Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 142


Di kamar Kiara...


Sejak datang tadi,Kiara dan Mikha begitu asik main boneka dan rumah-rumahan. Mereka sama sekali tidak perduli dengan keberadaan Tama di sana.Tama yang merasa di abaikan oleh Kiara dan saudara kembarnya itu,berpikir untuk menjahili mereka.Dan sebuah ide akhirnya muncul mana kala pelayan membawakan mereka makanan dan minuman.


"Non Kia,bunda nyuruh Non dan kedua temen Non Kia buat makan dulu.Mainnya bisa di lanjutkan setelah makan", kata seorang pelayan setelah meletakkan makanan di atas meja yang ada di ruangan itu.


" Iya,sebentar lagi",jawab Kiara yang tetap asyik dengan mainannya.


"Bibik,keluar ya Non", pelayan itupun keluar dari kamar Kiara.


"Iys,Bik", jawab Kia, namun dia tetap asik dengan mainannya.


Tama yang melihat itu tidak menyi-nyiakan kesempatan untuk menjahili mereka.


Dia menyelinap keluar dari kamar dan meminta garam kepada si bibik.Setelah mendapatkan barang yang dia inginkan,Tama kembali lagi ke kamar Kiara.


Tama berjalan mendekati meja tempat dimana bibik meletakkan makanan dan minuman tersebut. Diam-diam dia memasukkan garam tadi ke dalam minuman Kiara dan Mikha.Kemudian sebagian lagi dia taburkan di atas nasi Kiara dan saudara kembarnya,Mikha.


" Hehehehe,rasain kalian berdua.Siapa suruh nyuekin aku",batin Tama kegirangan.


"Yuk,Mikha kita makan dulu.Aku sudah lapar!" ajak Kiara.


"Ayo,aku juga sudah lapar",jawab Mikha.


Kiara dan Mikha merapikan mainan mereka,setelah itu mereka mengambil makanan yang tadi di taruh si bibik di atas meja.


" Kamu tidak ikutan makan,Tam?"tanya Kiara pada Tama,saat melihat Tama hanya diam sambil menatap mereka.


"Tidak, aku masih kenyang. Kalian saja dulu",jawab Tama.


Tama berusaha menahan tawanya saat Kiara dan saudaranya itu mulai memasukkan makanan ke dalam mulut mereka.


" Aaaa,asin banget. Uwek",kata Mikha dan Kiara bersamaan.Kemudian mereka berdua meminum minuman yang ada di sebelah makanan mereka dan lagi-lagi rasanya juga sama,asin.


"Hahahahahahahha", Tama tertawa terbahak-bahak.


" TAMAAAAA",tariak Kiara dan Mikha bersamaan.


Mereka berdua mengejar Tama yang sudah berlari meninggalkan kamar Kiara.


^°^°^


Tama berlari ke tempat para ibu yang sedang berbincang di ruang tengah.


"Mommy", panggil Tama.


" Ada apa,Sayang? ",tanya Bintang


" Kenapa Tama?" Dewi ikutan bertanya.


Tidak lama kemudian, Kiara dan Mikha juga sudah berada di ruangan itu.


"Kia,Mikha kenapa kalian lari-lari separti itu?", tanya Dewi.


" Itu bunda,Tama ngerjain Kia sama Mikha",jawab Kiara


"Tama???", Bintang menatap tajam putranya itu.


"I'am sorry Mom,peace!" , Tama mengacungkan dua jarinya.


Bintang menggelengkan kepalanya.


"Coba bilang ke Tante apa yang di lakukan Tama,Sayang?" tanya Bintang pada Kiara


"Tama ngasih garam di nasi Kia sama Mikha, Tante" jawab Kiara.


"Iya,Mom.Tama juga ngasih garam ke dalam minuman Mikha dan Kia", imbuh Mikha.


" Tama?!?"


"Maaf,Mom.Habisnya Mikha sama Kia nyuekin Tama, Tama kan kesel", jawab Tama jujur.


" Sayang, lain kali jangan begitu lagi ya.Anak mommy kan pinter, baik lagi.Sekarang Tama minta maaf sana sama Mikha dan Kia",seru Bintang kepada putranya itu.


"Maaf", ucap Tama tanpa menatap wajah orang yang dia mintai maaf.


" Tuh Kia,Tama sudah minta maaf. Ayo Kia Sayang, maafin Tama ya"kata Dewi kepada putrinya.


"Iya,Kia maafin", jawab Kia yang sebenarnya masih kesal,karena ini bukan pertama kalinya Tama menjahili dirinya.


