
"KENAPA PERAWAT INI DUDUK DISINI? SIAPA YANG MEMBERINYA IJIN?"
Suara itu mengejutkan Yuna dan juga Harry. Keduanya sontak menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Ayah!?!"
"Mas Michel"
Kata Yuna dan Michel bersamaan,karena yang datang adalah Michel.
"Maafkan saya Tuan,karena saya lancang berada di sini", ucap Dinda sambil menundukkan kepalanya.
Michel memberikan tatapan tajamnya kepada Dinda.
"Ayah, aku yang menyuruhnya untuk duduk di sini. Selama ini dia sudah mengurusku dengan baik,jadi apa salahnya jika dia makan bersama dengan kita?", jawab Harry.
" Siapa yang memberimu hak untuk menentukan siapa-siapa saja yang boleh duduk bersama dengan kita? Ingat kamu hanyalah anak angkat jadi jangan bersikap seolah kamu adalah tuan muda keluarga Javier".
" Mas,sudahlah tidak usah di perpanjang lagi.Ini hanya masalah sepele",kata Yuna sambil memegang bahu suaminya mencoba untuk menenangkan suaminya.
"Kalau begitu biarkan aku kembali ke keluarga Wijaya",kata Harry lagi.
" Mimpi kamu! Sampai kapan pun tidak akan aku biarkan kamu dan keluarga Wijaya bersatu. Karena itu adalah caraku menghukum keluarga Wijaya,terutama ibu kandungmu Mia",jawab Michel dengan menatap tajam ke arah Harry.
"Apa ayah belum puas memisahkan aku dan keluarga kandungku selama ini? Apa ayah juga belum puas sudah pernah menghancurkan perusahaan ayah kandungku? Bahkan gara-gara ayah mamaku pernah depresi,apa itu belum cukup untuk membalas sakit hati yang ayah rasakan? Sakit hati yang sebenarnya bukan di sebabkan oleh kesalahan kedua orang tuaku,melainkan kesalahan ayah sendiri", Harry mengatakan itu dengan penuh penekanan.
" Apa yang kamu katakan? Dasar anak tidak tahu di untung", Michel menampar Harry hingga sudut bibirnya mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
"Mas,hentikan!" ,teriak Yuna.
Yuna mendekati putranya,"kamu tidak apa-apa,Sayang?",tanya Yuna sembari memeriksa keadaan putra angkatnya itu.
" Seharusnya ayah tidak usah repot-repot untuk mengobatiku selama ini, ayah tinggal biarkan aku mati. Maka ibu kandungku pasti akan menderita seumur hidupnya",Harry membalas tatapan tajam ayahnya.
"Kamu...", Michel tidak melanjutkan perkataannya ketika tiba-tiba Harry memegangi dadanya.
" Harry, Harry Sayang kamu kenapa Nak?"tanya Yuna cemas.
"Bu,dadaku.. dadaku mendadak sakit", jawab Harry sambil memegangi dadanya.
"Tuan muda,Anda tidak apa-apakan?",tanya Dinda yang juga ikutan cemas.
" Nak,kamu harus tenang. Jangan terbawa emosi,kalau tidak penyakit jantungmu akan kembali kambuh. Kamu tenang ya Nak".
Yuna dengan di bantu Dinda mencoba untuk memapah Harry.
"Bu,rasanya sakit sekali. Aku aku sulit bernapas Bu".
Harry jatuh tak sadarkan diri.
" Nak,bangun Sayang. Bangun,Nak",panggil Yuna.
"Nyonya kita harus segera membawa Harry ke rumah sakit".
Dinda dan Yuna berusaha memapah Harry yang sudah tak sadarkan diri menuju mobil.Melihat dua orang wanita di depannya kesulitan,entah apa yang membuat Michel tiba-tiba membantu menggendong anak angkatnya itu masuk ke dalam mobil.
Harry berbaring di jok belakang bersama Dinda,sementara Yuna duduk di jok depan di sebelah jok pengemudi.
"Pasang seatbeltmu dengan benar", seru Michel kepada istrinya saat mereka berada di dalam mobil.
Yuna menatap suaminya.
" Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku hanya tidak ingin anak ini mati di rumahku",ujar Michel.
Seulas senyum mengembang di bibir Yuna,dia bahagia setidaknya masih ada kepedulian di diri Michel terhadap anaknya.
Begitu sampai di rumah sakit Harry segera di bawa ke IGD.Setelah hampir 1 jam mendapat penanganan,Harry di pindahkan ke ruang rawat.
"Bagaimana kondisi anak saya,Dok?", tanya Yuna saat seorang dokter keluar dari ruang rawat tersebut.
" Kondisi anak Anda cukup memprihatinkan. Dari catatan medisnya,dia harus secepatnya di operasi. Hanya saja sampai saat ini belum ada donor jantung yang cocok untuk putra Anda",jelas sang dokter.
Yuna dengan temani Michel dan Dinda masuk ke ruang rawat Harry. Yuna benar-benar tidak tega melihat keadaan putranya yang terbaring lemah di atas tempat tidur, bahkan putranya tersebut harus di bantu dengan ventilator untuk bernapas.
