Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 155


Ester dan Nando menatap ke arah pintu bersamaan, ketika tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka.


" Kamu!!!"


Kata Ester dan Sigit bersamaan,ya karena memang yang membuka pintu barusan adalah Sigit.


"Kalian saling kenal?", tanya Nando sambil menatap ke arah Sigit dan Ester bergantian.


"Duduk lah dulu", Ester mempersilahkan Sigit untuk duduk di bangku kosong di sebelahnya.


" Jadi bener kalian sudah saling kenal?",Nando kembali menyakan hal yang sama saat Sigit sudah duduk di sebelah Ester.


Sigit dan Ester saling tatap, kemudian keduanya sama-sama tertawa kecil.


"Bukan saling kenal Pak Nando.Semalam aku hampir saja menabraknya.Untung saja rem mobilku pakem", jawab Ester.


" Aku kira kalian beneran saling kenal",kata Nando.


"Aku Ester", kata Ester tiba-tiba. Dia mengulurkan tangannya kepada Sigit.


Sigit menatap tangan Ester sejenak,kemudian dia membalas uluran tangan Ester tadi.


" Sigit ",jawab Sigit.


" Heem heem",Nando sengaja mengeraskan suara dehemannya saat melihat Sigit dan Ester belum melepaskan jabatan tangan mereka.


"Maaf..", ucap Ester


" Tidak apa-apa ",jawab Sigit.


" Sekarang bisakah kita memulai meeting kita hari ini? ",tanya Nando kepada Ester dan juga Sigit.


" Tentu saja",jawab keduanya bersamaan.


Mereka pun memulai meeting mereka.


*****


Di tempat lain....


Sejak pertemuannya dengan Erik dan Leon di taman waktu itu, Rania sering mengunjungi apertemen Erik hanya sekedar ingin bertemu dengan bocah kecil tersebut. Bahkan sudah beberapa hari,Rania tidak pernah pergi ke perusahaan Wijaya.


Seperti hari ini,setelah melihat gedung yang akan di pakai untuk pesta pernikahan adiknya,Rania datang ke apertemen milik Erik.


Erik yang kala itu sedang sibuk membuatkan pie pisang kesukaan Leon segera berlari menuju pintu,saat sebuah bel berbunyi di apartemennya.


"Nia..duduklah!", suruh Erik setelah membukakan pintu apertemen.


" Di mana Leon?"tanya Rania saat tidak mendapati anak kecil itu di dalam.


"Dia belum pulang dari panti", jawab Erik


" Jam segini?"tanya Rania.


"Mungkin dia kesepian di sini,jadi aku membiarkan dia bermain dengan anak-anak panti seperti sebelumya" jawab Erik.


" Duduklah,ada yang harus aku seleseikan di dapur",seru Erik seraya berjalan menuju dapurnya.


Rania duduk di sofa yang ada di apertemen tersebut.


Tidak lama kemudian, Erik kembali ke tempat diamana Rania sedang duduk dangan pie di tangannya.


"Coba cicipi,aku baru membuatnya", Erik memberikan piring berisi pie kepada Rania.


" Hemmmm,enak sekali ",puji Rania setelah memakan pie buatan Erik tersebut.


" Leon menyukainya,makanya aku membuatkan itu untuknya",jawab Erik.


"Pasti mendiang istrimu sangat senang karena selalu di buatkan pie selezat ini olehmu", ucap Rania yang kembali memasukkan potongan pie kedalam mulutnya.


Rania menatap Erik, saat menyadari perubahan raut wajah pada pria itu.


" Maaf, ake tidak bermaksud mengingatkanmu dengan almarhumah istrimu ",ucap Rania.


"Justru aku belajar membuat pie ini setelah dia meninggal. Dulu ketika dia masih hidup aku tidak pernah bisa mencicipi pie buatannya. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku", kata Erik dengan raut wajah yang penuh penyesalan.


"Maafkan aku, aku betul-betul tidak bermaksud mengingatkanmu akan hal itu", ucap Rania lagi.


" Itu sebabnya sampai sekarang aku tidak mau menikah lagi.Aku tidak ingin mengecewakan istriku lagi nantinya, sama seperti aku mengecewakan dia dulu",tutur Erik.


Keduanya pun terdiam,bahkan hampir 15 menit tidak ada yang memulai membuka pembicaraan kembali.


"Papi..", suara Leon memecahkan keheningan yang terjadi barusan.


Leon yang baru masuk dari arah pintu segera memeluk Erik.


