
"Apa dia orangnya?" tanya seorang wanita paruh baya sambil menunjuk ke arah Sigit.
Sigit yang tidak tahu apa yang di maksud wanita itu hanya bisa diam sambil menatap Ester.
"I..i..iya, Ma," jawab Ester terbata-bata.
"Kenapa kamu masih diam di sana? Ayo ke sini!" seru wanita itu.
Sigit melangkahkan kakinya mendekati Ester dan wanita paruh baya itu berdiri.
"Benar, kamu pacarnya Ester?" tanya wanita paruh baya itu to the point. Sigit yang belum siap akan mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung gelagapan, dia bingung harus memberikan jawaban yang bagaimana.
Sigit memang mulai memiliki perasaan lebih terhadap Ester. Tapi apakah itu cinta? Dia sendiri belum memahaminya,karena jauh di lubuk hatinya masih ada nama Dinda di sana.
"Kenapa diam? Aku tanya, apa kamu pacarnya Ester?" wanita itu kembali menanyakan hal yang sama kepada Sigit.
Sigit menatap mata Ester,dari sorot mata itu terlihat kalau saat ini Ester sedang membutuhkan bantuannya.
"Iya, aku pacarnya," jawab Sigit kemudian.
"Jadi kamu ayah dari janin yang di kandung oleh Ester?"
Duaarrrrrr
Sigit benar-benar syok mendengar pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh wanita paruh baya di depannya. Bagaimana mungkin dia menghamili Ester,sementara menyentuh gadis itu saja dia tidak pernah.
"Maksud Anda?" tanya Sigit lagi.
"Bukankah Ester sedang mengandung anakmu? Kenapa kamu malah balik tanya," tukas wanita itu.
"Ester,apa maksud..."
"Ma, tolong ijinkan aku berbicara dengan dia sebentar," sela Ester sebelum Sigit menyelesaikan kalimatnya.
"Baiklah," jawab wanita yang di panggil mama oleh Ester.
Ester menarik lengan Sigit dan membawanya ke salah satu ruangan di rumahnya.
^°^°^°^
"Ester, apa maksud semua ini? Bagaimana mungkin kamu mengandung anakku, jika menyentuhmu saja aku tidak pernah," Sigit meminta penjelasan kepada Ester.
"Maafkan aku, Git. Sebenarnya aku juga tidak sedang mengandung anak siapapun. Tapi...aku terpaksa bilang ke mama kalau aku sedang mengandung,"
Sigit kembali menatap mata Ester, dia ingin tahu maksud dari perkataan Ester barusan.
"Hari itu setelah aku pulang ke rumah, mama langsung ingin menjodohkan aku dengan anak dari relasi papa. Aku tidak mau di jodohkan dengannya, karena selain dia bukan orang baik. Orang itu sudah memiliki istri dan anak, bahkan istrinya saja sudah 3. Dan aku tidak mau menjadi istri keempatnya. Jadi waktu itu, aku terpaksa bilang ke mama kalau aku sudah mengandung. Dan waktu mama tanya siapa ayah dari janin yang aku kandung, yang terlintas di pikiranku hanya kamu. Jadi aku menjawab kalau kamu adalah ayah dari janin yang sedang aku kandung," jelas Ester.
Sigit mengusap wajahnya kasar, dia benar-benar bingung harus berbuat apa sekarang.
"Lalu apa yang ingin mamamu lakukan hari ini hingga aku di suruh ke sini?" tanya Sigit lagi.
"Mama ingin kita bertunangan," jawab Ester seraya memejamkan matanya. Dia takut kalau Sigit akan marah kepadanya.
"Ester. Seandainya kita bertunangan hari ini, lalu bagaimana jika ke depannya mamamu menyuruh kita untuk menikah. Alasan apa yang ingin kamu berikan pada mamamu?"
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat situasinya menjadi runyam seperti ini. Waktu itu aku hanya berfikir bagaimana caranya lepas dari perjodohan itu," ucap Ester.
"Baiklah, sekarang juga aku akan bilang ke mama kalau perkataanku waktu itu bohong," kata Ester.
Dia berjalan mendahului Sigit ke luar dari ruangan itu.
^°^°^°^
"Apa pembicaraan kalian sudah selesai?" tanya mama Ester, ketika melihat putrinya itu sudah kembali.
"Ma,ada yang ingin aku katakan pada Mama dan juga semua tamu undangan di sini," kata Ester.
"Katakanlah!" seru mamanya.
"Ma, sebenarnya aku tidak sedang mengandung janin siapapun. Apa yang sudah waktu itu aku katakan pada mama semuanya adalah bohong," kata Ester.
"Wah...ternyata semuanya bohong,"
"Jangan-jangan calon tunangannya juga bohongan lagi"
Itulah sebagian komentar yang di lontarkan oleh orang-orang yang hadir di tempat tersebut.
"Apa maksud perkataanmu barusan?" tanya mama Ester marah.
Ester hanya diam, dia hanya bisa menunduk tanpa mengatakan apapun.
