
Di taman belakang kediaman keluarga Wijaya
"Aku senang banget deh kita bisa kumpul kayak gini", ujar Bintang.
" Iya,aku juga. Rasanya sudah lama banget kita nggak kayak gini",sambung Ana.
"Jadi inget masa sekolah dulu,kemana pun kita selalu bertiga", Dewi ikut menimpali.
Ketiganya tersenyum mengingat masa-masa indah di sekolah beberapa tahun yang lalu.
" Eh,kenapa kita nggak ngadain reoni aja",Bintang mengungkapkan idenya.
"Aku sih ngikut aja,tapi maaf aku nggak bisa ikutan kalau aku harus bantu kalian berdua jadi panitia pelaksana", kata Dewi.
"Iya juga ya", kata Bintang dan Ana barengan apalagi kondisi Dewi yang sudah hamil besar.
" Memang kamu yakin suamimu bakalan ngijinin kita buat ngadain reoni?",tanya Ana.
"Nggak tahu juga sih", jawab Bintang sambil nyengir kuda.
" Kalau aku sih bakalan yakin kalau Pak Rangga nggak bakal ngasih kamu ijin",Dewi ikutan menjawab.
"Lho kok?", Bintang menatap dua sahabatnya itu.
" Tapi aku rasa omongan Dewi bener deh. Soalnya dulu saja waktu dia bilang nggak suka sama kamu,dia sudah berani mukulin kakak kelas kita yang berani ngomongin kamu dan natap kamu,apalagi sekarang",kata Ana.
"Jadi kalian sudah tahu yang mukulin Kak Dion dan teman-temanya itu mas Rangga?" tanya Bintang sambil menatap dua sahabatnya itu bergantian.
Ana dan Dewi mengangguk bersamaan.
"Sejak kapan kalian tahu?" tanya Bintang lagi.
"Beberapa hari setelah mereka ke luar dari rumah sakit. Dulu kita berdua nggak berani bilang karena kita berdua takut sama Pak Rangga", jawab Ana
" Iya aku juga,apalagi tatapan Pak Rangga dulu nyeremin",tambah Dewi sambil bergidik ngeri mengingat tatapan dari laki-laki yang sekarang sudah menjadi suami sahabatnya itu.
"Beda sih ya sama Pak Rangga yang sekarang. Pak Rangga yang sekarang mah kalau natap kamu itu berbinar-binar,hangat dan kelihatan banget kalau dia cinta dan sayang sama kamu", imbuh Ana yang sedikit mendramatisir.
" Iya,bahkan Pak Rangga yang sekarang rela gitu bolak-balik Bandung Jakarta cuma buat ketemu istri tercinta. Kali aja kalau kamu nyebur ke laut Pak Rangga juga bakalan ikut nyebur",kata Dewi yang juga ikutan alay.
" Apaan sih kalian, kayak si Nando dan Alex nggak kayak gitu saja sama kalian",sergah Bintang.
"Ye... kalau Ayang Alex dan Pak Nando mah emang dari awal nggak nyeremin beda kali sama suamimu", kata Ana.
" Iya,suamimu itukan dulu nyeremin banget yah walau sekarang jadi bucin juga kayak cowok-cowok lain yang lagi kasmaran",ledek Dewi.
Diam-diam Bintang tersenyum,karena semua yang di omongin dua sahabatnya itu memang ada benarnya juga. Dulu Bintang sendiri juga pernah merasa takut melihat tatapan dingin suaminya itu.
"Ohya Bi,kok Tante Mia nggak kelihatan dari tadi? Apa beliau sakit?" tanya Ana
"Mama ada di kamarnya,sejak kami pulang dari Bandung mama jarang ke luar dari kamar. Bahkan Tama dan Mikha saja nggak bisa bujuk mama buat keluar dari kamar", jawab Bintang yang raut wajahnya berubah sendu mengingat keadaan mertuanya itu.
" Sabar ya Bi,aku yakin saudara kembar Pak Rangga akan secepatnya kembali ke rumah ini",kata Dewi sambil menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
"Aku juga yakin,kalau dia juga akan secepatnya dapat donor jantung yang sesuai", tambah Ana.
" Jadi kalian juga sudah tahu soal itu?"tanya Bintang penuh selidik.
"Ya tahulah,kamu lupa apa kalau suamiku itu asisten dari suamimu?", jawab Dewi.
