Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 202


Rangga menatap istrinya tersebut.


"Mas...," panggil Bintang ketika suaminya itu masih belum bereaksi.


"Sayang, jangan khawatir. Hasil pemeriksaan kesehatan mama semuanya baik," jawab Rangga yang kemudian tersenyum kepada istrinya.


Kini giliran Bintang yang merasa heran, bagaimana hasilnya bisa baik, jika diagnosa kesahatan itu menyatakan kalau mama mertuanya menderita penyakit kanker otak.


Bintang beralih menatap mertuanya, dia berharap kalau yang di sampaikan Rangga benar adanya. Bukan sebuah kebohongan apalagi konspirasi yang di lakukan mertuanya dengan dokter yang memeriksanya.


Mia membalas tatapan menantunya itu dengan anggukan dan sebuah senyuman.


"Mama akan ceritakan segalanya nanti, saat kamu pulang," imbuh Mia.


Bintang mengangguk, setidaknya kini dia merasa lega karena ternyata mertuanya itu baik-baik saja.


Bintang mengantar suami dan mertuanya sampai di parkiran rumah sakit.


"Nak, Mama pulang ya!" pamit Mia kepada menantunya.


"Hati-hati ya Ma," ucap Bintang. Bintang mencium punggung tangan mamanya.


Rangga membukakan pintu mobil untuk mamanya, setelah dia kembali menghampiri istrinya.


"Sayang, aku antar mama pulang ya! Nanti aku akan menjemputmu!" seru Rangga kepada istrinya.


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya," jawab Bintang seraya mencium punggung tangan suaminya.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Rangga memberikan ciuman di kening dan bibir istrinya.


"Ingat jangan lupa menyempatkan diri untuk makan, aku tidak mau istriku menjadi kurus," kata Rangga seraya mengusap bibir istrinya yang basah karena bekas ciuman darinya.


"Pasti, Mas. Jangan khawatir, aku akan makan yang banyak biar menjadi gemuk," jawab Bintang.


Rangga hanya menggelengkan kepalanya sembari tertawa.


"Sudah sana masuk, Mama sudah menunggu lama!" seru Bintang.


"Bye, Sayang. I love you," ucap Rangga sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam mobil.


"Love you too, Sayang," jawab Bintang.


Mobil yang di kendarai Rangga mulai meninggalkan parkiran rumah sakit, setelah mobil itu sudah semakin jauh dan tak terlihat, Bintang kembali masuk ke dalam rumah sakit. Namun langkahnya terhenti saat mendengar seseorang memanggil namanya.


"Bintaaannnggg," panggil orang itu seraya berjalan mendekat ke arahnya.


Siapa lagi orang yang selalu heboh dan suka berteriak-teriak saat memanggil namanya kalau bukan sahabatnya, Ana.


"Berisik tahu," ucap Bintang sambil berpura-pura menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya.


"Jahat, bener kamu sama temen sendiri," kata Ana sambil memajukan bibirnya.


"Jangan di maju-majuin gitu, jelek tahu," cibir Bintang.


"Ish. Kamu ini ya, benar-benar teman durhaka. Teman ngambek bukannya di bujuk malah di bilang jelek. Dasar!" timpal Ana.


Mereka berjalan beriringan menuju ke dalam gedung rumah sakit.


"Tumben jam segini kamu ke mari, nggak sibuk di restoran?" tanya Bintang.


"Aku sudah menyuruh orang kepercayaanku, untuk mengurus restoran sementara. Aku hanya datang sesekali ke restoran sekedar untuk memeriksa laporan pembukuan restoran," jelas Ana.


"Terus kamu kesini untuk apa? Jangan bilang kalau kamu datang untuk mengawasi suamimu. Kamu tidak perlu khawatir, kalau ada dokter cantik atau perawat cantik yang mencoba mendekati suamimu pasti mereka sudah aku tabok pakai jarum suntik," kata Bintang bercanda.


Ana tertawa mendengarnya.


"Nggaklah, Bi. Yayang Alexkan setia, sama kayak suamimu Pak Rangga. Mungkin lebih setia mas Alex kayaknya."


Bintang memutar bola matanya malas.


"Ohya, aku sudah USG kemarin. Dan kata dokter calon anakku ini kemungkinan cewek, jadi kamu harus ingat, kalau si Arya bakal jadi calon mantuku. Jadi kamu tidak boleh merebutnya," kata Ana lagi.


Bintang kembali menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang kadang-kadang absurd.


"Bi, kapan-kapan kita ke tempat Dewi lagi yuk! Aku sudah kangen sama calon mantuku itu!" ajak Ana.


"Iya, kita kesana nanti saat aku free," jawab Bintang singkat.


Bintang menghentikan langkahnya saat mereka tiba di depan pintu ruangannya.


Ana melihat sekelilingnya sebentar.


