
Dinda terkejut saat melihat kalung yang di pegang oleh Harry.Dia mengambil kalung tersebut dari tangan Harry.
"Kalung ini..."
Dinda mengingat kejadian waktu dia kecil saat dia berumur 7 tahun.
## Flash back
Hari itu Dinda kecil menangis di pinggir jalan raya. Seorang wanita tua berusaha membujuknya agar tidak menangis,namun usahanya sia-sia. Dinda kecil masih terus saja menangis.
Kebetulan ada seorang gadis bersama dengan ayahnya sedang berjalan di sekitar jalan raya itu.
Gadis kecil itu menggoyang-goyangkan tangan ayahnya.
"Ayah,bolehkah aku menghiburnya?" tanya gadis kecil itu pada ayahnya.
Ayah sang gadis kecil itu menganggukkan kepalanya.
Gadis kecil itu mendekati Dinda kecil yang masih menangis.
"Kamu kenapa?"tanya gadis kecil itu kepada Dinda.
" Dia tidak ingin ikut denganku karena makam kedua orang tuanya ada di sini.Tapi aku tidak bisa meninggalkan cucuku sendirian di sini "justru nenek dari Dinda yang menjawabnya.
Dinda kecil masih saja menangis.Gadis kecil itu memberikan beberapa makanan yang di bawanya,namun Dinda kecil tetap saja menangis.
Tangis Dinda kecil langsung berhenti,tatkala gadis kecil itu memberikan kalung dengan liontin bintang.
" Ambillah jika kamu suka!"kata gadis kecil itu.
Dinda kecil mengambil kalung tersebut dari tangan gadis kecil itu.
"Itu adalah hadiah ulang tahun dari ayahku,jika kamu suka kamu boleh mengambilnya"
"Benarkah ini untukku?" tanya Dinda kecil.
"Iya. Ikutlah dengan nenekmu,jangan buat dia mengkhawatirkanmu. Aku yakin kedua orang tuamu sudah bahagia di atas sana.Saat kamu merindukan mereka, kamu bisa melihat bintang yang bertaburan di langit karena salah satu bintang itu pasti adalah orang tuamu.
Tapi jika kamu tidak bisa melihat bintang di langit karena mendung,kamu bisa melihat liontin itu,karena saat gelap liontin itu akan mengeluarkan cahaya", kata gadis kecil itu panjang lebar.
"Terimakasih", ucap Dinda kecil dengan senyum bahagianya
" Ayo Omah,Dinda mau kok pergi ke Paris ikut Omah",kata Dinda kecil kepada neneknya.
"Terimakasih ya Nak,berkat kamu cucuku mau ikut juga ke Paris. Dari tadi aku sudah berusaha membujuknya,tapi dia terus saja menangis. Sekali lagi terimakasih ya Nak"ucap nenek itu kepada gadis kecil itu.
Dinda kecil dan neneknya berjalan meninggalkan gadis kecil itu bersama dengan ayahnya.
Ayah gadis kecil itu mendekati putri kecilnya yang menurutnya hebat.
" Ayah bangga padamu,Sayang ",ayah gadis kecil itu menggendong putrinya yang hebat.
##Flash back and
" Tadi kamu bilang kalung itu milik siapa?"tanya Dinda kepada Harry.
"Bintang bilang miliknya", jawab Harry yang justru bingung dengan sikap Dinda.
Dinda berlari kecil menuju ke tempat para dokter jaga beristirahat di rumah sakit. Harry yang penasaran pun mengikuti langkah Dinda.
" Dinda ada apa?",tanya Bintang yang merasa bingung karena tiba-tiba teman sekamarnya itu memeluknya.
"Bintang, akhirnya aku bertemu denganmu", ucapnya.
" Lho,kita kan biasa bertemu Din?"tanya Bintang.
Dinda menunjukkan kalung milik Harry tadi.
Sekarang Bintang mengerti maksud perkataan Dinda.
"Jadi gadis kecil yang menangis di pinggir jalan raya itu kamu?" tanya Bintang untuk memastikan.
Dinda mengangguk.
"Kenapa waktu itu kamu menangis?" tanya Bintang lagi.
"Tadinya aku tidak ingin ikut Omah ke Paris, tapi karena perkataanmu aku setuju ikut dengan Omah"jawab Dinda.
" Aku selalu menatap liontin pemberianmu itu saat aku merindukan orang tuaku. Tapi suatu hari saat aku ikut omah ke sebuah rumah sakit di Paris,aku melihat kakak tampan yang sepertinya sedang sedih dan putus asa,jadi aku memberikan kalungmu itu padanya " tutur Dinda.
"Tunggu!", Harry menginterupsi pembicaraan mereka.
Bintang dan Dinda mengangguk bersamaan.