" Kalau aku tahu dari Yayang Alex, katanya Pak Rangga minta supaya saudara kembarnya itu di daftarkan sebagai calon penerima jantung di rumah sakit keluarga Rahardian",jawab Ana.
Ketiganya berpelukan sama seperti yang dulu biasa mereka lakukan saat salah satu dari mereka ada masalah.
*****
Di kamar Mikha..
Sejak masuk tadi Mikha dan Kiara bermain boneka bersama,mereka terlihat sangat bahagia. Sementara Tama hanya bisa diam melihat Kiara dan saudara kembarnya itu bermain.
Akhirnya untuk mencairkan suasana Tama mengambilkan minuman untuk mereka.
"Hei,kalian berdua. Ini minum dulu,pasti kalian hauskan", suruh Tama sambil meletakkan dua gelas es sirup di depan Kiara dan Mikha.
" Ayo Kia kita minum dulu",ajak Mikha.
"Tama,kamu nggak masukin yang aneh-anehkan?" tanya Kiara yang masih curiga dengan kebaikan Tama kali ini karena selama ini Tama sering menjahilinya.
"Aku masukin racun tikus di dalam es sirup itu", jawab Tama ketus.
" Tama!!!",teriak Kiara.
"Kalau nggak mau sini,aku bawa ke luar esnya".
Tama berusaha mengambil kembali gelas yang baru saja dia bawa.
" Kamu bilang ini buat Kia sama Mikha, kenapa mau di ambil lagi?",Kiara menjauhkan minuman yang di bawa Tama tadi dari jangkauan Tama.
Kiara langsung meminum es tersebut tanpa sisa setetespun.
Seulas senyum mengembang di sudut bibir Tama melihat es yang dia bawa di minum oleh Kiara.
"Karena Tama sudah baik sama Kia,Tama boleh kok ikutan main sama kita. Iyakan Mikha?", kata Kiara di sertai senyum indahnya.
Mereka bertiga pun bermain bersama.
*****
Di kediaman keluarga Javier...
Seharian Dinda merawat Harry tanpa rasa lelah.
Yuna sangat bahagia melihat senyum yang di tunjukkan anak angkatnya sejak kehadiran Dinda. Dia merasa bahagia saat anak angkatnya itu bahagia.
" Ibu janji Nak,ibu akan selalu mempertahankan senyum di wajahmu itu. Ibu tidak akan membiarkan Michel mengambil senyum itu darimu,meskipun nyawa ibu sebagai taruhannya ibu rela ",kata Yuna dalam hati.
Tapi hati Yuna kembali teriris mengingat ucapan dokter,kalau Harry tidak akan bisa bertahan lama jika dia tidak mendapatkan donor jantung secepatnya.
"Bagaimana aku bisa mendapatkan donor yang cocok untuk Harry?", lagi-lagi Yuna bermonolog.
Yuna mengambil ponsel di sakunya dan menekan beberapa nomor di layar ponsel miliknya,setelah itu dia menekan tombol berwarna hijau. Tidak lama kemudian telponnya tersambung.
" Hallo Dokter,bisakah Dokter ke Jakarta? aku ingin melakukan cek"
kata Yuna karena yang dia hubungi adalah Dokter George,dokter jantung yang menangani Harry sejak bayi.
"Untuk apa Nyonya?" tanya Dokter George dari seberang sana.
"Aku hanya ingin tahu apa jantungku cocok untuk Harry", jawab Yuna.
" Maksud Anda, Anda ingin mendonorkan jantung Anda untuk Harry? "tanya Dokter George lagi.
Yuna diam tidak menjawab.
"Maaf Nyonya,hanya orang yang sudah meninggal yang bisa mendonorkan jantungnya untuk Harry",kata Dokter George.
"Tenang saja Dokter aku tidak akan mendonorkan jantungku selama aku masih hidup. Aku hanya ingin tahu saja apa jantungku sesui dengan jantung Harry tidak lebih", jawab Yuna.
" Baiklah Nyonya, dua hari lagi aku akan ke Jakarta. Kebetulan aku ada panggilan untuk mengajar di rumah sakit di Jakarta dua hari lagi",kata Dokter George.
Yuna menutup telponnya.
"Ibu akan melakukan apapun untukmu Harry, meskipun ibu harus menyerahkan nyawa ibu" kata Yuna sambil menatap putranya yang sedang bercanda dengan Dinda.
## Jangan lupa like,komen dan vote ya agar author makin semangat buat update. Maaciuw 😘