Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 53


"Tidak mau, sudah seharian ini kau membuatku lelah," jawab Bintang cepat. Rangga hanya terkekeh mendengarnya, dia semakin mengeratkan pelukannya.


"Sayang."


"Hmm."


"Menurutmu, apa kak Tari dan Kak Juan akan benar-benar berpisah?" tanya Bintang.


"Entahlah. Tapi, jika itu memang takdir mereka bisa apa," jawab Rangga.


"Apa kamu tidak bisa membantu mereka? Biasanya suamiku Inikan hebat."


"Aku tidak bisa melakukan apa pun soal hubungan mereka. Tapi, satu hal yang pasti Juan tidak akan mungkin melepaskan Mentari dengan mudah, dia pasti sedang berusaha untuk meyakinkan mamanya," jawab Rangga.


Bintang menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


Terdengar notif pesan dari ponselnya, Rangga membuka pesan tersebut. Semua pesan yang masuk barusan adalah laporan yang di minta Rangga kepada Nando.


"Sudah kuduga, kau juga terlibat peristiwa hari ini. Tapi kenapa dia belum mengatakan apa-apa soal peristiwa di hotel malam itu. Apa yang sedang kamu rencanakan?" batin Rangga.


"Sayang, kamu melamun?"


"Tidak. Hanya saja aku sedang memikirkan cara bagaimana aku bisa menengok anakku malam ini," jawab Rangga asal.


"Ih. Dasar mesum."


"Biarin, kan mesumnya cuma sama kamu," jawab Rangga sambil mencubit hidung Bintang gemas.


"Aku mau ke tempat ibu dan yang lainnya aja ah, takut dimakan sama harimau yang sedang kelaparan," katanya sambil melirik suaminya, Rangga geli mendengarnya. Tapi, dia membiarkan istrinya itu pergi karena ada sesuatu yang harus dia urus. Selain itu dia juga kasihan karena sudah seharian ini istrinya lelah melayaninya, meskipun tidak akan ada kata puas jika itu menyangkut istrinya.


Rangga mengambil ponsel di sakunya dan kambali menghubungi Nando.


"Nando, ambil alih semua proyek yang didapatkan Agung dan pastikan besok perusahaan itu sudah bangkrut!"perintahnya kepada Nando.


"Sesuai keinginannmu." jawab Nando.


Rangga pun mengakhiri panggilannya. "Sekarang aku hanya ingin tahu,rencana busuk apa lagi yang sedang kamu rencanakan," gumam Rangga.


"Tapi, bagaimana perasaan Bintang jika tahu soal ini? Dia pasti akan sedih dan terluka. Mungkin aku harus memberinya waktu lagi,"batin Rangga.


Dia memikirkan banyak hal hingga kepalanya sedikit pusing. Akhirnya dia memilih untuk kembali fokus dengan pekerjaannya.


Acara empat bulanan kehamilan Bintang selesai dilaksanakan. Untuk melepas lelah semua orang berkumpul dan berbincang di ruang keluarga.


"Apa kamu capek Sayang?" tanya Rangga pada sang istri yang terlihat kelelahan.


"Sedikit," jawab Bintang sambil menyandarkan punggungnya di sofa.


Rangga menarik kaki istrinya dan meletakkan di pangkuannya kemudian dia memijit kaki itu lembut. Bintang memejamkan matanya sambil menikmati pijitan tersebut.


"Wah, kau sungguh beruntung Bintang karena suamimu memperhatikanmu. Mudah-mudahan saja kelak Alex bisa perhatian seperti Pak Rangga," puji Ana sambil melirik ke arah Alex. Dia datang ke acara syukuran tadi bersama Alex.


"Aku pasti akan lebih baik dari Kak Rangga, kau lihat saja nanti," jawab Alex.


"Jangan salah, kadang cowok bersikap manis seperti itu karena ada hal yang dia sembunyikan. Setidaknya itu yang aku lihat di fim-film," timpal Dewi.


"Ini bukan film, Dew. Aku yakin suamiku tidak akan berbuat seperti itu," Kata Bintang sambil melempar tisu ke arah Dewi.


"Ye, siapa juga yang bilang itu suami kamu? Aku kan cuma bilang kalau di film-film itu seperti itu."


