
Rania berbalik kemudian melihat siapa yang di panggil papi oleh anak itu.
Rania dan orang itu sama-sama terkejut .
"Rania.."
"Kamu.."
Kata mereka bersamaan.Orang itu berjalan ke arah Rania.
"Bagaimana kabar Anda nona Rania?", tanya orang itu.
" Aku baik. Pak Erik sendiri?",Rania balik tanya. Orang yang di panggil papi oleh Leon adalah Erik.
"Seperti yang Anda lihat,nona Rania", jawab Pak Erik.
" Aku kira Anda sudah kembali ke Paris setelah mengundurkan diri dari perusahaan Wijaya Grup.Tapi ternyata Anda masih di kota ini".
Erik dan Rania duduk di bangku kosong yang ada di sekitar taman tersebut.
"Saya hanya malu pada keluarga kalian,karena penghianatan yang di lakukan oleh ayah saya", kata Erik lagi.
" Papi,aku main ke sana dulu ya",kata Leon sembari berlari menjauh dari tempat Erik dan Rania duduk.
"Hati-hati Leon,jangan terlalu jauh", seru Erik kepada anaknya.
" Dia anakmu?",tanya Rania.
"Iya, lebih tepatnya anak angkat saya nona Rania. Saya baru mengadopsinya sebulan ini",jawab Erik
" Jangan panggil nona kesannya terlalu formal.Lagian Andakan bukan pegawai Wijaya Grup lagi",kata Rania.
"Baiklah,Nona. Maksudku Rania", jawab Erik.
" Ohya,kenapa kamu harus mengadopsi Leon? Apa istrimu tidak bisa memiliki anak?"tanya Rania dengan hati-hati. Dia takut kalau Erik akan tersinggung dengan pertanyaannya.
Erik hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Rania.
"Kenapa kamu malah tertawa? Apa ada yang aneh dengan pertanyaanku?",tanya Rania bingung.
" Jadi kamu sama sekali tidak tahu kalau istriku sudah lama meninggal?", Rania menggelengkan kepalanya.
"Maaf", ucap Rania.
" Tidak apa-apa ",jawab Erik.
"Aku kira kamu sudah tahu,soalnya Pak Rangga saja sudah tahu kalau istriku sudah lama meninggal", tambah Pak Erik.
"Apa kamu tidak sedih?"
"Tentu saja sedih, apalagi dulu dia meninggal saat sedang mengandung anak kami.Tapi masa aku harus terus-terusan bersedih selama 10 tahun".
" 10 tahun?",Rania terkejut mendengarnya.
"Iya,istriku sudah meninggal 10 tahun lalu", jawab Erik.
" Pasti kamu sangat mencintai istrimu, makanya kamu tidak mencari penggantinya. Kebanyakan laki-laki akan menikah lagi saat istrinya meninggal.Bahkan ada beberapa leleki yang meskipun sudah beristri,dia malah berselingkuh,dan ada juga yang memanfaatkan istrinya untuk mendapatkan sebuah proyek"tutur Rania yang mendadak raut wajahnya berubah sendu.
"Ada apa?", tanya Erik.
Rania menghela napasnya panjang.
" Aku pernah menikah dua kali tapi semuanya gagal. Suami pertamaku,memanfaatkanku untuk mendapatkan proyek besar.Dan suami keduaku meninggalkan aku setelah aku mengalami keguguran dan di vonis akan sulit memiliki keturunan. Sepertinya aku di takdirkan untuk tidak bahagia".
Rania menatap Erik,ketika tiba-tiba lelaki itu menggenggam tangannya.
"Tidak ada orang yang di takdirkan tidak bahagia. Semua orang pasti akan mendapatkan kebahagiaannya masing-masing,termasuk dirimu. Kamu pasti juga akan mendapatkan kebahagiaanmu sendiri.Percayalah", ucap Erik.
Rania menatap tangannya yang di genggam oleh Erik.
" Maaf",kata Erik sambil melepaskan tangan Rania dari genggamannya.
Tiba-tiba suasana menjadi cnggung.
"Papi,aku lapar", kata Leon yang baru saja selesei bermain.
" Apa kamu mau ikut makan bersama kami?",tanya Erik kepada Rania.
"E....", Rania menatap ke arah Leon,dia tidak ingin membuat anak itu tidak nyaman.
" Tidak apa-apa, Tante. Leon senang kalau Tante bersedia ikut bersama kami"jawab Leon.
Satu tangan Leon menggenggam tangan Rania dan satu lagi menggenggam tangan Erik. Ketiganya berjalan meninggalkan taman tersebut.Mereka bertiga berjalan layaknya sebuah keluarga.
*****
Pukul 8 malam,Bintang baru tiba di rumahnya. Saat dia membuka pintu, dia di sambut oleh kedua anaknya.
"Mommy...", panggil Tama dan Mikha seraya berlari ke arahnya.
