuk yang ada di tangan Rangga.
" Kamu pasti juga belum makankan Pak?Sekarang Bapak juga harus buka mulut. Aaa",Kini giliran Bintang yang menyuapi Rangga dengan bakso.
Jadilah keduanya suap-suapan bakso.
"Terimakasih,ya Pak" ucap Bintang
"Untuk?"
"Hanya ingin berterimakasih saja" jawab Bintang cuek.
"Tadi pagi aku sudah mengatakan padamu kan kalau aku mencintaimu.Dan sekarang aku ingin mengulangi ucapan itu lagi.Bintang aku sangat mencintaimu"
Blush
Jantung Bintang semakin berdetak kencang.Andai saja dia sedang tidak memberi hukuman kepada suaminya,dia akan langsung memeluk suaminya itu dengan sangat erat dan menghujaninya dengan ciuman.
"Aku ingin istirahat, aku ngantuk Pak" Bintang mengalihkan pembicaraan.
Rangga membantu Bintang merebahkan tubuhnya dan menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut.
Sementara Rangga, dia tidur di sofa yang ada di ruangan itu.