
Kediaman keluarga Wijaya
Tidak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat.Setelah seharian menghabiskan waktu bersama tiba saatnya mereka berpisah untuk kembali ke keluarga mereka masing-masing.
Rangga yang sudah datang sejam yang lalu bersama dengan Nando yang juga ingin menjemput istrinya,kini mereka sudah berdiri di depan pintu rumah keluarga Wijaya.
"Bi,kami pamit ya.Lain kali kita pasti bakalan kesini lagi", pamit Dewi
" Aku tunggu ya Dew",jawab Bintang.
"Ohya kamu bisa bicarakan dulu dengan suamimu soal rencana kita tadi.Kalau suamimu sudah ngasih lampu hijau kamu tinggal hubungi aku dan Ana. Nanti biar kita berdua yang menghubungi teman yang lain", kata Dewi lagi.
Rangga melihat ke arah istrinya untuk meminta penjelasan maksud perkataan Dewi barusan.
Bintang tersenyum sambil memeluk lengan suaminya itu.
" Nanti aku kabari setelah membicarakannya dengan Mas Rangga", Jawab Bintang.
" Sampai jumpa lagi ya anak-anak manis. Ayo Kia,pamit sama Tama dan Mikha ".
Kiara berpamitan kepada dua temannya itu.
" Mikha, Tama Kia pulang dulu ya,lain kali kita main lagi" kata Kia dengan manisnya.
"Iya,Mikha seneng hari ini bisa main bareng Kia. Lain kali kita pasti akan main bareng lagi", jawab Mikha.
"Kia,aku janji saat kita main lagi aku nggak akan jahil sama Kia", tutur Tama
dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Heemm"jawab Kiara.
" Ngga,aku rasa kalau anakmu dewasa nanti dia bakalan mirip banget sama kamu",bisik Nando.
"Maksudnya?"
"Lihatlah,anak kamu juga memiliki gengsi yang besar sama seperti kamu dulu yang pura-pura bersikap sok cooll di depan Bintang. Padahal sehari nggak ketemu Bintang saja mood kamu jadi jelek dan seharian bakal uring-uringan di kantor persis kayak cewek kalau lagi pms", cibir Nando.
" Ckckckck",desis Rangga.
"Kita duluan ya Bi,An. Bye....", ucap Dewi setelah masuk ke dalam mobil suaminya,mobil itupun melaju meninggalkan kediaman keluarga Wijaya.
" An,si Alex nggak jemput kamu? "tanya Bintang.
Ana melihat ke arah jam tangannya.
"Kayaknya bentar lagi deh,soalnya Mas Alex bilang agak telat jemputnya",jawab Ana.
Dan benar saja tidak lama berselang Alex tiba dengan menggunakan mobil warna merah kesayangannya.
"Maaf ya Sayang aku telat", ucap Alex sembari mencium kening istrinya.
" Nggak apa-apa kok Mas",jawab Ana.
"Ohya Kak Rangga, dua hari lagi Dokter George dokter yang menangani jantung saudara kembar kakak di Paris akan datang ke Jakarta", kata Alex memberitahu.
" Untuk apa Dokter George ke Jakarta? Apa ini ada hubungannya dengan Michel? "tanya Rangga.
" Aku rasa tidak ada Kak,soalnya dia memang sengaja di datangkan untuk mengajar di Universitas MEDIKA. Kalau kakak mau aku bisa buatkan janji agar Kak Rangga bisa ketemu langsung sama dia".
"Kamu atur saja waktunya. Makasih ya Lex", ucap Rangga.
Alex mengacungkan jempolnya.
" Bi,aku duluan ya. Lain kali aku pasti ke sini lagi",pamit Ana.
"Hati-hati ya An", kata Bintang.
" Bye Bintang, bye Mikha, bye Tama ", kata Ana sembari melambaikan tangannya.
" Bye Tante Ana,by Om Alex ", balas Mikha dan Tama barengan.
" Lihatlah Sayang, mereka lucukan?Aku pengen secepatnya punya debay",kata Ana sambil mengelus perutnya sendiri.
"Pasti, Sayang. Secepatnya kita akan punya itu, makanya kita harus cepat pulang dan membuatnya", balas Alex.
Bintang dan Rangga menggelengkan kepalanya, melihat tingkah dua orang di depannya.
Ana memasuki mobil suaminya kemudian mobil itupun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan halaman rumah keluarga Wijaya.
"Ayo anak-anak,ini sudah malam waktunya kalian tidur", Bintang mengajak dua anaknya masuk ke dalam kamar mereka.
"Iya,Mas", jawab Bintang.
Rangga menuju kamar mamanya, kebetulan kamar mamanya tidak di kunci jadi Rangga bisa langsung masuk untuk melihat keadaan mamanya tersebut.
