
Bintang meninggalkan rumah sakit dengan berjalan kaki menuju halte.
Saat sedang berjalan Dia merasa ada orang yang mengikutinya.
Tiba-tiba, ada yang menariknya bersembunyi di samping gedung. Dua orang pria bertubuh tegap dan memakai setelan jas hitam itu menunjuk ke arah belakang Bintang.
"Sial, tu cewek kemana? cCepat banget jalannya."
"Bos bakalan marah nih, ayo cepet cari dia!"kata penjahat 2.Kelima orang itu menjauh dari tempat itu.
"Kalian siapa?" tanya Bintang bingung.
"Maaf, Nyonya. kami hanya ditugaskan untuk menjaga keselamatan Anda."
"Menjagaku? Tapi ... siapa yang menyuruh kalian?" tanya Bintang penasaran.
"Maaf kami tidak bisa menjawab pertanyaan Anda."
Salah satu pengawal itu memberhentikan sebuah taxi dan menyuruh Bintang menaikinya.
"Silakan Nyonya! Kami akan mengikuti Anda dari belakang!" suruh pengawal tersebut, meskipun bingung, Bintang menurutinya.
"Siapa mereka? Lalu siapa juga orang-orang tadi?" batin Bintang. Dia memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya.
*****
"Baru pulang Nak?" tanya Mia.
"Iya, tadi mampir ke rumah sakit dulu," jawab Bintang.
"Mama khawatir sama kamu. Lyvia itukan licik, mama takut dia berbuat yang macam-macam sama kamu."
"Jangan khawatir, Ma. Bintang pasti bisa jaga diri." jawab Bintang.
"Ma, tadi.... " Bintang tidak melanjutkan perkataannya.
"Kalau mama tahu tadi ada orang yang ngikutin aku, pasti dia tambah khawatir," batin Bintang.
"Ada apa,Sayang?" tanya Mia.
"Ya sudah sana mandi dulu,terus makan. Mama temenin."
Bintang langsung masuk menuju kamarnya.Tiba-tiba dia merasa perutnya kembali mual. Dia langsung lari ke kamar mandi.
"Akhir-akhir ini kenapa perutku sering mual ya. Mungkin aku memang harus periksa ke dokter."
Bintang merebahkan tubuhnya di atas kasur, sambil menatap langit-langit kamarnya dia membayangkan suaminya.
"Kenapa aku jadi ingin memeluknya. Tidak...t tdak aku harus membiarkan dia tetap di luar sana. Aku harus bisa mencari bukti kebohongan Lyvia sebelum dia kembali. Ayo Bintang semangat!" Bintang mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Tidak lama ponselnya berdering, ternyata dari Rangga. Dia melakukan panggilan video call.
Cepat-cepat Bintang mengambil ponselnya itu
"Sayang, kenapa lama jawab telponnya?" tanya Rangga.
"Maaf, tadi aku baru dari kamar mandi," jawab Bintang.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rangga lagi. Bintang mengangguk.
"Kamu tahu aku sangat mengkhawatirkanmu tadi. Beneran kamu tidak apa-apa? Tidak terjadi apa-apakan tadi?" tanya Rangga memastikan.
"Iya, Sayang. Aku tidak apa-apa, kamu jangan khawatir."jawab Bintang.
" Lebih baik soal yang tadi aku rahasiakan dulu. Nanti kalau aku cerita pasti dia akan khawatir dan langsung pulang. Akukan belum dapat bukti apapun soal Lyvia." batin Bintang.
"Sayang, kamu melamun?" tanya Rangga yang melihat istrinya itu sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak aku hanya kangen saja sama kamu. Biasanya kalau perutku mual kamu akan mengelus perutku. Tapi, sekarang.... " jawab Bintang dengan wajah sedihnya.
"Apa perlu aku pulang sekarang?" tanya Rangga lagi.
"Tidak perlu. Kamu seleseikan saja pekerjaanmu tidak usah buru-buru! Kamu tinggal membayarnya nanti saat pulang aku tidak akan mengizinkanmu bekerja, lihat saja!" jawab Bintang dengan sedikit menggoda suaminya itu.
"Tentu saja, saat aku pulang nanti aku akan membuatmu tidak bisa jalan dan hanya berbaring di ranjang bersamaku." Jawab Rangga disertai tawanya.
Keduanya melanjutkan obrolan mereka dengan hal-hal yang menyenangkan.