Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 108


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi,tapi semua dokter yang semalam bertugas masih tertidur lelap.


Tapi tidak dengan Bintang, dia terpaksa keluar dari kamarnya saat mendapati suaminya datang.


Bintang mengajak suaminya ke taman yang letaknya dekat dengan rumah sakit.


"Ada apa sih Mas,pagi begini sudah datang? Aku itu masih ngantuk,tadi aku baru tidur jam setengah enam?", tanya Bintang sambil terus menguap.


" Aku hanya ingin kamu menemaniku sarapan",jawab Rangga.


"Baiklah, aku akan menemani Mas sarapan. Setelah itu aku akan kembali tidur", jawab Bintang.


" Memang jam segini ada restoran yang sudah buka?"tanya Bintang mengingat itu masih terlalu pagi.


"Aku sudah mengaturnya" jawab Rangga.


Mereka berdua pergi ke restoran yang ada di dekat rumah sakit.


" Kamu mau pesan apa?"tanya Rangga sambil melihat menu.


"Terserah Mas saja", jawab Bintang.


Rangga memesan beberapa masakan, tidak lama makanan pesanan mereka pun datang.


" Mas benar-benar memesan ini untuk aku?" tanya Bintang kepada suaminya saat ada masakan udang di meja.


"Itu enak Sayang" jawab Rangga.


Bintang menyentuh dahi suaminya kemudian dia juga menyentuh dahinya sendiri.


" Normal",kata Bintang sementara Rangga merasa bingung dengan apa yang di perbuat istrinya itu.


"Memang kenapa?Kamu tidak suka sama udang?" tanya Rangga lagi.


"Semalam Mas minum berapa botol?" selidik Bintang.


"Kalau kamu tidak mau menemani aku sarapan, bilang saja. Tidak usah tanya hal-hal yang sudah lewat semalam", bentak Rangga.


" Mas,kamu membentakku?",Bintang tidak percaya kalau suaminya benar-benar membentaknya.


Memang sebelum Rangga mengakui perasaannya,dia sering membentak Bintang. Tapi sejak dia mengakui kalau dia mencintai Bintang, dia tidak pernah sekalipun membentaknya.Meskipun ketika dia dalam keadaan marah.


"Kenapa?!? Kamu mau marah karena aku bentak?",tanya Rangga yang seakan tidak memperdulikan perasaan Bintang saat ini.


Bintang menatap suaminya,dia merasa kalau suaminya berbeda.


" Mas,kamu tahukan kalau aku alergi dengan udang?Lalu kenapa Mas malah memesan udang untukku? Mas ingin aku mati?",Bintang balik tanya.


Rangga mengusap wajahnya kasar,akhirnya dia tahu kesalahannya.


"Maaf aku lupa", ucap Rangga. Dia mengambil masakan udang yang ada di hadapan Bintang.


" Sekarang makanlah!",suruh Rangga.


"Aku sudah tidak lapar lagi",


Bintang hendak pergi meninggalkan suaminya itu, Namun tangannya di tahan oleh Rangga.


" Aku sudah bilangkan kalau aku lupa kenapa kamu masih marah".


"Kamu pikir saja sendiri", jawab Bintang sambil berjalan meninggalkan suaminya itu.


Bintang segera kembali ke mesnya,dia melihat Dinda masih tidur.Bintang merebahkan tubuhnya di samping Dinda.


Bintang mengambil foto yang dia letakkan di dalam laci.


" Kenapa kamu berubah sih, Mas? Bahkan hari ini kamu membentakku"batin Bintang.


Bintang menatap foto keluarga kecilnya.


"Mommy merindukan kalian.Tama Mikha apa kalian baik-baik saja?" ,batin Bintang sambil membelai wajah kedua anaknya yang ada di dalam foto.


Tiba-tiba Bintang ingat ucapan suaminya semalam. Semalam Rangga bilang akan datang akhir pekan ini bersama anak-anak, tapi kenapa pagi ini suaminya sudah berada di sini.


Bintang merasa ada keanehan pada suaminya sejak semalam. Selama ini Rangga tidak pernah minum,tapi semalam tercium bau alkohol dari mulut suaminya itu. Dan pagi ini,dia memesankan udang untuknya yang jelas-jelas udang adalah makanan yang tidak boleh di makan oleh Bintang karena Bintang alergi terhadap udang.Bahkan dia juga membentak Bintang, padahal selama ini dia tidak pernah membentaknya.


Bintang segera bangkit dari tidurnya, dia segera menuju kerestoran yang tadi dia datangi bersama suaminya dengan sedikit berlari.


Namun saat dia sampai sudah tidak ada siapapun di sana,kecuali sang pemilik restoran.


" Dia sudah pergi sesaat setelah Anda keluar dari sini",jawabnya.


"Oh,begitu ya.Terimakasih ya Pak", ucap Bintang. Kemudian dia keluar dari restoran tersebut.