" Mikha juga sudah maafin Tama kok",Mikha ikutan menjawab sebelum di tanya.


" Baik,bunda",jawab Kia.


Ketiga bocah itupun melanjutkan makan mereka di meja makan.


"Wah Bi,Dew aku jadi tidak sabar ingin segera memiliki anak", kata Ana sambil mengelus perutnya sendiri.


" Kamu ini,baru saja telat sudah kayak mau nglahirin besok saja",celetuk Dewi.


"Biarin,pokoknya nanti aku bakalan punya anak lebih banyak dari kalian berdua.Lihat saja", jawab Ana dengan penuh percaya diri.


" Iya-iya kamu bakalan punya anak selusin,biar rumah kamu ramai kayak di pasar",imbuh Bintang.


"Ya nggak selusin juga kali,Bi", kata Ana yang pura-pura cemberut dan diikuti tawa renyah teman-temanya.


" Ohya Bi,yayang Alex bilang mulai besok kamu kerja di rumah sakit milik keluarga Rahardian ya?"tanya Ana.


"Iya,soalnya itu permintaan mas Rangga. Katanya dia lebih tenang kalau aku bekerja di rumah sakit milik suamimu,setidaknya dia selalu bisa mantau aku terus", jawab Bintang.


" Ya iyalah,suamimu itukan bucin abis.Nggak sesui sama tampangnya yang dingin",timpal Dewi.


"Kamu kerterlaluan,Dew.Tapi bener juga sih", kata Ana.


" Dasar kalian"


Mereka bertiga pun kembali tertawa.


*****


Malam harinya....


Dinda mengajak kekasihnya untuk berkeliling di kawasan perbelanjaan Malioboro.Sambil bergandengan tangan Dinda dan Harry berjalan menyusuri kawasan tersebut.


"Gimana, Mas Jogja indah kan?" tanya Dinda saat mereka duduk di salah satu tempat makan yang ada di kawasan tersebut.


"Indah,makanannya pun enak", jawab Harry.


" Dulu waktu kedua orang tuaku masih hidup hampir setiap tahun kami selalu kesini.Tapi setelah mereka meninggal dan nenek membawaku ke Paris,aku jarang ke sini.Paling kalau nenek ada urusan bisnis di sini,barulah kita mampir ke tempat ini",tutur Dinda.


"Aku janji setelah kita menikah nanti,kapan pun kamu mau aku akan menemaniku ke tempat ini", janji Harry


" Makasih ya,Mas"ucap Dinda


Setelah puas jalan-jalan mereka kembali ke rumah mbok Inah.


"Tidurlah,besok aku akan membawamu jalan-jalan lagi", ucap Harry begitu tiba di dapan rumah mbok Inah.


" Iya,aku masuk ya mas",jawab Dinda


"Iya".


Dinda segera masuk ke dalam rumah mbok Inah, sementara Harry dia kembali ke hotel tempat dia menginap.


*****


Di rumah keluarga Rahardian...


Setelah dari rumah Dewi tadi,Ana meminta Bintang menemaninya ke dokter kandungan.Karena kebetulan suaminya Alex ada jadwal operasi,jadi dia tidak bisa menemaninya.


Ana begitu bahagia saat hasil tesnya adalah positif.Dia tidak sabar ingin memberi tahukannya pada Alex.


Tapi hingga malam tiba Alex belum juga kembali.


" Nak,tidurlah.Ini sudah malam",suruh Ema saat melihat menantunya itu masih duduk di ruang tamu.


"Mas Alex kemana ya,Ma.Tadi dia bilang operasinya akan selesei jam 9,tapi ini sudah jam 11 kenapa dia belum pulang juga", kata Ana.


" Mungkin tiba-tiba ada pasien darurat masuk,jadi dia tidak bisa pulang cepet.Kamu harus bisa memahami itu",jelas Ema yang memang juga seorang dokter.


"Padahal aku cuma mau ngasih berita gembira ini. Tapi kenapa sulit sekali", batin Ana,dia meremas surat keterangan hamil yang di berikan oleh dokter padanya.


" Ya sudah deh Ma,Ana ijin ke kamar dulu",pamit Ana kepada mertuanya.


Dia berusaha untuk tidak menampakkan kekecewaannya kepada mertuanya itu.


"Iya,Nak", jawab Ema.


Ana berjalan masuk kedalam kamarnya. Dia langsung merbahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia juga melempar hasil pemeriksaannya ke sembarang tempat.