"Apa kamu masih ingin memisahkan dia dengan ibunya? Apa kamu masih ingin membalas sakit hatimu itu pada Mia?Apa kamu juga masih ingin menghancurkan keluarga Wijaya? Kamu kejam Mas,kamu sangat kejam", kata Yuna sambil memukul-mukul suaminya dengan tangan.
Michel hanya diam tanpa bereaksi apapun. Tatapan matanya hanya fokus menatap Harry yang masih terbaring lemah.
Michel meninggalkan tempat itu tanpa sepatah katapun.
" aku harus memberitahu Bintang keadaan Harry saat ini ",batin Dinda.
Diam-diam Dinda mengambil foto Harry dan mengirimkannya pada Bintang. Dan tidak lupa dia juga menuliskan keadaan Harry dan mengirimkan alamat rumah sakit tempat Harry saat ini di rawat.
Setelah melakukan itu, Dinda kembali mendekati Yuna yang sedang duduk di bangku sebelah Harry terbaring.
*****
Seorang anak kecil berusia 3 tahun berlari ke arah Michel yang saat itu baru pulang dari dinas kantornya.
" Ayah lihat aku sudah bisa menulis dan berhitung seperti yang ayah perintahkan",kata anak kecil itu sambil menunjukkan buku tulisnya.
Bukannya melihat, Michel malah merobek buku tersebut dan melemparkannya ke sembarang arah.
"Ayah...", wajah anak laki-laki itu berubah sedih.
" Kamu pikir dengan kamu bisa menulis dan berhitung,aku akan menyukaimu? Jangan harap itu terjadi",kata Michel kemudian berjalan meninggalkan anak kecil itu.
"Ibu,kenapa ayah tidak menyukaiku? Padahal aku sudah menjadi anak yang baik separti yang ibu katakan?", tanya anak kecil itu dengan mata berkaca-kaca.
" Sayang, bukan ayah tidak menyukaimu. Dia hanya merasa lelah karena baru pulang dari kerja dinasnya di luar kota. Kamu yang sabar ya Nak".
"Iya Ibu,aku akan selalu berusaha membuat ayah menyukaiku", kata anak kecil itu dengan penuh semangat.
^^^^^
" Ayah, lihat aku menjadi juara umum di sekolah",kata anak kecil dengan pakaian sekolahnya sambil membawa sebuah piala.
Michel mengambil piala itu,dia memperhatikan piala itu dengan seksama. Senyum bahagia nampak di wajah anak laki-laki itu. Namun beberapa detik kemudian senyum itu lenyap,saat Michel lagi-lagi melempar piala itu ke lantai.
"Kamu pikir piala itu bisa membuatku menyukaimu? Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyukaimu",Michel berjalan meninggalkan anak laki-laki yang saat itu berusia di 15 tahun.
" Ibu,kenapa ayah tidak pernah bisa suka padaku? Bahkan ayah juga sering memukulku untuk kesalahan kecil yang aku lakukan? " tanya anak berusia 15 tahun tersebut.
"Itu hanya perasaanmu saja,Nak"
^^^^^
Anak itu sekarang sudah berusia 21 tahun. Dia menghampiri Michel yang sedang duduk sambil membaca koran.
"Ayah sekarang aku sudah lulus dari Oxford Univercity bahkan aku juga mendapatkan nilai tertiggi di jurusanku. Apa sekarang ayah bisa menyukaiku?", tanya anak laki-laki sambil menyerahkan ijazahnya kepada Michel. Namun Michel hanya melipat koran yang sedang dia baca tanpa menoleh sedikitpun ke arah anak laki-laki itu bahkan dia berjalan meninggalkan anak itu.
^^^^^
Semua ingatan itu nampak berkeliaran di kepala Michel.
Michel mengambil 3 kotak dari lemari yang ada di ruang kerjanya.Dia membuka kotak tersebut satu persatu.
Kotak pertama berisi buku yang dia sobek saat Harry berumur 3 tahun. Kotak kedua berisi piala yang sudah hancur,sebuah piala yang Harry tunjukkan padanya saat usianya 15 tahun. Dan kotak terakhir adalah kotak yang berisi ijazah milik Harry lengkap dengan aksesoris waktu Harry di wasuda.
" Awalnya tujuanku meminta anakmu karena aku ingin membalas sakit hatiku padamu Angga,tapi...tidak ku sangka aku justru menyayangi anakmu. Walaupun aku selalu berusaha menyangkalnya dengan bersikap kasar terhadapnya",Michel mengatakan itu sambil menatap foto dirinya bersama dengan Harryangga waktu masih muda dulu.
Michel segera menyimpan seluruh kotak tersebut,saat sekertaris nya datang.
"Ada apa?" tanya Michel.
"Pak ada orang yang ingin bertemu dengan bapak" kata sang sekertaris memberi tahu."
Siapa?"
"AKU", Jawab orang itu dari arah pintu.