
Plak!
Bukan hanya Iwan, tetapi, Rangga dan Juan juga terkejut saat melihat keberadaan Bintang di sana.
"Kau bilang kau mencintai kakakku? Tapi, sebenarnya kamu tidak mencintai dia, kamu hanya mencintai tubuhnya." Bintang mengatakan hal itu penuh emosi.
"Bintang, tenanglah!" Rangga berusaha menenangkan istrinya itu.
"Jika kau mencintai kakakku dengan tulus kau akan berusaha untuk mendapatkan hatinya, bukan memaksanya," tambah Bintang.
"Sampai kapan? Aku sudah berusaha membuatnya bahagia, tetapi di hati dan pikirannya hanya ada Juan. Lalu aku bisa apa?Jadi, jangan salahkan aku kalau akhirnya aku berbuat seperti itu." kata Iwan lagi.
"Berusaha? Apa itu yang di sebut berusaha?Jika kau memang tulus mencintai kak Mentari, selama apa pun waktu yang kamu butuhkan untuk meluluhkan hatinya kamu akan terus berusaha."
"Terserah apa katamu. Tapi yang jelas aku sudah cukup puas melihat kakakmu menderita," kata Iwan lagi.
Kini giliran Juan yang melayangkan bogem mentah ke wajah Iwan. Iwan menghapus sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah menggunakan ibu jarinya.
"Lebih baik kalian pergi dari sini! Cari saja pelacur itu di tempat hiburan dan jangan pernah mencariku lagi!" kata Iwan sambil berjalan meninggalkan mereka.
"Bintang, kamu tidak apa-apakan? Kenapa kamu bisa sampai ketempat ini?" tanya Rangga.
"Tadi Sebenarnya aku turun untuk mengambil minuman di dapur. Karena aku melihatmu keluar, makanya aku mengikutimu," jawab Bintang.
"Rangga, lebih baik kamu bawa istrimu pulang! Tidak baik wanita hamil masih di luar selarut ini!" suruh Juan.
"Kau juga sebaiknya pulang, aku akan membantumu mencari Mentari besok!"
"Aku akan mencoba mencari Mentari lagi, sekarang aku tahu kemana harus mencarinya. Semoga saja aku bisa bertemu dengannya secepatnya," kata Juan.
"Juan, jangan salahkan dirimu!" kata Rangga, dia tahu kalau Juan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Mentari saat ini.
"Tapi bagaimanapun secara tidak langsung itu adalah salahku. Mentari menikah dengan Iwan, itu karena kebodohanku. Dan sekarang aku tahu kalau Iwan menjualnya ketempat pelacuran dan itu juga karena aku. Apa yang terjadi pada Mentari saat ini semua karena kesalahanku. Aku adalah takdir buruk bagi Mentari," ucap Juan dengan penuh penyesalan.
"Kak, kenapa waktu itu Kakak tidak datang bersama dengan Kak Mentari?" tanya Bintang.
Juan menatapnya demikian juga Rangga.
"Sayang, kenapa kamu menanyakan hal itu?" tanya Rangga.
"Aku hanya ingin tahu. Kalian saling mencintai, tapi, kenapa semuanya jadi seperti ini. Jujur aku tidak mengerti."
"Maafkan aku Bintang, aku juga tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Kalau aku tahu, aku akan langsung mengejarnya waktu itu. Sayangnya, waktu tidak dapat kembali. Semua sudah terjadi, tinggal aku akan berusaha untuk memperbaiki hasil akhirnya. Aku akan berusaha menemukan Mentari dan aku akan berusaha membahagiakannya. Akan ku tebus semua kesalahanku padanya," ucap Juan. "Sekarang pulanglah! Kamu juga harus menjaga kesehatan calon anakmu. Serahkan sisanya kepadaku!"
Bintang mengangguk. Akhirnya dia bersedia pulang bersama dengan suaminya.
*****
Ana sengaja datang ke restoran untuk mengambil laporan pembukuan hari ini, tanpa sengaja dia melihat Alex sedang duduk di depan restoran yang sudah tutup.
"Alex, ngapain kamu disini?" tanya Ana.
"Aku menunggumu dari tadi." Ana menatap ke arahnya.
"Untuk apa?" tanya Ana.
Alex mengeluarkan sebuah kantong plastik yang berisi botol minuman.
"Aku ingin kamu menemaniku minum. Tadinya aku mau ngajak Kak Juan, tapi Kak Juan sedang sibuk mencari Kak Mentari. Makanya aku milih ke sini," jawab Alex.
Ana membuka pintu restoran dan menyuruh Alex untuk masuk.
"Duduklah! Aku akan siapkan makanan untukmu!" suruh Ana.
"An, aku hanya ingin kamu menemaniku minum."
