
"Maaf... maaf... maafin gua," ucapnya berulang kali.
"Dew, kenapa Lo musti minta maaf?" Bintang menatapnya bingung, dia tidak mengerti kenapa Dewi sampai harus berlutut dan minta maaf padanya. Orang yang datang itu adalah Dewi.
"Pak Rangga, sebenarnya malam itu tidak terjadi apa-apa antara Bapak dan Celin. Karena akulah orang yang memberikan obat tidur ke minumanmu. Dan aku juga yang membantu Celin membawamu ke hotel, bahkan aku juga yang membuat foto-foto itu dan mengirimkannya ke rumahmu," jawab Dewi.
Bintang memundurkan kakinya selangkah, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Tidak dia bohong!" teriak Celin.
"Kak, aku memang hamil kau lihat sendirikan kalau surat itu asli," Celin berusaha membela diri.
"Ya... surat itu memang asli, kehamilanmu juga asli, sayangnya, aku bukanlah ayah asli dari anak yang kamu kandung," kata Rangga dengan tatapan tajamnya.
"Kak, ini.. ini memang anakmu," Celin tetap berusaha meyakinkan Rangga.
"Benarkah? Lalu siapa dia?" Rangga menunjuk orang yang baru saja datang bersama Nando.
Mata Celin terbelalak melihat orang yang Rangga tunjukkan. "Tidak... tidak mungkin."
"Kenapa? Apa kamu masih mau menyangkal?Dan tetap mengatakan anak dalam kandunganmu adalah anakku?"
Celin terdiam. Pria yang dibawa Nando bernama Mario, dia adalah anak dari orang biasa. Sejak awal hubungan mereka ditentang oleh orang tua Celin. Bahkan ayah Celin mengancam akan menghapus nama Celin dari kartu keluarga, jika dia tetap berhubungan dengan Mario.
Tapi, apa mau dikata karena gaya pacaran mereka yang bebas, Celin hamil.
Sebenarnya Mario sudah bersedia bertanggung jawab, tetapi Celin menolaknya karena dia tidak mau dicoret dari kartu keluarga orang tuanya.
Dia tidak mau hidup miskin dengan Mario.
Sebuah ide muncul saat Rania bertamu ke rumahnya dan mengatakan akan pulang ke Indonesia, Celin memutuskan untuk ikut. Dengan alasan ingin liburan sekaligus belajar bisnis di perusahaan milik Rangga.
Awalnya dia mengira akan sangat mudah mendapatkan hati Rangga, tetapi ternyata Rangga begitu mencintai istrinya.
Kemudian dia mengubah rencananya karena bagaimana pun dia tidak akan bisa menyembunyikan kehamilannya terlalu lama.
Suatu hari dia melihat Dewi yang sedang menggambar desain sebuah gedung, dia menawarkan sebuah kerjasama kepada Dewi. Celin berjanji akan membantu Dewi mendapatkan kontrak dari perusahaan ayahnya, asal dia mau membantunya menjebak Rangga. Tanpa berpikir panjang Dewi mengiyakannya, terlebih sudah lama Dewi menyimpan kebencian terhadap Bintang.
"Celin, aku akan memberimu dua pilihan sekarang. Menikah dengan Mario lalu kembali ke luar negri atau mendekam di penjara?" Rangga menawarkan dua opsi tersebut kepada Celin.
Celin terdiam. Dua pilihan itu sama-sama mengantarkan Celin pada kemiskinan.
Jika dia menikah dengan Mario, ayahnya akan mencoretnya dari Kartu Keluarga. Dan jika dia mendekam di penjara ayahnya pasti akan malu dan akan mengusirnya juga.
Dengan terpaksa Celin mau menikah dengan Mario, karena itu adalah pilihan terbaik saat ini. Setidaknya jika dia diusir oleh ayahnya dia masih bisa tinggal di tempat Mario.
Usai menikah Mario membawa Cellin kembali ke luar negri. Tidak lupa dia berterimakasih kepada Rangga dan juga Nando.
Sekarang ditempat itu hanya tinggal beberapa orang.
"Apa masih ada yang ingin kamu akui lagi?" tanya Rangga, dia menatap Dewi tajam.
"Tidak ada"
"Benarkah?" pancing Rangga.
"Aku tahu semua perbuatanmu kepada Bintang selama ini."
"Kau adalah orang yang meletakkan foto Bintang yang digendong olah Alex di depan pintu kamar rawat Lyvia waktu itu. Kamu berharap aku akan salah paham, kemudian berpisah dengan Bintang. Kau juga yang mengirimkan foto Mentari kepada keluarga Juan agar pernikahan mereka batal. Satu lagi, kau pernah menjebak Alex dan juga Ana agar mereka terlihat sudah tidur bersama. Mungkin karena kamu tahu Alex menyukai Bintang jadi kamu berharap Alex tidak akan bertanggung jawab kepada Ana. Tapi sepertinya perkiraanmu salah, malah setelah kejadian itu hubungan Alex dan Ana semakin dekat. Apa semua yang aku katakan tadi itu benar?"
Dewi terperangah, bagaimana Rangga bisa mengetahui semua itu.