Bintang mengambil ponselnya yang berada di dalam saku bajunya.


Dia menghubungi nomor suaminya, tapi tidak ada jawaban darinya.Dia mencobanya beberapa kali,tapi tetap saja tidak ada jawaban darinya. Akhirnya dia menyerah dan kembali ke mesnya dengan menyimpan banyak pertanyaan di benaknya.


*****


Sementara itu di kantor Wijaya Grup, Rangga beserta dewan direksi lain mengadakan rapat terbatas menyangkut harga saham Wijaya Grup yang pagi ini tiba-tiba turun drastis.


Rangga melempar berkas yang dia pegang. Dia merasa kesal karena sahamnya tiba-tiba anjlok,bahkan tidak ada alasan yang masuk akal yang dia terima.Semua direksi yang bertanggung jawab hanya bilang mungkin dalam laporannya.


" Apa tidak ada alasan yang pasti yang bisa kalian katakan selain kata mungkin? Cari tahu segera penyebab anjloknya saham kita hari ini! Dengar aku tidak mau ada laporan mungkin,aku ingin penyebab yang jelas.Ingat itu",Rangga terlihat tegas dengan tatapan matanya yang seolah ingin menerkam siapa saja yang membuat kesalahan.


"Rapat selesei, kalian silahkan bubar!"


Semua dewan direksi yang ikut rapat segera membubarkan diri.


Nando mengambil berkas yang Rangga lempar tadi,dia memperhatikan laporan tersebut.


"Rangga, aku rasa ada yang sengaja menyerang perusahaan kita.Sepertinya dia ingin perusahaan Wijaya Grup hancur", kata Nando.


" Tapi siapa?"


"Aku tidak tahu,tapi aku akan coba menyelidikinya", jawab Nando.


" Jangan mencoba menyelidiki,tapi selidiki dengan benar. Perlihatkan kemampuanmu padaku",Kata Rangga kepada Nando.


"Kamu ini bisanya cuma memerintahku,coba saja kamu selidiki sendiri"


"Aku ini kan bos,Kalau aku harus turun tangan sendiri untuk apa aku menggajimu".


Mereka berdua kemudian tertawa bersama.Mereka memang terlihat seperti sedang bertengkar bagi pegawai lain.Tapi tidak bagi mereka, karena itulah cara mereka bercanda.


Rangga melihat ponselnya, terdapat puluhan panggilan tak terjawab dari istrinya. Rangga pun mencoba menghubungi nomor istrinya, tapi tidak ada jawaban darinya.


" mungkin sekarang dia sedang sibuk di rumah sakit. Biar nanti aku hubungi dia lagi "


Rangga meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


*****


(Malam harinya)


Bintang baru keluar dari rumah sakit pukul 23.00 wib,hari ini dia temannya Dinda bertugas siang.


"Ohya Bi,hari ini aku tidak pulang ke mes ya.Pacarku hari ini datang ke Bandung buat liburan.Jadi malam ini kami mau menghabiskan malam kami di hotel".


" Din,apa kamu yakin kalau pacar kamu akan bertanggung jawab nantinya saat hal yang tidak kalian inginkan terjadi?" tanya Bintang.


"Tentu saja aku yakin,pacarku kan sangat mencintai aku. Bahkan dia tidak bisa hidup tanpa diriku,dia selalu bilang kalau diriku ini seperti candu baginya" jawab Dinda dengan bangganya.


"Sudahlah, Aku pergi dulu ya.Da Bintang selamat kesepian", Dinda mengatakan itu seraya melambaikan tangannya.


Bintang menghela napasnya membayangkan nasib temannya itu seandainya pacarnya itu meninggalkannya.


" Sudah Bintang sudah, itu bukan urusanmu.Yang penting kamu sudah nasehatin dia,masalah di denger atau tidak itu bukan urusanmu lagi",Bintang berkata pada dirinya sendiri.


Bintang berjalan menuju mesnya,namun langkahnya terhenti saat melihat suaminya berdiri di depannya.


Bersamaan dengan itu,ponsel Bintang berdering. Dia menjawab panggilan tersebut.


Bintang melangkahkan kakinya mendekati Rangga yang ada di depannya.


"Sayang, kenapa kamu tadi menelponku?maaf ya karena aku tidak menjawab telponmu tadi.Aku sungguh sangat sibuk,perusahaanku sedikit ada masalah.


Sayang, kamu dengar aku kan?"


kata Rangga dari ujung telpon sana.


"Aku akan menelpon Mas nanti,ada yang harus aku seleseikan sekarang", jawabnya sambil menutup ponselnya.


" SIAPA KAMU SEBENARNYA? KENAPA KAMU MENGAKU SEBAGAI SUAMIKU?"


Bintang menanyakan itu dengan menatap tajam orang yang berdiri di depannya.