"Maafkan aku, Ma" ucap Ester.
Hampir saja sebuah tamparan mendarat di pipi Ester, kalau saja Sigit tidak menahan tangan mamanya Ester.
Ester menatap Sigit, dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Ester, aku tidak tahu bagaimana perasaanku padamu yang sebenarnya. Tapi aku berjanji padamu, aku akan berusaha mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Dan aku akan membuatmu jatuh cinta padaku," ucap Sigit dengan menatap manik mata wanita di depannya.
"Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Sigit yang masih menatap mata Ester.
"Aku mau, Git. Aku juga akan belajar untuk mencintaimu sepenuh hati," jawab Ester.
"Wah,akhirnya Mas Sigit nikah juga," cletuk seseorang yang baru saja datang, siapa lagi kalau bukan Rini.
"Ibu juga seneng akhirnya ibu dapat mantu," tambah Mbok Inah.
"Git, kapan kamu memanggil Rini dan ibumu ke sini?" tanya Ester. Dia benar-benar terkejut melihat kedatangan calon mertua dan adik iparnya sudah berada di rumahnya.
"Saat kamu ke luar untuk memberikan penjalasan kepada mama dan para tamu undangan saat itulah aku menyuruh mereka ke sini. Tidak hanya mereka, aku juga sudah menyuruh seorang penghulu untuk datang ke tempat ini", tutur Sigit.
Ester begitu bahagia mendapat kejutan dari Sigit. Dia yang tadinya ingin bertunangan pura-pura dengan Sigit. Malah berakhir dengan pernikahan yang sebenarnya.
Apalagi ketika para saksi mengatakan 'sah' rasanya kebahagian itu menjadi semakin terasa sempurna.
*****
Hari minggu yang di tunggu itu pun tiba, Mikha dan Tama sudah begitu bersemangat sejak pagi buta. Dua bocah kembar itu sudah tidak sabar ingin melihat desa tempat ibunya di lahirkan. Mereka bahkan mempersiapkan barang pribadinya tanpa di bantu oleh orang tuanya.
"Mommy, kapan kita akan berangkat?" tanya Mikha kepada mommynya yang saat itu sedang berada di dapur. Setiap pagi Bintang memang selalu membantu Mbok Jum untuk mempersiapkan sarapan.
"Nanti, Sayang. Setelah kita selesai sarapan," jawab Bintang kepada putri cantiknya itu.
"Kenapa lama sekali," gerutu Mikha.
"Bukannya lama, tapi Mikha yang bangunnya kepagian. Lihat sekarang baru jam berapa," ujar Bintang seraya menunjuk ke arah jam dinding yang tergantung di dinding dapur.
Gadis kecil itu pun melihat ke arah jam yang di tunjuk oleh mommynya.
Ternyata jam masih menunjukkan pukul 05.00 wib.
"Maaf, Mommy. Mikha kira sudah jam 7 pagi," ucap Mikha malu. Gadis kecil itu pun pergi meninggalkan dapur untuk kembali ke kamarnya.
Tidak lama berselang, Tama juga datang ke dapur menghampiri mommynya. Dan seakan mengulang pertanyaan yang sama,Tama juga menanyakan kapan mereka akan berangkat ke desa.
"Tama, Sayang. Ini masih pagi, kita akan berangkat jam 8 nanti."
Tama melihat ke arah jam yang tergantung di dinding dapur. Reaksinya pun hampir sama dengan Mikha tadi, Tama merasa malu dan langsung berlari masuk ke dalam kamarnya.
"Sepertinya, anak-anak sudah tidak sabar untuk pergi ke desa ya, Nyonya," kata Mbok Jum.
"Sepertinya begitu," sahut Bintang.
Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda tadi.
*****
Usai sarapan Bintang,Rangga dan kedua anak kembarnya sudah bersiap untuk berangkat menuju desa.
Kedua bocah kembar itupun sudah terlebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Kami pamit ya, Ma" ucap Bintang seraya mencium punggung tangan mama mertuanya.
"Ingat ya Sayang, bawakan mama oleh-oleh spesial pesanan Mama."
"Tentu," jawab Rangga dengan pedenya, Rangga juga mencium punggung tangan mamanya.
"Aku pergi dulu ya, Mi." Mia juga ikut berpamitan dengan besannya.
Bintang dan Rangga segera masuk ke dalam mobil, di ikuti oleh Ratih di belakangnya.
"Daddy, kenapa belum jalan juga?" tanya Mikha.
"Daddy, ayo jalan!" seru Tama.
"Mas, ada apa?" tanya Bintang.
"Sayang, maaf ya," ucap Rangga.
"Maaf kenapa, Mas?" tanya Bintang penasaran.
Rangga tidak menjawab pertanyaan istrinya, pandangannya menatap ke arah satu alat di dalam mobil miliknya.
➡️ *Jangan lupa tetap like,komen dan vote ya author tunggu🤗🤗
➡️ Rekomendasi novel yang keren👍: