Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 200


Mereka semua begitu panik, saat melihat Mia tiba-tiba jatuh ke lantai tak sadarkan diri.


"Mama," teriak semua yang ada di situ.


Rangga segera membopong tubuh mia dan membawanya ke dalam kamar.


"Bi, kamu saja yang periksa mama. Biar aku yang mengambil minuman hangat untuk mama," kata Dinda yang berlari menuju dapur.


"Ibu, akan menenangkan anak kalian dulu ya," ujar Ratih. Ratih membawa kedua cucunya yang menangis ke kamar mereka.


Bintang mengambil stetoscop dan mulai memeriksa keadaan mertuanya tersebut.


Deg


"Ini?" batin Bintang


"Bagaimana, Sayang?" tanya Rangga kepada istrinya. Dia sangat mencemaskan keadaan mamanya.


"Mas, Mama..."


"Mama baik-baik saja, Nak. Mama hanya kelelahan," sela Mia sebelum menantunya itu menyelesaikan kalimatnya.


Rangga lega mendengarnya.


"Syukurlah, Mah. Rangga benar-benar takut kalau sampai mama kenapa-napa," kata Rangga.


"Kamu temui anak-anakmu dulu! Mama yakin mereka sempat ketakutan tadi. Biar Bintang yang menemani Mama di sini!" seru Mia kepada putranya.


"Baiklah, Ma. Aku temui mereka dulu," jawab Rangga.


"Sayang, kamu temani Mama ya!" pinta Rangga pada istrinya.


"Iya, Mas," jawab Bintang.


Setelah mencium kening mamanya, Rangga berjalan ke luar meninggalkan kamar tersebut.


"Ma, kita harus ke rumah sakit sesegera mungkin untuk mengetahui keadaan Mama yang sebenarnya. Karena aku curiga Mama.."


"Mama sudah tahu," sela Mia sekali lagi.


Bintang kembali menatap mamanya.


Mia mengambil amplop yang ada di laci dan memberikannya kepada Bintang. Bintang mulai membuka isi dari amplop tersebut, namun Bintang terperangah ketika mengetahui isi dari amplop itu yang ternyata adalah hasil dari diagnosa dokter. Diagnosa yang menyatakan bahwa Mia menderita kanker otak stadium akhir. Bintang memang sudah menduga ketika dia memeriksa mertuanya itu barusan. Tapi dia masih tidak percaya kalau dugaannya ternyata benar.


"Ma, ini...ini bohongkan?" tanya Bitang.


"Mama juga berharap kalau itu semua tidak benar, tapi kenyataannya itu memang benar Sayang," jawab Mia dengan senyum yang tetap mengembang di wajahnya.


"Ma..," Bintang tidak sanggup berkata apa-apa lagi, air matanya meluncur begitu saja di kedua pipinya.


Mia memposisikan dirinya untuk duduk, dia menghapus air mata yang mengalir di pipi menantunya dengan kedua ibu jarinya.


"Nak, Mama tidak apa-apa. Mama sudah cukup bahagia karena bisa melihat anak-anak Mama bahagia. Sekarang yang mama inginkan hanya satu, yaitu melihat Nia menikah," tutur Mia.


"Mama pasti akan melihat kak Nia menikah, dan bukan hanya kak Nia saja, Mama juga akan melihat Tama dan Mikha tumbuh dewasa," kata Bintang yang kembali mengeluarkan air matanya.


"Nak, jangan menangis gara-gara ini! Tetap jadilah menantu Mama yang kuat, menantu yang selalu Mama banggakan selama ini," seru Mia.


"Mama mohon jangan beritahu Rangga atau siapapun. Mama tidak mau mereka semua sedih karena ini," pinta Mia.


"Ma, aku..."


"Setidaknya sampai kakak iparmu menikah," lanjut Mia.


Bintang kembali terdiam.


"Mama mohon!" pinta Mia yang kembali menggenggam tangan menantunya tersebut.


"Baiklah. Tapi dengan syarat, Mama harus mulai menjalankan semua terapi yang dokter sarankan untuk kesembuhan mama," jawab Bintang.


"Iya, Mama janji. Terimakasih ya, Nak."


Bintang hanya bisa mengangguk.


Bintang segera menghapus air matanya, saat Dinda datang dengan membawakan segelas air hangat untuk mertuanya. Dia juga segera memasukkan laporan kesehatan mertuanya tadi ke dalam saku.


"Ayo Ma, di minum!" seru Dinda seraya menyodorkan cangkir berisi teh hangat kepada mertuanya.


"Terimakasih ya, Sayang," ucap Mia. Dia menerima cangkir berisi teh dari tangan menantunya, kemudian meminumnya.