"Tadinya aku kira kamu akan diam tentang kehamilan Celin sampai detik terakhir, tapi sepertinya kamu masih punya hati untuk membongkar kebohongan dia. Apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Rangga lagi dengan sorot tajamnya.
"Bayi dalam kandungan Bintang. Meskipun aku sangat membenci Bintang, aku tidak ingin bayi yang tidak berdosa itu menderita. Aku tahu bagaimana rasanya hidup tanpa seorang ayah dan aku tidak ingin bayi itu merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan waktu aku kecil," jawab Dewi disertai air mata.
"Kenapa Dew, kenapa kamu membenciku?Kenapa kamu ingin melihat aku menderita. Katakan kenapa!" kata Bintang, dia tidak pernah menyangka kalau selama ini Dewi menyimpan kebencian kepadanya.
"Karena Kalian berdua tidak pernah tulus bersahabat denganku. Kau dan Ana, kalian adalah orang yang sama-sama munafik," jawab Dewi, dia menatap Bintang dan Ana dengan tatapan kebencian.
"Apa maksudmu? Jelaskan padaku!" suruh Ana, dia sangat marah mengetahui kalau sahabatnya ternyata menyimpan kebencian terhadapnya.
"Apa kalian berdua ingat, saat studytour sekolah kita ke Bali? Kalian berdua sudah mendaftar ikut studytour tersebut, tapi saat ada orang yang membiayai studytour ku kalian malah mengundurkan diri. Itu karena kalian tidak ingin pergi bersamaku kan?
Dan kau Bintang, kamu tahu sejak SMP aku sudah mencintai Kakak kelas kita Kak Hendri dan aku sangat bahagia karena akhirnya Kak Hendri membalas cintaku. Tapi... saat kau berulang tahun kau bilang padaku kalau kau juga menyukai dia. Bahkan kau memintaku untuk mengalah dan saat itu juga aku bersedia mengalah untukmu. Aku melepaskan Kak Hendri. Aku berharap kau bisa bahagia bersamanya, tapi apa kenyataannya? Setelah aku melepaskan Kak Hendri, jangankan berpacaran dengannya, kau malah bilang ke Ana kalau kau senang karena akhirnya aku putus dengan Kak Hendri. Sejak saat itu aku tahu kalau kalian berdua tidak tulus bersahabat denganku dan sejak saat itu pula aku berjanji pada diriku sendiri suatu saat nanti aku akan membalas dendam pada kalian, aku akan membuat kalian menderita."
Plak!
Ana menampar pipi Dewi dengan sangat keras. Dewi memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan Ana.
"Sekarang buka telingamu baik-baik dan dengarkan ini!" Ana memberi jeda sebentar.
"Kau tahu kenapa kami tidak ikut studytour itu?kau tahu kenapa, hah?!" tanya Ana sembari berteriak.
"An, hentikan!" suruh Bintang
Ana menatap Dewi, dari sana terpancar kemaran, kesedihan, dan juga kekecewaan yang teramat dalam.
"Karena kami harus membiayai studytour mu dan juga Kak Hendri," kata Ana lagi.
"Apa maksudmu?" tanya Dewi.
"Kamu pernah bilangkan kalau kamu ingin menyusuri pantai bersama Kak Hendri di Bali. Karena itulah aku dan Bintang menemuinya dan meminta dia untuk nenemanimu selama di Bali, dia bersedia melakukan itu semua asal kami mau membiayainya. Dan demi mewujudkan keinginanmu aku dan Bintang menyetujuinya. Jadi kami mundur. Dan itu semua demi dirimu," jawab Ana penuh penekanan.
Dewi terdiam, ada sedikit penyesalan di sana.
"Dan soal Bintang yang menyuruhmu mundur, dia melakukan itu juga untuk dirimu. Kau ingat ketika aku bilang padamu kalau Kak Hendri berselingkuh darimu? Kau malah bilang padaku kalau aku iri. Aku menceritakan semuanya pada Bintang dan akhirnya Bintang memikirkan cara itu, karena dia yakin kamu akan memenuhi permintaannya di saat dia berulang tahun. Makanya tepat saat Bintang berulang tahun dia meminta hal itu darimu. Bintang meminta itu karena dia perduli padamu. Dan agar kamu terlepas dari cowok brengsek seperti Hendri," kata Ana lagi.
Mendengar semua hal itu membuat Dewi semakin menyesali perbuatannya. Tubuhnya menjadi lemas seperti tak bertulang. Gara-gara kesalah pahamannya dia menyakiti dua orang yang sangat tulus padanya. Dia sadar kalau dia membenci orang yang salah.
"Mulai sekarang aku tidak akan perduli padamu." Kata Ana sebelum pergi meninggalkan Dewi.
" Bintang.... " panggil Dewi.
" Maaf, Dew. Aku lelah, aku ingin istirahat."
Bintang juga masuk ke kamarnya ditemani suaminya.
Tinggal Dewi sendirian di tempat itu, dia menangisi setiap kebodohannya.
"Minumlah!" seseorang memberinya sebotol air mineral. Dewi menatap orang itu.