" Rupanya mama sudah tidur",batin Rangga.
Rangga membetulkan selimut yang di pakai oleh mamanya,saat sedang menyelimuti tubuh mamanya Rangga melihat tangan mamanya sedang memegang sebuah foto. Foto tersebut adalah foto dirinya dan saudara kembarnya Harry saat masih bayi.
"Pasti mama sangat merindukan Harry".
Rangga mengambil foto tersebut dan meletakkannya di atas nakas dekat tempat tidur, setelah itu dia kembali ke luar dari kamar mamanya.
*****
Setelah satu jam membacakan cerita untuk kedua anak kembarnya, Bintang kembali ke kamarnya.
Dia melihat Rangga sedang berdiri di dekat jendela. Bintang memeluk suaminya itu dari belakang.
" Mas,apa kamu sedang memikirkan soal mama?"tanya Bintang sambil menyandarkan kepalanya di punggung Rangga.
"Aku rasa sudah cukup aku bersikap baik terhadap Michel. Mungkin ini saatnya aku tunjukkan kepada Michel siapa yang sedang dia hadapi. Aku harus secepatnya membawa Harry kembali ke keluarga Wijaya, aku tidak ingin mama terus-terusan bersedih karena ini".
" Aku akan selalu mendukung setiap keputusan yang akan kamu ambil".
Rangga membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan tubuh istrinya.
"Terimakasih Sayang, karena kamu selalu berada di sisiku. Kamu adalah penyemangat hidupku".
Rangga mulai mencium bibir istrinya itu dengan sangat lembut. Perlahan dia membimbing tubuh istrinya itu hingga kini tertindih di atas tempat tidur.
*****
Keesokan harinya di kediaman keluarga Javier...
Selain membantu mengurus Harry, Dinda juga selalu membantu Yuna bekerja di dapur. Dinda sangat senang melakukan itu, karena sejak kecil dia hanya tinggal bersama dengan neneknya sejak kedua orang tuanya meninggal.Di tempat ini Dinda kembali merasa memiliki seorang ibu,karena Yuna juga memperlakukan Dinda layaknya putrinya sendiri.
" Wah Dinda, ternyata selain pandai mengurus Harry kamu juga sangat pandai memasak. Bahkan masakan kamu juga enak",puji Yuna.
"Terimakasih atas pujiannya Bu", ucap Yuna.
" Aku pasti akan tenang meninggalkan Harry bersamamu"
"Maksud ibu?", tanya Dinda heran.
" Tidak apa-apa, hanya saja jika suatu hari nanti ibu terpaksa harus meninggalkan Harry,ibuf akan merasa tenang karena kamu pasti akan menjaga Harry dengan sangat baik",jawab Yuna di sertai senyumnya.
"Memangnya ibu mau pergi ke mana?"
Tanya seseorang dari belakang mereka.
"Sayang, kamu mengagetkan ibu saja", kata Yuna pada Harry,karena orang yang baru datang tersebut adalah Harry.
" Ibu belum jawab pertanyaanku,memangnya ibu mau pergi ke mana? ",tanya Harry sekali lagi.
" Tidak kemana-mana Nak. Ibukan cuma bilang seandainya,walau bagaimana pun suatu hari nanti bukankah ibu akan menua dan mati.Jadi jika itu terjadi ibu sudah bisa tenang karena ada Dinda yang akan menjaga kamu dengan baik,tentu saja keluarga kandungmu juga akan ikut menjagamu".
Harry memeluk ibu angkatnya itu.
"Tidak,Bu. Aku ingin selamanya ibu bersamaku.Meskipun kelak aku kembali ke keluarga Wijaya, aku tetap ingin ibu juga ikut denganku", kata Harry.
" Tentu saja Nak. Ibu hanya salah bicara tadi, maafkan ibu"ucap Yuna sambil membalas pelukan anaknya tersebut.
"Ayo Nak,sekarang makan dulu.Ini semua Dinda yang masak".
Yuna menyuruh anaknya itu untuk duduk.
" Ibu bohong Harry, semua ini masakan ibu. Aku cuma bantuin ibu motong sayurannya saja",sanggah Dinda.
"Ayo Din,kamu juga silahkan duduk".
Dinda duduk di sebelah Harry.
" KENAPA PERAWAT INI DUDUK DI SINI? SIAPA YANG MEMBERINYA IJIN?!?"
Suara itu mengejutkan Yuna dan juga Harry.
### Hay readerkuh maaf baru up 🙏 kemarin sibuk banget. Mohon tinggalkan jejak ya dengan like,komen dan vote sebanyak - banyaknya. Terimakasih.