
"Terimakasih Bintang, terimakasih. Kau telah menyelamatkan aku. Terimakasih," ucap Rania.
"Ayo Kak, kita pulang!" ajak Bintang.
"Bintang, aku mohon jangan ceritakan kejadian hari ini pada mama atau pun Rangga. Aku tidak ingin mereka sedih," pinta Rania.
"Baiklah. Tapi, aku minta Kakak cerita padaku tentang semuanya," jawab Bintang.
"Aku akan ceritakan semuanya padamu," kata Rania.
Bintang dan Rania pergi ke sebuah taman yang tidak jauh dari hotel tersebut. Disanalah Rania mulai menceritakan semua yang terjadi pada dirinya setelah menikah dengan Agung.
Bintang memeluk kakak iparnya itu, mencoba memberinya katenangan dan kekuatan.
"Kak, aku janji nggak akan pernah ngebiarin Agung berbuat jahat sama Kakak lagi!" ucap Bintang.
"Benar kata mamah, kamu memang wanita biasa, tetapi, kamu adalah wanita yang istimewa," puji Rania.
"Ayo Kak, kita pulang! Pak Mun sudah menunggu kita di parkiran!" ajak Bintang.
Bintang dan Rania segera menuju ke parkiran tempat Pak Mun menunggu keduanya.
"Maaf ya ,Pak, lama. Tadi kami ketemu temen di dalam," Kata Bintang pada Pak Mun.
"Iya, Nyonya muda, tidak apa-apa. Silakan masuk!"
Bintang dan Rania masuk ke dalam mobil. Mereka langsung pulang menuju rumah.
*****
"Lho kalian kok bisa pulang bareng?" tanya Rangga saat melihat istri dan kayaknya pulang bersama.
"Kebetulan tadi ketemu di jalan," jawab Bintang sambil memeluk lengan suaminya.
"Bintang, Rangga, Kakak ke kamar duluan ya," kata Rania sebelum masuk ke kamarnya.
"Sayang, katanya tadi ada meeting. Emang meetingnya sudah selesai?" tanya Bintang.
"Sudah, tadi cuma sebentar kok," jawab Rangga.
"Kamu belum mandi ya, Sayang?"tanya Rangga, yang di tanya cuma cengengesan.
"Dasar kamu ini," kata Rangga sambil geleng-geleng kepala.
"Aku maunya dimandiin sama daddy!" pinta Bintang dengan menirukan suara anak kecil. Tentu saja, dengan senang hati Rangga menuruti kemauan istrinya itu. Dia kemudian menggendong tubuh istrinya masuk ke kamar.
Celin yang melihat itu dari jauh mengepalkan tangannya, hatinya semakin mendidih. Celin tidak rela melihat Rangga bahagia bersama Bintang. Dia kemudian juga ikut masuk ke kamarnya sendiri.
Sudah seminggu Celin berada di rumah keluarga Wijaya, dia sudah minta izin pada orang tuanya dan juga Mia untuk memperpanjang masa liburannya. Dia akan tinggal di keluarga Wijaya untuk beberapa bulan ke depan dengan alasan belum memahami management bisnis secara real. Dia akan belajar managent binis secara real dengan membantu Rangga di perusahaan Wijaya.
Malam itu Rangga ada meeting dadakan, kebetulan Nando asisten sekaligus sekertarisnya sedang berada di luar kota sedang melobi perusahaan atas perintahnya. "Kenapa harus ada meeting malam-malam gini sih. Rasanya aku ingin cepat pulang bertemu dengan Bintang. Hah," gerutunya sambil membereskan beberapa file yang harus dibawa.
"Kak, aku boleh nemenin Kak Rangga meeting nggak? Soalnyakan pasti Kak Rangga kesulitan karena Kak Nando belum pulang dari luar kota," Kata Celin.
Rangga terlihat masih memikirkan sesuatu.
"Kak aku hanya ingin membantu Kak Rangga, sekalian belajar. Ijinnin ya, Kak!" pinta Celin dengan wajah memelas.
"Baiklah. Tapi, ingat saat meeting nanti kamu harus mencatat semua hal penting yang kami bicarakan, jangan sampai terlewat sedikit pun!" jawab Rangga.
Sebenarnya Rangga malas harus mengajak Celin untuk meeting, apalagi akhir-akhir ini Celin semakin agresif terhadapnya.Tapi mau bagaimana lagi ketiadaan Nando membuatnya sedikit kerepotan.
Kebetulan restoran yang di jadikan tempat meeting adalah restoran yang dikelola oleh Ana. Sebelum memulai meeting Rangga menyempatkan diri untuk menelpon istrinya untuk memberinya kabar kalau dia akan pulang terlambat.
"Eh, Pak Rangga. Anu Pak, aku ada janji makan malam dengan keluarganya Alex. Katanya mereka ingin membicarakan pernikahan Kak Juan dengan Kak Tari," jawab Ana.
"Akhirnya Juan berhasil juga ngeyakinin keluarganya," ucap Rangga yang ikut bahagia mendengar kabar tersebut.
"Saya permisi ya Pak. Kalau Pak Rangga butuh apa-apa ada Dewi kok di dalam. Sekali lagi saya permisi, Pak," pamit Ana.
Rangga segera memasuki ruang meeting. Dia ingin agar meetingnya kali ini bisa selesai lebih cepat. Dia ingin segera ingin bertemu dengan istri tercintanya.
