
Rangga berdiri di depan pintu kamarnya, hatinya terasa sakit ketika mendengar tangis istrinya dari dalam kamar.
Dia sudah mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu, tapi kemudian dia urungkan.
"Tidak ini belum saatnya. Aku akan memberi waktu 3 hari. Jika dalam 3 hari dia masih diam, maka terpaksa aku yang akan membongkarnya," batin Rangga.
"Rangga, ikut mama sekarang. Kamu juga Celin!" suruh Mia kepada dua orang tadi.
Mia mengajak keduanya ke kamarnya, dia tidak ingin menantunya mendengar apa yang akan dia bicarakan.
Plak!
Sebuah tamparan melayang di pipi Rangga dengan sangat keras hingga meninggalkan bekas kemerahan. Dengan menggunakan telapak tangan kanannya Rangga memegang pipi yang baru saja ditampar oleh mamanya.
"Kak, Kakak tidak apa-apakan?" tanya Celin sambil berusaha melihat wajah Rangga, namun Rangga malah menyingkirkan tangan Celin dari pipinya.
"Ceritakan pada Mama apa yang sebenarnya terjadi!" Mia dengan sorot tajamnya.
"Biar, Celin yang bercerita, Ma," jawab Celin, dia melirik Rangga sebentar.
"Ceritakanlah!"
"Malam itu aku menemani kak Rangga meeting hingga larut malam. Sebelum pulang aku memesan dua minuman untuk kami. Tapi, anehnya setelah minum minuman itu sikap Kak Rangga berubah, Ma. Kak Rangga mulai agresif terhadapku, bahkan dia juga menarik tanganku untuk dibawa masuk ke kamar hotel. Aku sudah berusaha menolaknya. Tapi, Kak Rangga terus memaksaku hingga akhirnya aku pun pasrah melayaninya. Maafkan aku, Ma."
"Ternyata pandai juga dia bersandiwara," batin Rangga.
"Rangga, apa benar yang dikatakan oleh Celin?"
"Rangga tidak tahu, Ma. Rangga tidak ingat apa pun," jawab Rangga. Dia berpura-pura memasang wajah menyesal.
"Kok aneh, memang apa yang kamu minum?" tanya Mia penasaran.
"Rangga, cuma minum jus orange yang yang diberikan oleh Celin kepadaku," jawab Rangga dengan melirik ke arah Celin.
Celin yang mendengar itu sedikit gelagapan.
"Kalau yang kamu minum cuma jus, bagaimana kamu bisa melakukan hal brengsek itu tanpa kamu mengingatnya? Mama rasa ada orang yang sengaja menjebak kalian. Mama akan minta rekaman cctv dari hotel itu."
"ja... jangan Ma jangan! Mak..maksud Celin, Celin sudah pernah minta, tapi rekaman cctv itu tidak ada. Katanya sudah ada orang yang memintanya," jawab Celin dengan wajah sedihnya.
"Kenapa aku sampai lupa hal sepenting itu, aku harus segera meminta rekaman cctv malam itu. Kalau tidak semuanya bisa terbongkar," batin Celin.
"Ma, jebakan atau bukan anak yang di kandungan Celin ini juga anak Kak Rangga cucu mama. Celin nggak mau dia hidup tanpa kasih sayang dari ayahnya," kata Celin dengan wajah sedihnya.
Mia menatap Celin sambil memikirkan hal yang dikatakan oleh Celin barusan. Semua ucapan Celin ada benarnya. Anak di kandungan Celin juga cucunya, dan anak itu mempunyai hak yang sama dengan anak yang sedang dikandung oleh Bintang.
"Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus tetap bertanggung jawab atas bayi yang Celin kandung." kata Mia dengan tegas, dia mencoba bersikap bijak.
"Kamu harus menikahi Celin" lanjut Mia, Rangga terkejut mendengarnya. Sementara Celin dia tersenyum bahagia.
"Lalu Bintang?" tanya Rangga.
"Dia juga harus menerimanya," jawab Mia kemudian meninggalkan mereka.
"Kak, maafkan aku. Aku tidak bermaksud merusak rumah tangga kakak dengan Kak Bintang. Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan anak dalam kandunganku ini lahir tanpa ayah," ucap Celin.
Rangga hanya menatapnya jengah. Tanpa memperdulikan Celin Rangga keluar dari kamar mamanya. Dia langsung masuk ke ruang kerjanya.
"Nando, cari tahu siapa dokter yang membantu Celin membuat surat kehamilan palsunya. Buat dia kehilangan izin prakteknya!" perintahnya kepada Nando lewat telpon.
"Sesuai peritahmu."
"Satu lagi, mulai sekarang suruh beberapa anak buahmu untuk menjaga Bintang. Aku tidak mau kecolongan seperti dulu. Tapi ingat jangan sampai Bintang tahu."
"Oke, lalu bagaimana dengan Dia?" tanya Nando.