"Heeemm.Leon senang,Pi.Tapi... ",Leon tidak melanjutkan perkataannya.Raut mukanya mendadak berubah menjadi sedih.


" Kenapa? ",tanya Erik.


" Ada teman panti yang akan di adopsi,Leon sedih karena mungkin Leon tidak akan bisa bertemu dengan dia lagi",jawab Leon.


"Leon,harusnya Leon ikut bahagia untuknya", Rania mendekati Leon dan berjongkok di depan anak itu.


Leon menatap ayah angkatnya sebentar kemudian kembali menatap ke arah Rania.


" Kenapa?",tanya Leon dengan wajah yang masih cemberut.


"Leon bahagia tidak bisa tinggal bersama papi Erik?" tanya Rania.


Bocah kecil itu mengangguk pelan.


"Itu juga yang akan di rasakan oleh teman Leon.Dia akan bahagia sama seperti Leon,karena dia bisa mendapatkan keluarga baru. Bisa mendapatkan orang tua yang akan selalu menyayangi dia setiap saat", jelas Rania lembut.


Wajah Leon kembali berseri setelah mendengar penjelasan dari Rania.


" Leon tidak akan sedih lagi,Leon akan bahagia untuk teman Leon",ucapnya bersemangat.


"Anak pintar", puji Rania sambil mencuit hidung Leon gemas.


" Tante,bolehkah Leon meminta sesuatu pada Tante? ",tanya Leon.


" Tentu saja, katakan Leon ingin minta apa!",jawab Rania.


"Bisakah Leon memanggil Tante dengan Mami", jawab Leon lirih,anak itu takut kalau permintaannya akan membuat Rania marah.


" Tentu saja, Sayang. Tentu saja,Leon boleh memanggil tante mami.Tante akan sangat bahagia ",jawab Rania.


Kamudian dia mendekap Leon dengan behitu erat.Rania begitu bahagia karena sudah lama dia menantikan panggilan itu.Meskipun itu bukan dari anak kandungnya.


" Mami,kenapa Mami menangis?"tanya Leon saat melihat ada air mata, di sudut mata orang yang baru saja dia panggil Mami.


"Ini hanya air mata kebahagiaan,Sayang. Jangan khawatir", jawab Rania sambil menghapus air matanya.


" Leon,Papi sudah membuatkan pie pisang kesukaanmu. Ayo kita makan pie itu",ajak Erik.


"Mami,maukah Mami menyuapi Leon?" tanya Leon.


Rania menatap ke arah Erik, setelah mendapatkan persetujuan darinya.Rania menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja", jawab Rania kemudian.


Erik mengambil semua pie pisang buatannya dari dapur dan membawanya ke hadapan Leon.


" Taraaa,ayo kita makan sekarang ",kata Erik.


Mereka bertiga mulai menikmati pie buatan Erik.Dan sesui permintaan Leon,Rania menyuapinya.


*****


Di rumah sakit Rahardian...


Setelah makan siang,Alex kembali ke ruangannya. Dia menatap nomor pasien yang di berikan oleh Bintang saat makan siang tadi.


Dia mulai menyalakan komputer di depannya. Setelah memasukkan passward,di komputer tersebut. Dia mulai mencari dokumen tentang data pasien,14 tahun lalu sesuai dengan nomor pasien yang Bintang berikan.


Alex membaca detail laporan itu dengan seksama.Namun matanya terbelalak, saat melihat siapa dokter yang mengoperasi ayah Bintang waktu itu.


" Tidak mungkin, ini tidak mungkin ",kata Alex berkali-kali.


" Pasti ada yang salah",kata Alex lagi.


Alex mencoba memasukkan nomor pasien itu lagi,berharap kalau yang dia baca barusan adalah salah.Namun setelah beberapa kali mencoba hasilnya tetap sama.


"Maafkan aku Bintang, aku tidak bisa memberitahumu soal ini", gumam Alex.


Dia menghapus laporan pasien dengan nama ALFIAN dari dalam komputer.


Alex kembali menatap nomor pasien pemberian Bintang.


" Meskipun aku memberitahumu passwardnya,kamu tidak akan pernah menemukan laporan operasi ayahmu. Maafkan aku",gumam Alex.


Kemudian dia mematikan komputer di depannya.


Dia menghela napasnya berkali-kali seolah melepaskan beban berat di hatinya.


Alex berjalan keluar dari ruangannya,namun langkahnya terhenti saat ada tangan yang memegang bahunya.