Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 47


Bintang menghampiri, suaminya. "Ehemm," Bintang sengaja mengeraskan dehemannya.


Gadis yang memeluk Rangga tadi melepaskan pelukannya.


"Maaf maaf, aku lupa kalau sekarang Kak Rangga sudah menikah. Itu hanya kebiasaanku dulu," ucap gadis itu.


"Celin, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Rangga, ternyata nama gadis itu adalah Celin.


"Aku ikut Kak Rania, sekarang Kak Rania lagi ada di ruang tamu. Sedang ngobrol sama Mama," jawab gadis yang dipanggil Celin itu.


"E... Bintang kenalkan dia Cecilia Noryn, aku biasa memanggilnya Celin. Dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri," Rangga mengenalkan Celin pada istrinya.


Bintang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, tetapi di luar dugaan Celin malah mengacuhkan uluran tangan Bintang.


Rangga menatap istrinya, dia tahu saat ini Bintang pasti sedang merasa kesal.


"Kak ayo kita ngobrol di luar, Kak Rania juga sedang menunggu Kak Rangga!" ajak Celin sambil menarik lengan Rangga.


"Ayo Bintang!" ajak Rangga.


Bintang berjalan mengikuti Rangga dan Celin di belakang.


"Kak Rania, kapan pulang? Kenapa nggak ngabarin Aku?" tanya Rangga saat menjumpai kakaknya di ruang tamu.


"Baru juga nyampe. Aku pulang karena ada urusan bisnis di sini. Sekalian ingin mengenal adik iparku," jawab Rania di sertai senyum.


Rania adalah Kakak perempuan Rangga. Sejak kematian ayah mereka dia yang menghandle perusahaan Wijaya yang di luar negri.


"Kenalkan Kak ini istriku, Bintang. Bintang dia ini Kakakku, Kak Rania," Rangga mengenalkan istri dan kakaknya. Mereka saling berjabat tangan.


"Ternyata kamu biasa saja, aku kira gadis yang berhasil menaklukan gunung es ini adalah gadis yang luar biasa." Perkataan Rania sedikit membuat Bintang tersinggung.


"Nia, Bintang memang gadis biasa tapi... bagi Mama dia gadis yang paling istimewa," puji Mia.


"Ayo Sayang, duduk sini!" suruh Mia pada Bintang. Bintang duduk di sebelah martuanya, sementara Rangga duduk di samping kakaknya. Mia melihat Bintang yang menatap Celin yang terus-terusan menempel pada Rangga.


"Sayang, dia itu sudah seperti adik bagi Rangga. Sejak kecil dia selalu begitu pada Rangga, kamu harus bisa memaklumi itu ya," kata Mia lirih.


"Iya, Ma," jawab Bintang.


"Aku yakin gadis kecil ini tidak hanya menganggap Rangga sebagai kakaknya. Dia pasti memiliki perasaan lebih dari itu," batin Bintang.


"Ma, Kak Nia, ini sudah larut malam aku izin ke kamar ya mau tidur!" pamit Bintang.


"Sayang, anakmu ingin dipeluk sama daddynya," Kata Bintang dengan sengaja agar Celin bisa melepaskan suaminya.


"Maaf Celin, aku harus menemani istriku!" pamit Rangga sambil melepaskan tangan Celin dari lengannya.


"Maaf ya Sayang, Mammy harus menggunakanmu untuk melepaskan daddy dari rubah kecil itu," kata Bintang dalam hati sambil mengelus perutnya.


"Ma, Kak Nia dan kamu Celin kami pamit tidur duluan ya," kata Bintang sambil memeluk lengan suaminya. Celin tidak suka melihatnya, dia mengepalkan tangannya.


"Ma, Kakak aku juga ke kamar ya. Aku capek," Celin juga ikutan pamit. Dia ikut masuk ke kamar tamu.


"Aku harus bisa merebut Rangga dari istrinya itu. Dulu Lyvia yang jadi penghalanku, sekarang dia. Aku akan lakukan apapun untuk mendapatkan Rangga. Sudah terlalu lama aku menahan perasaan ini. Aku sudah jatuh cinta padanya sejak kecil sejak aku pertama kali bertemu dengannya," gumam Celin. Dia mondar-mandir di dalam kamarnya.


Celin kecil menangis tersedu-sedu di acara pemakaman ibunya. Kebetulan saat itu Mia datang melayat bersama dengan Rangga yang saat itu berusia 10 tahun.


Rangga yang saat itu melihat Celin menangis, menghampirinya dan memberikan permen pada Celin.


"Jangan menangis, ibumu sudah tenang di surga." hiburnya.


Tapi Celin kecil tetap menangis, Rangga yang melihat itu langsung memeluknya.


"Jangan menangis Kakak akan selalu di dekatmu," kata Rangga sambil menepuk-nepuk bahu Celin untuk memberikan ketanangan padanya.


"Sejak saat itu, kamu adalah tujuan hidupku. Jadi sekarang aku pasti akan mendapatkanmu," kata Celin dengan mata berapi-api.


*****


Sementara di kamar Rangga dan Bintang.


"Sayang, kamu tidak jadi menyuruhku tidur di kamar tamukan?" tanya Rangga sambil memeluk Bintang dari belakang.


"Jika aku lakukan itu, aku yakin gadis kecil itu akan mencoba mendekatimu," batin Bintang.


"Sayang, kok diam?" tanya Rangga. "Tidak, aku rasa anakmu ingin tidur dengan daddy-nya," jawab Bintang berbohong. Rangga membalikkan tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya.


"Yakin cuma anakku?" goda Rangga.


"Tentu saja," jawab Bintang gugup.


"Benarkah?" tanyanya lagi. Wajah Bintang tampak merah karena malu.


Perlahan Rangga mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya. Dia mencium bibir istrinya dengan sangat lembut. Bintang memejamkan matanya menikmati ciuman itu. Rangga tersenyum, tapi kemudian dia malah melepaskan ciumannya.


"Ayo, tidur bukankah cuma anakku yang ingin di peluk?" kata Rangga sambil berjalan ke arah tempat tidur, tapi lengannya di tahan oleh Bintang.


"Kenapa?" tanya Rangga yang pura-pura tidak mengerti.


"Kenapa gara-gara ciuman tadi aku jadi ingin,"batin Bintang.


"Sayang, ayo tidur kasihan anak kita menunggu pelukan daddynya," kata Rangga lagi.


"E... nggak jadi, maksudku anakmu tidak hanya ingin di peluk tapi juga ingin di tengok daddynya," jawab Bintang lirih dengan wajah merah karena menahan malu.


"Yakin cuma anakku?" goda Rangga.


"Kalau tidak mau ya sudah" jawab Bintang, kini giliran dia yang pura-pura cuek.


Rangga tidak mau melewatkan kesempatan itu. Dia menarik Bintang kedalam pelukannya dan malam itu Rangga mendapat giliran untuk menengok calon anaknya.


Sementara itu di luar kamar mereka, Celin yang sebenarnya ingin mengetuk pintu kamar mereka mengurungkan niatnya. Hatinya semakin mendidih saat mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar. Dia mengepalkan tangannya, kemudian kembali ke kamarnya sendiri.