"Aku putuskan memberinya waktu 3 hari. Tapi, jika dalam 3 hari ini dia masih diam saja, maka terpaksa aku sendiri yang akan membuka kedoknya," jawab Rangga. Kemudian dia menutup panggilan telponnya.
Hari berikutnya, usai sarapan. Mia menemui Bintang di kamarnya, karena sejak semalam Bintang belum keluar dari kamarnya.
"Bintang, bagaimana keadaanmu?" tanya Mia.
"Aku baik-baik saja kok, Ma," jawab Bintang dengan mata yang terlihat bengkak. Mia yakin kalau semalam menantunya itu terus menangis. Tetapi, Mia juga harus membicarakan soal keputusannya tentang Rangga dan Celin.
"Ada yang ingin mama katakan padamu."
"Kalau ini soal Mas Rangga dan Celin, maaf, Ma, Bintang belum siap mendengarnya," jawab Bintang mencoba menghindar, karena saat ini dia merasa hatinya benar-benar hancur.
Mia menatap menantunya itu, dia tahu kalau sekarang kondisi Bintang sedang tidak baik. Tapi bagaimana pun dia harus membicarakan pernikahan Rangga dengan Celin pada menantunya itu.
"Ma, Bintang mau kuliah dulu. Kalau ada yang ingin mama bicarakan nanti saja setelah Bintang pulang kuliah," pamit Bintang seraya melangkah keluar dari kamarnya.
"Rangga akan menikah dengan Celin 3 hari dari sekarang."
Bintang menghentikan langkahnya, air mata yang dia kira sudah habis ternyata masih ada. Padahal semalaman dia sudah mengelurkan air matanya itu. Tetapi, sekarang air mata itu kembali harus keluar.
"Maafkan Mama, karena mama mengambil keputusan ini tanpa meminta persetujuan darimu."
Mia berjalan mendekati Bintang. "Mama tahu ini berat bagimu, tapi bagaimana pun bayi dalam kandungan Celin itu tidak salah, dia juga berhak mendapat kasih sayang dan pengakuan ayahnya."
Bintang masih diam, Mia menepuk pelan bahu menantunya tersebut. Kemudian dia meninggalkannya.
Pulang kuliah, Bintang langsung ke tempat Ana dan Dewi. Saat ini dia butuh orang untuk mencurahkan segala kesedihannya. Dia tidak mungkin menceritakan masalahnya kepada ibu atau kakaknya. Ibunya sudah pulang ke kampung, sementara Kakaknya dia baru saja bahagia dia tidak ingin merusak suasana bahagia kakaknya. Apalagi selama ini kakaknya sudah terlalu menderita.
Tiba-tiba saja Bintang memeluk dua sahabatnya, air matanya kembali tumpah. Ana dan Dewi saling tatap keduanya bingung,apalagi melihat keadaan temannya yang tidak seperti biasanya. Kedua matanya sembab dan wajahnya sedikit pucat.
Mereka berdua mengajak Bintang ke ruangan Ana.
"Bi, ada apa?" tanya Ana.
"Iya. Kamu kenapa sih, Bi? Apa ada masalah?" tanya Dewi.
"Ternyata omongan kamu waktu itu bener, Rangga bersikap manis karena dia menutupi sesuatu dariku," Bintang menatap ke arah Dewi.
"Maksud kamu apa? Lagian omonganku waktu itukan cuma candaan."
"Rangga menghamili Celin," jawab Bintang dengan cepat, air matanya kembali luruh. Ana dan Dewi terdiam, mereka masih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Kamu, jangan bercanda seperti itu, Bi. Pak Rangga itukan cinta banget sama kamu. Jadi, mana mungkin dia mengkhianati kamu," kata Ana.
"Ana bener, mungkin ini cuma salah paham saja, Bi," tambah Dewi.
"Aku berharap juga begitu. Tapi kenyataanya, mereka akan menikah 3 hari lagi."
"Apa?!" teriak Ana dan Dewi bersamaan.
"Bi, kalau mereka nikah, gimana dengan nasib bayi yang ada di dalam kandungan kamu?"
Bintang hanya menggeleng.
"Sekarang kamu istirahat saja di sini, nanti kalau kerjaan di restoran selesei kita bicara lagi!" suruh Ana.
"Iya, Bi. Jangan sampai gara-gara masalah ini anak kamu kenapa-napa," tambah Dewi.
Ana dan Dewi, meninggalkan Bintang di ruangannya agar sahabatnya itu bisa beristirahat dan sedikit menenangkan pikiran.
Di tempat lain, Rangga langsung menghubungi Nando setelah membaca sms darinya.
"Apa maksud smsmu barusan?" tanya Rangga dengan emosi.
"Seperti yang aku laporkan tadi, Celin saat ini memang sedang hamil dan itu adalah fakta," jawab Nando.
Rangga mengepalkan tangannya, dia semakin geram mendengar laporan Nando barusan.