"Udah deh Dew, bilang aja kamu iri. Makanya move on, jangan kelamaan ngejomlo!" kata Ana lagi.


"Aku udah move on tahu, cuma aku nggak suka saja sama muka-muka palsu kayak kalian berdua." Tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulut Dewi, meski kemudian di ralat lagi olehnya. "Bercanda."


Bintang dan Ana menatapnya intens.


"Aku nggak suka sama candaan kamu, Dew."


"Akujuga, kita berdua ini tulus temenan sama kamu," timpal Ana.


"Iya, sorry sorry," kata Dewi lagi.


"Ohya Lex, bagaimana kabar Juan sekarang?" tanya Mentari.


"Kak Juan keadaannya kurang baik. Sepertinya Kakak sedang melakukan protes sama mama, Dia mengurung diri di kamarnya tanpa melakukan apa pun," jawab Alex


"Dan sudah dua hari ini Kakak mogok makan, aku khawatir sama Kak Juan. Cuma mau gimana lagi, mama sama keras kepalanya sama Kakak," lanjut Alex.


Wajah Mentari berubah muram.


"Lex, tolong bantu aku bertemu dengan Juan!Mungkin setelah aku bicara dengannya, dia tidak akan mogok makan lagi!" pinta Mentari


Alex tidak menjawab, dia bingung harus berbuat apa untuk membantu Mentari bertemu dengan kakaknya.


"Aku mohon! Besok aku dan ibu akan kembali ke kampung. Izinkan aku bicara dengannya, kalau perlu kamu bilang sama mama kamu. Aku akan membuat Juan ikhlas melepaskan aku. Dan hubungan dia dengan mamamu akan kembali seperti dulu. Aku mohon!" pinta Mentari lagi dengan mengatupkab dua tangannya.


"Baiklah, nanti Kak Tari bisa ikut aku ke rumah," jawab Alex.


"Terimakasih ya, Lex," ucap Mentari.


"Kak, aku temenin Kakak ya bicara sama Kak Juan," kata Bintang.


"Tidak Bintang. Aku akan menemui Juan sendiri," jawab Mentari.


"Tapi.... "


"Sayang, biarkan Kak Tari menyelesaikan masalah mereka," kata Rangga sambil menggenggam tangan istrinya. Dengan terpaksa Bintang mengiyakannya.


Namun, sebelum Alex membawa Mentari menemui Kakaknya, dia mendapat kabar dari mamanya kalau Juan dibawa ke rumah sakit.


Mentari yang mendengar kabar tersebut ikutan panik. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Juan.


Mereka semua segera menuju rumah sakit. Di dalam mobil tak henti-hentinya Mentari berdoa untuk kesembuhan Juan, matanya juga tak berhenti mengelurkan air mata.


"Kak, Kak Juan pasti baik-baik saja. Kakak jangan sedih ya." Hibur Bintang.


Mentari hanya mengangguk. Pikirannya belum tenang sebelum melihat keadaan Juan secara langsung.


Begitu sampai di rumah sakit, mereka segera berlari mencari keberadaan Juan. Mereka berhenti di depan IGD saat meluhat Ema terduduk lemas di lantai sambil menangis.


"Ma, ada apa dengan Kak Juan?" anya Alex.


"Mama tidak tahu, saat mama masuk dia sudah tak sadarkan diri. Demamnya sangat tinggi," jawab Ema.


Ema menatap Mentari, pandangannya berubah sendu.


"Tari, tolong maafkan Tante," ucapan Ema membuat orang yang ada di situ terkejut.


"Kenapa Tante minta maaf?" tanya Mentari.


"Karena keegoisan Tante, Juan jadi seperti itu. Apa yang terjadi padamu bukan semata-mata karena keinginanmu. Wanita manapun pasti ingin mendapatkan suami yang bertanggung jawab."


Mentari menatap Ema bingung.


"Juan sudah menceritakan semuanya, kau hanyalah korban. Tapi, Tante malah menghakimimu.Tolong maafkan Tante!"


"Tante tidak salah kok. Semua orang tua pasti ingin yang terbaik buat anaknya."


Ema memeluk Mentari, Semua orang senang melihat hal itu kecuali DIA. Orang itu tidak senang dengan kebahagiaan yang ada di depannya.