"Bi, bagaimana hasilnya? Mama baik-baik sajakan?" tanya Dinda kepada Bintang.


Bintang menatap ke arah mertuanya sejenak.


"Iya Din, mama hanya kelelahan," jawab Bintang yang terpaksa berbohong.


"Dinda, kamu temani mama ya. Aku mau istirahat," kata Bintang.


"Iya, Bi. Jangan khawatir, biar aku yang menemani Mama kamu istirahat saja!"


"Terimakasih ya, Din" ucap Bintang.


Bintang segera berjalan ke luar dari kamar mama mertuanya. Dia memilih untuk ke luar karena sudah tidak sanggup lagi untuk menahan air matanya yang hampir jatuh.


*****


"Sayang, grandma tidak apa-apa. Jangan menangis lagi ya!"


Ratih mencoba membujuk ke dua cucunya yang sedari tadi tidak berhenti menangis.


"Benarkah, Nek?" tanya Mikha yang masih sesegukan.


"Iya, Sayang. Kan ada mommy dan tante Dinda yang bisa ngobatin grandma. Mikha lupa ya, kalau mommy dan tante Dinda itu seorang dokter?"


Tangis kedua bocah itu seketika berhenti, mereka berdua saling tatap.


"Kenapa Mikha sampai lupa kalau mommy kita dokter," kata Mikha sambil memukul kepalanya sendiri.


"Jangan memukul kepalamu sendiri!" cegah Tama seraya memegangi tangan saudara kembarnya itu.


"Jadi grandma beneran tidak apa-apakan, Nek?" tanya Tama kepada sang nenek.


"Iya, grandma tidak apa-apa, Sayang. Jadi kalian jangan sedih lagi ya," ujar Rangga yang baru saja masuk ke dalam kamar kedua anak kembarnya.


"Daddy..." panggil keduanya seraya berlari memeluk daddy mereka.


"Benarkah, Daddy?" tanya Mikha


"Tentu saja benar. Jadi kalian tidak boleh menangis lagi oke!"


"Oke, Daddy" jawab keduanya bersamaan.


Mikha dan Tama segera menghapus air mata mereka.


"Sekarang Kalian berdua mandi, setelah itu baru temui grandma kalian!" perintah Ratih kepada kedua cucunya.


"Baik, Nenek," jawab keduanya bersemangat.


Rangga dan Ratih berjalan ke luar meninggalkan kamar si kembar. Mereka memberikan kesempatan kepada kedua bocah itu untuk membersihkan diri.


*****


Bintang duduk di tepi ranjang kamarnya. Dia kembali melihat hasil diagnosa yang di berikan oleh mertuanya tadi.


"Aku harap ini tidak benar," gumam Bintang.


Sekali lagi Bintang menatap laporan tersebut, dia masih berharap kalau laporan itu memang salah.


"Apa yang harus aku katakan pada Mas Rangga," kata Bintang lirih.


"Katakan apa, Sayang?" tanya Rangga yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"E...bukan apa-apa kok Mas," jawab Bintang gugup. Dia segera menyembunyikan hasil laporan mertuanya itu di bawah tempat tidur.


"Bagaimana dengan anak-anak, apa mereka sudah berhenti menangis?" tanya Bintang seraya berjalan mendekati suaminya.


"Mereka sudah berhenti menangis dan sekarang mereka sedang mandi" jawab Rangga.


"Kalau begitu Mas juga harus mandi sekarang! Aku akan kembali ke kamar mama," seru Bintang.


"Baiklah," jawab Rangga.


"Ohya Sayang, apa kita perlu membawa mama untuk pemeriksaan lanjutan di rumah sakit?" tanya Rangga.


"Kita bicarakan itu nanti," jawab Bintang lagi.


Bintang berjalan ke luar dari kamarnya, sementara Rangga masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


^°^°^°^


Beberapa saat kemudian Rangga ke luar dari kamar mandi, setelah berganti pakaian, dia ingat kalau dia harus melihat laporan perusahaannya pagi tadi.


Dia mengambil laptop yang biasa dia letakkan di atas nakas. Namun saat mengambil itu, tiba-tiba tanpa sengaja matanya melihat sebuah kertas putih yang terselip di bawah tempat tidur.


Rangga mengambil kertas tersebut yang ternyata sebuah amplop.


"Ini seperti diagnosis dokter? Tapi milik siapa?" batin Rangga sambil menatap amplop tersebut.


Karena penasaran Rangga membukanya dan...


➡️Silahkan tinggalkan jejak kalian dengan cara like, komen dan vote ya😁. Author tunggu...🤗


➡️ Baca juga novel keceh di bawah ini:





Trimakasih💖💖💖