"Tapi.... "
"Please!" pinta Alex. Akhirnya Ana duduk di samping Alex. Alex mulai membuka botol minuman tersebut dan meneguknya.
"Rasanya dunia ini tidak adil padaku," Alex memulai celotehannya.
"Lex, kamu ngomong apaan sih?" tanya Ana.
"Kamu tahu, An. Aku adalah orang yang sulit jatuh cinta. Tapi pertama kalinya aku jatuh cinta, aku malah mencintai istri orang." Alex mengatakan itu sambil terus minum.
"Apa maksudmu?"
"An, saat pertama aku melihatnya aku sudah jatuh cinta padanya. Tapi di hari berikutnya aku justru tahu kalau dia istri orang dan sedang hamil. Rasanya duniaku runtuh. Dalam hati aku berharap kalau dia hamil tanpa suami agar aku bisa mengakui anaknya sebagai anakku. Tapi, dunia berkata lain, ternyata suaminya adalah orang yang aku kenal." oceh Alex.
"Maksudmu kamu mencintai Bintang?" tanya Ana. Alex menatap Ana sebentar kemudian dia menenggak kembali minuman yang ada di tangannya hingga habis.
"Sebenarnya kita berdua sama. Diam-diam aku juga mencintai Pak Rangga. Sejak aku SMP aku selalu melihatnya di restoran, aku berharap suatu hari nanti aku bisa bertemu dengannya lagi. Kami memang bertemu, tetapi dia malah dijodohkan dengan Bintang. Hatiku juga hancur saat itu. Tapi, akhirnya aku memahami satu hal. Jika kamu memang mencintai seseorang dengan tulus, maka kamu akan bahagia saat melihatnya bahagia, meski itu bukan denganmu." Ana ikut bercerita, dia juga mengambil minuman yang masih belum dibuka di dalam plastik.
Ana dan Alex akhirnya menghabiskan minuman itu berdua, hingga mereka berdua mabuk.
*****
Keesikan paginya....
Ana dan Alex terbangun saat sinar matahari pagi menyelinap masuk di sela-sela gorden. Keduanya mengerjapkan mata mereka. Dan alangkah terkejutnya mereka saat mereka mendapati tubuh mereka tanpa busana.
"Aaa." Teriak keduanya.
Mereka mengingat-ingat apa yang mereka lakukan semalam. Tapi yang muncul diingatan mereka hanyalah mereka berdua minum-minum hingga mabuk dan selebihnya mereka sama sekali tidak mengingat apa pun.
"Ana, Ana aku janji aku akan tanggung jawab," kata Alex.
"Lex, apa kamu ingat apa yang terjadi dengan kita semalam?" tanya Ana.
Alex menggeleng. "Tapi, pasti semalam telah terjadi sesuatu diantara kita," kata Alex sambil menunjuk noda darah yang ada di sprei dengan dagunya. Ana mengikuti arah pandangan Alex.
"Ya Tuhan, kenapa aku sama sekali nggak bisa mengingatnya," kata Ana sambil mengusap wajahnya.
"Kamu tidak usah khawatir! Aku janji padamu, aku akan bertanggung jawab. Aku akan segera menikahimu. Aku akan bicara dengan keluargaku setelah ini," kata Alex sambil menggenggam tangan Ana.
"Entahlah, Lex. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar bingung," jawab Ana.
Mereka berdua langsung panik ketika mendengar suara gaduh dari luar. "Lex, ini jam berapa?"
"Setengah delapan," jawab Alex sambil melihat jam tangannya.
"Gawat!"
"Gawat kenapa?"
"Ini kan ruang istirahat restoran dan pasti semua karyawan sudah mulai masuk kerja. Bagaimana kalau mereka melihat kita seperti ini?" Ana terlihat panik. Dia segera mengenakan pakaiannya kembali. Demikian juga Alex, dia pun melakukan hal yang sama.
"Kamu tunggu di sini! Kalau di luar udah sepi, baru kamu keluar, Oke. Kamu tunggu aba-aba dariku!" suruh Ana. Dia keluar dari kamar tersebut terlebih dulu. Setelah memastikan keadaan sekitar mereka sudah sepi.
Ana kembali menghampiri pintu kamar itu. "Lex, keluar cepet mumpung sepi!" seru Ana dari pintu. Alex segera keluar dari ruangan itu. Sebelum pergi, dia menghampiri Ana.
"Ingat, An. Kamu jangan memikirkan apa pun. Aku akan segera datang bersama keluargaku untuk melamarmu!" Alex mencium kening Ana dan langsung pergi dari tempat itu.
Jantung Ana berdetak bertalu-talu mendapat perlakuan Alex barusan. Dia menyentuh keningnya sendiri sambil tersenyum.