"Tadi aku ingin bertanya padamu dari mana kamu mendapatkan kalung itu,tapi karena panggilan mendadak aku tidak sempat menanyakannya padamu. Dan sekarang aku tahu ternyata Dinda yang memberikannya padamu", kata Bintang sembari tersenyum.
Entah kenapa Harry merasa lega,karena gadis kecil yang memberinya kalung adalah Dinda. Senyum bahagia tampak begitu jelas menghiasi wajahnya.
" E...Harry, bukankah kamu sedang mencari gadis kecil yang memberimu kalung? "tanya Bintang.
" Sekarang gadis kecil yang kamu cari itu ada di depanmu,kenapa kamu tidak mengajaknya makan malam untuk berterimakasih ",Bintang sengaja mengatakan itu untuk mendekatkan iparnya dengan temannya Dinda.
" Kalau Dokter Dinda tidak keberatan untuk makan malam bersamaku,aku pasti akan sangat senang",kata Harry.
"Baiklah,kebetulan aku juga sudah selesei tugas", kata Dinda.
" Bintang, kami jalan dulu ya ".
Bintang ikut merasa bahagia melihat kedekatan teman dan iparnya.
" Mas Rangga, aku sungguh merindukanmu. Tama Mikha mommy kangen kalian",kata Bintang dalam hati.
Di saat yang bersamaan ponsel milik Bintang berdering. Dan ternyata itu adalah telpon dari suaminya, Rangga.
"Iya,Sayang"
Bintang dan Rangga menumpahkan rasa kangen mereka melalui sambungan telpon. Mereka mengungkapkan rasa kangennya dengan lewat kata-kata romantis.
*****
Beberapa hari kemudian...
Siang itu usai rapat,Rangga di kejutkan dengan kedatangan Om Edwar ke kantor Wijaya Grup.
"Om,ada apa sampai Om datang ke kantor ini?" tanya Rangga.
"Ayo silahkan duduk", suruh Rangga.
" Erik bilang cuma 3 hari di Jakarta,tapi sudah seminggu lebih dia belum juga kembali ke Paris jadi aku sengaja menyusulnya".
"Bukan karena ada urusan lain Om?" tanya Rangga.
"Apa maksudmu?" tanya Edwar.
"Tidak kenapa-napa kok Om. Aku hanya asal bicara saja", jawab Rangga.
" Ohya aku dengar para investor Wijaya Grup, sudah kembali menginvestasikan dananya ke perusahaan ini lagi. Memang langkah apa yang kamu lakukan hingga mereka mau berinvestasi di Perusahaanmu lagi? ",tanya Edwar.
" Bukan apa-apa Om.Aku hanya menggunakan sedikit pancingan agar Mereka semua kembali mau berinvestasi. Bahkan investasi mereka jauh lebih besar dari sebelumnya",jawab Rangga dengan sedikit menyombongkan diri.
"Ternyata darah Harryangga benar-benar mengalir di tubuhmu.Dulu meskipun perusahaannya ambruk Harryangga akhirnya bisa bangkit hanya dengan modal kecil yang aku berikan" kata Edwar.
"Kenapa aku tidak melihat Erik di sini?", tanya Edwar sambil melihat sekelilingnya mencari keberadaan anaknya Erik.
" Pak Erik sedang menemani Kak Nia,bertemu dengan client baru. Ohya Om,aku minta maaf karena menahan Pak Erik di sini terlalu lama"kata Rangga
"Jangan sungkan, bukankah perusahaan kami yang berada di Paris juga termasuk milik Wijaya Grup?"
"Om,benar kenapa aku sampai lupa ya jika perusahaan Om juga milik Wijaya Grup",kata Rangga.
"Ohya Rangga, aku dengar perusahaan Wijaya Grup sedang menangani sebuah project besar. Kalau boleh Om tahu project apa itu?", tanya Om Edwar.
" Aku juga belum tahu karena project itu di tangani langsung oleh Nando ",jawab Rangga.
" O...begitu",Om Edwar sedikit kecewa mendengar jawaban dari Rangga.
"Di mana Om tinggal selama di Jakarta? Apa Om tinggal di hotel bersama dengan Pak Erik?", tanya Rangga.
" Tidak, aku tinggal di apartemen lama milik teman. Ohya Rangga,kalau begitu Om pamit ya. Kapan-kapan Om akan menemuimu lagi",pamit Om Edwar.
"Hati-hati Om,lain kali kita pasti bertemu lagi".
Akhirnya Om Edwar pergi meninggalkan kantor Wijaya Grup.
" Rangga, kenapa kamu bilang aku yang menangani project baru itu sendiri?" tanya Nando yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Sebenarnya tadi waktu melihat Om Edwar datang Nando sudah mau menemuinya hanya sekedar untuk menyapa. Tapi dia urungkan saat mendengar Rangga mengatakan kalau dirinya sedang menangani project besar.
"Jangan bilang kalau kamu.."
Rangga hanya menganggukkan kepalanya.