"Aku ke ruangan Mas Alex saja, soalnya aku bawakan makan siang untuknya dari rumah. Apa kamu mau ikut makan siang bareng kami, Bi?" jawab Ana seraya bertanya.


"Tidak ah, aku tidak mau jadi obat nyamuk untuk kalian berdua," tolak Bintang.


Mereka kembali tertawa bersama.


"Aku ke ruangan Mas Alex dulu ya, Bi. Nanti kalau urusan kami beres aku akan menemuimu lagi. Bye Bintang," pamit Ana seraya melambaikan tangannya, Bintang membalasnya dengan kibasan tangan.


Ana berjalan meninggalkan Bintang, untuk menuju ke ruangan suaminya. Setelah Ana pergi dari hadapannya, Bintang masuk ke ruangannya.


*****


Malam harinya di kediaman Wijaya


Setelah pulang dari rumah sakit, Bintang langsung menemui mertuanya di kamarnya. Dia betul-betul penasaran dengan hasil pemeriksaan mertuanya tadi siang.


Tok tok tok


Bintang mengetuk daun pintu kamar mertuanya.


"Masuklah, Nak!" suruh Mia dari dalam.


Saat itu Mia sedang duduk di atas ranjangnya seraya membaca sebuah majalah di tangannya. Bintang berjalan ke arah mertuanya dan duduk di hadapan mertuanya itu.


"Mama tidak melakukan hal yang aneh-aneh lagikan, Ma?" tanya Bintang dengan menatap mata mertuanya. Mia meletakkan majalah yang ada di tangannya di atas tempat tidur di sebelah dirinya duduk.


"Maksudmu?" Mia malah balik tanya.


"Mama tidak bersekongkol dengan dokter untuk membuat laporan palsukan?" tanya Bintang dengan suara lirih yang hanya bisa di dengar oleh orang di hadapannya.


Mia tertawa mendengar tuduhan menantunya tersebut.


"Kenapa Mama malah tertawa?" tanya Bintang lagi.


"Kamu itu aneh, masa iya Mama bekerjasama untuk membuat laporan palsu. Semua laporab tadi siang itu asli, Sayang" jawab Bintang.


Kini giliran Bintang yang merasa bingung dengan jawaban dari mertuanya itu.


"Lalu diagnosa yang Mama tunjukkan padaku kemarin itu apa?" tanya Bintang lagi.


"Sini biar mama ceritakan!" seru Mia yang meminta menantunya itu untuk duduk di sebelahnya.


Mia mulai menceritakan ketika tadi pagi dia hendak berangkat ke rumah sakit. Ketika dia bersiap dan hendak berangkat bersama dengan menantunya pagi tadi, tiba-tiba dia mendapat telpon dari dokter tempat dia memeriksakan diri sebelumnya. Dokter itu memberitahunya kalau ternyata laporan yang diberikan padanya kemarin tertukar dengan pasien lain. Dokter itu juga menjelaskan, bahwa sakit kepala yang di derita Mia bukanlah sakit karena kanker otak seperti yang tertulis pada laporan kesehatan tersebut melainkan karena dirinya menderita vertigo.


Bintang langsung bernapas lega mendengarnya. Ternyata kekhawatiran yang dia pikirkan sejak semalam tidak menjadi kenyataan. Pantas saja saat melakukan pemeriksaan terhadap mertuanya kemarin, Bintang merasa ada kejanggalan dengan pemeriksaan yang dia lakukan dengan laporan yang dia dapatkan dari mertuanya. Ternyata itu di sebabkan karena memang ada kesalahan di dalamnya.


"Bagaimana mungkin seorang dokter memberikan laporan yang salah kepada pasiennya., benar-benar dokter yang ceroboh," kata Bintang menanggapi cerita mertuanya itu.


"Dokter itu cuma mengatakan kalau itu akibat kecerobahan suster yang bertugas. Tapi Mama senang, setidaknya Mama masih memiliki waktu yang panjang untuk bisa melihat semua anak dan cucu Mama bahagia," kata Mia panjang lebar.


"Bintang juga sangat bahagia mendengarnya, Ma," ucap Bintang.


Menantu dan mertuanya itu berpelukan meluapkan kebahagian keduanya.


"Pantas saja Mama terlihat santai saat masuk ke ruang pemeriksaan tadi, ternyata Mama sudah tahu kalau Mama sehat," kata Bintang lagi.


"Mama benar-benar sudah membuat Bintang takut seharian," keluh Bintang.


"Maafkan, Mama Sayang," ucap Mia seraya membelai rambut menantunya tersebut.


"Tidak apa-apa, Ma," kata Bintang di pelukan mertuanya tersebut.


Malam itu menjadi malam yang membahagiakan bagi Bintang dan Mia.


➡️ Tetap tinggalkan jejak kalian ya readerkuh...dengan cara like, komen dan vote sebanyak-banyaknya.


➡️ Baca juga karya di bawah ini:




Terimakasih, sun sayang dari author untuk kalian😘😘😘