" Sayang ",jawab Bintang sambil memeluk kedua anaknya.
" Kenapa Mommy baru pulang?"
"Apa pekerjaan Mommy terlalu banyak?"
"Mommy sudah makan belum?"
Tanya kedua anak itu bergantian. Sebenarnya Bintang cukup lelah hari ini,namun saat mendapat sambutan dari ke dua anaknya, rasanya lelah di tubuhnya hilang begitu saja.
Rangga yang sedang membaca koran pun,segera melipat koran di tangannya dan ikut menghampiri istrinya tersebut.
"Kenapa sampai jam segini?" tanya Rangga.
"Iya Mas,maaf.Tadi aku membantu Alex menangani pasiennya sabentar", jawab Bintang.
" Separtinya anak itu harus di beri peringatan",gerutu Rangga.
"Mas...", kata Bintang sambil memegang lengan suaminya.
" Iya-iya,aku tidak akan mengatakan apapun pada Alex ",kata Rangga.
" Mikha, Tama. Mommy tidak apa-apa kok.Kalian tidak usah mengkhawatirkan mommy",jawab Bintang sambil mengusap pipi kedua anaknya.
"Bagaimana dengan anak-anak mommy, Apa kalian juga sudah makan?" tanya Bintang kepada dua anaknya.
"Sudah, Mom.Hari ini Mikha makan sendiri. Mikha tidak minta di suapin sama nenek atau pun grandma", jawab Mikha.
" Wah,anak mommy pintar sekali",puji Bintang kepada putri kecilnya itu.
"Lalu bagaimana dengan kamu,Sayang?" kini giliran Bintang bertanya kepada anak laki-lakinya.
"Tama juga makan sendiri", jawab Tama
" Wah,Mommy benar-benar beruntung memiliki anak-anak yang hebat separti kalian",puji Bintang kepada keduanya.
"Mommy mandi dulu sebentar, setelah itu mommy akan menemani kalian belajar.Ok"
"Oke,Mommy", jawab kedua anaknya.
Bintang segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.
^°^°^°^
Selama hampir 1 jam Bintang menemani anak-anaknya belajar. Setelah memastikan keduanya tidur,Bintang segera kembali ke kamarnya.
Bintang naik ke atas tempat tidur dan duduk berselonjor dengan menyandarkan punggungnya. Dia memijit kakinya sendiri yang terasa pegal.
Tidak lama kemudian, Rangga juga masuk ke dalam kamar. Setelah mengunci pintu,dia ikut duduk di samping istrinya itu.
" Sepertinya capek sekali ".
" Sedikit",jawab Bintang
Rangga mengangkat kaki istrinya itu ke dalam pangkuannya dan memijitnya.
"Apa sudah enakan?", tanyanya.
" Lumayan ",jawab Bintang sambil memejamkan matanya.
Bintang kembali membuka matanya saat tangan suaminya itu menjalar kemana-mana. Bintang pun pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
*****
Bintang mengerjapkan matanya saat bias sinar matahari menembus masuk ke dalam kamar.
" Jam berapa ini "gumam Bintang. Dia meraih jam weker yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya.
Bintang buru-buru bangun saat jam itu menunjukkan pukul 7.30 pagi.
" Kenapa Mas Rangga nggak bangunin aku sih",Dia memunguti semua baju miliknya yang masih berceceran di lantai akibat kegiatannya semalam.
Kurang dari 15 menit,Bintang sudah siap dengan pakaian dinasnya.Dia langsung berangkat ke rumah sakit,tanpa sarapan terlebih dulu. Apalagi kedua anaknya sudah berangkat ke sekolah bersama daddy mereka.
*****
Begitu sampai di rumah sakit,Bintang melakukan aktifitas rutinnya.Yaitu berkeliling memeriksa pasien.
Setelah selesei dia kembali ke ruangannya.Rasanya saat ini perutnya sudah keroncongan minta di isi,karena pagi tadi dia tidak sarapan.
"Sebaiknya aku sarapan sebentar", kata Bintang,kemudian dia keluar dari ruangannya.
" Lin,ada apa?"tanya Bintang kepada Lina saat melihat ada kerumunan di koridor rumah sakit.
"Itu,Dok. Ada orang yang tiba-tiba menampar Pak Prayoga", jawab Lina.
" Pak Prayoga di tampar? Siapa orang yang berani melakukan itu? Kenapa dia di tampar?"
"Tidak tahu Dok,sepertinya seorang ibu-ibu", jawab suster Lina lagi.
Bintang dan Lina segera menerobos kerumunan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Bintang melihat seorang ibu yang berdiri membelakanginya sambil memarahi Pak Prayoga,sementara Pak Prayoga hanya diam mendengar makian ibu itu.
" Maaf,Bu.Tolong jangan membuat keributan di rumah sakit",kata Bintang sambil berjalan mendekati mereka.
Bintang terkejut saat tahu siapa ibu yang memaki Pak Prayoga barusan.