Meeting selesai pukul 10 malam dan hasilnya juga memuaskan. Orang dari perusahaan NN pun sudah pulang. Rangga segera membereskan file-file yang baru digunakan untuk meeting tadi.
"Kak tunggu! Aku haus aku mau pesen minum dulu dari tadi aku belum minum, Kak!" pinta Celin.
"Ya sudah sana cepat. Ini sudah malam aku ingin cepat sampai rumah," jawab Rangga.
Tidak lama kemudian Celin datang dengan membawa dua gelas jus orange. "Nih, Kakak juga minum dari tadi Kakak juga kan belum minum apa-apa."
Celin menyodorkan satu gelas yang dibawanya kepada Rangga. Karena ingin segera pulang ke rumah Rangga langsung menghabiskan minuman pemberian Celin tersebut. Beberapa menit kemudian Rangga merasa pusing dan akhirnya tak sadarkan diri. Melihat itu Celin menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Dia sudah tak sadarkan diri, jadi kau harus ingat dengan perjanjian kita." Kata seseorang di sebelah Celin.
"Tenang saja," jawab Celin. "Sekarang bantu aku membawanya ke hotel. Begitu semuanya beres kamu akan mendapatkan hal yang kamu inginkan!" suruh Celin.
Orang itu membantu Celin membawa Rangga kesebuah kamar hotel. Bahkan dia juga membantu Celin mengambil beberapa gambar dengan pose mesra antara Celin dengan Rangga.
"Pergilah! Terimakasih untuk bantuannya. Sisanya biar aku yang selesaikan!" suruh Celin pada orang itu. Orang itu pun segera keluar dari kamar tersebut.
*****
Pagi itu Rangga bangun kepala yang terasa begitu berat. Dia kemudian dan mulai memperhatikan sekelilingnya karena merasa dirinya berada di tempat yang asing. Rangga terkejut saat mendapati dirinya tanpa sehelai benang yang melekat di tubuhnya. Dia mencoba mengingat kejadian yang terjadi semalam. Tetapi tidak satupun kejadian yang dia ingat kecuali dia meminum segelas jus. Rangga melihat kesamping bawah tempat tidurnya saat mendengar ada suara seseorang menangis.
Kini dia kembali terkejut, saat melihat Celin duduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya sambil menangis.
"Cel... Celin, apa yang terjadi kta?" tanya Rangga sambil menatap Celin yang sedang menangis. "Kita tidak melakukan hal-hal yang anehkan?"
"Kak Rangga jahat! Semalam Kakak... Kakak.... " Celin tidak melanjutkan perkataannya.
"Katakan padaku apa yang terjadi semalam!" suruh Rangga.
"Semalam Kakak... Kakak memperkosaku!" jawab Celin dengan tangis yang semakin pecah.
Bagai tersambar petir Rangga mendengar pengakuan Celin tersebut. Dia tidak percaya kalau dirinya bisa berbuat serendah itu. Rangga terkulai lemah, bayang-bayang wajah Bintang yang sedang menangis dan memintanya pisah, tiba-tiba hadir di kepalanya. Dia tidak sanggup kehilangan wanita terkasihnya hanya karena kesalahan yang tidak disengaja ia lakukan.
"Kamu bohong kan, Cel? Kamu bohong kan?!"
"Aku tidak bohong, Kak," jawab Celin yang kembali terisak. "Kalau Kakak tidak percaya lihat itu! Itu semua ulah Kakak semalam!" kata Celin sambil menunjuk pakaiannya yang sudah tidak berbentuk dan teringgok di lantai.
Rangga benar-benar frustasi. Bagaimana bisa dia melakukan pemerkosaan, apa lagi orang yang menjadi korbannya adalah Celin, orang yang selama ini dia hindari.
"Celin, Aku minta maaf jika memang aku telah memperkosamu. Aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi semalam. Aku hanya ingat kalau kamu memberiku jus. Tetapi setelah itu aku tidak ingat apapun," ucap Rangga.
"Kak semalam setelah kamu minum jus, Kakak bilang ingin segera pulang. Tapi, di tengah jalan Kakak seperti orang kesurupan. Kakak tiba-tiba membawa paksa aku ke hotel. Aku sudah berusaha melawan Kakak, tapi Kakak malah semakin beringas. Kakak tetap membawaku ke hotel ini, Kakak juga merobek pakaianku hingga akhirnya Kakak berhasil memperkosaku," jawab Celin yang disertai isakan.
"Aku mohon padamu, Cel! Tolong kamu rahasiakan semua kejadian yang terjadi hari ini. Aku tidak ingin siapapun tahu tentang kejadian ini, terutama Bintang. Aku tidak ingin menyakiti dan kehilangan Bintang. Sekali lagi tolong rahasiakan ini dan maafkanlah aku!" ucap Rangga. Kemudian dia memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Aku tahu, Kak. Aku akan merahasiakannya demi Kakak. Aku juga tidak mau rumah tangga Kakak bermasalah," jawab Celin. Dia berfikir kalau dia harus pura-pura bersikap baik di depan Rangga.
"Aku sudah menyuruh orang untuk membawakan baju ganti untukmu. Aku juga sudah memesankanmu taksi online, kamu bisa pulang sendiri kan?" tanya Rangga. Celin menjawabnya dengan anggukan.
"Sekali lagi aku minta maaf, Celin!" kata Rangga sebelum akhirnya dia keluar dari kamar hotel dan meninggalkan Celin sendirian.
"Lihat saja! Aku pasti bisa membuatmu menikahiku," kata Celin. Dia menghapus air mata palsunya.