
Alex berjalan keluar dari ruangannya,namun langkahnya terhenti saat ada tangan yang memegang bahunya.
"Mas,mau kemana kamu?", tanya Ana.
Alex bernapas lega saat tahu yang memegang bahunya barusan adalah istrinya, Ana.
" Ternyata kamu,Sayang",kata Alex sambil mengelus dadanya.
"Terus Mas kira siapa?", tanya Ana penuh selidik.
" Awas ya Mas,Kalau sampai macam-macam!",ancam Ana.
"Mana mungkin aku macam-macam di belakang kamu,Sayang. Ada ada saja", jawab Alex sambil merangkul bahu istrinya dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.
" Kok tumben ke rumah sakit,ada apa?"tanya Alex pada istrinya itu.
"Aku hanya ingin tahu kamu benar-benar bekerja atau sibuk menggoda perawat dan dokter cantik di sini", jawab Ana.
Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap istrinya itu. Sejak istrinya itu hamil bawaannya selalu curiga.Bahkan setiap setengah jam,Ana selalu meminta suaminya itu menelponnya.Jika tidak dia lakukan, maka butuh waktu semalaman untuk membujuk istrinya itu.
" Mas, ayo temani aku makan siang.Aku bawakan banyak makanan dari restoranku".
Ana mulai mengeluarkan makanan yang ia bawa dan meletakkannya satu per satu di atas meja.
"Sayang tapi tadi aku..."
"Awas ya kalau kamu bilang tidak mau makan", sela Ana sebelum suaminya itu menyelesaikan kata-katanya.
Dengan terpaksa Alex memenuhi keinginan istrinya itu. Dia mulai memakan makanan yang di bawa oleh istrinya,meskipun perutnya masih sangat kenyang.
" Ohya,Bintang ada di ruangannyakan?"tanya Ana.
"Kamu coba lihat saja sendiri,soalnya dari tadi dia sibuk di IGD", jawab Alex.
" Kamu habiskan makanan ini,aku akan menemui Bintang sebentar ",kata Ana.
" Sayang ",panggil Alex.
Alex memberikan nomor pasien kepada istrinya saraya berkata:" Berikan itu pada Bintang. Katakan padanya passwardnya sudah aku tulis dibawah nomor itu".
"Apa ini?" tanya Ana.
"Diakan temanmu,lebih baik kamu tanya langsung saja padanya", jawab Alex.
" Baiklah, aku ke ruangan Bintang dulu ya.Ingat saat aku kembali ke sini,semua makanan ini harus sudah Mas habiskan"kata Ana sebelum dia keluar dari ruangan suaminya.
"Bagaimana aku menghabiskannya", gumam Alex sambil menatap semua makanan yang berada di atas meja.
*****
Ana langsung menemui Bintang di ruangannya.
" Bintaaannnngg",teriak Ana ketika membuka pintu ruang kerja temannya itu.
Bintang yang sedang duduk segera berdiri saat melihat Ana berada di hadapannya.
"Aku kangen banget sama kamu,Bintang", kata Bintang sambil memeluk sahabatnya itu.
"Aku juga,kangen banget sama kamu Ana", jawab Bintang.
Bintang membawa temannya itu duduk di sofa bersamanya.
" Gimana kandungan kamu?sehat?" tanya Bintang.
"Alhamdulillah sehat", jawab Ana.
" Ohya,Bi.Ini dari mas Alex",kata Ana sembari memberikan sebuah nomor pada sahabatnya itu.
"Kata Mas Alex, passwardnya ada di balik nomor itu", tamabah Ana.
Bintang menerima nomor pasien yang di berikan oleh Ana,setelah melihat tulisan yang tertera di belakang nomor itu,dia memasukkannya ke dalam saku bajunya.
" Memangnya itu nomor pasien siapa? Sepertinya penting banget",tanya Ana.
"Itu nomor pasien ayahkhu.14 tahun lalu ayahku pernah di rawat di sini dan karena sesuatu hal dia meninggal saat di operasi", jawab Bintang.
" Maaf ya Bi,aku tidak bermaksud mengingatkanmu akan hal itu" kata Ana saat melihat gurat kesedihanan di mata sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa kok An", jawab Bintang.
" Bi,hari minggu ini kita ke tempat Dewi yuk! Kita ngumpul-ngumpul kayak di rumahmu waktu itu",ajak Ana.
"Boleh,kebetulan minggu ini aku free", jawab Bintang antusias.
" Ya sudah,kamu lanjutkan kerja kamu.Aku mau balik ke ruangannya mas Alex. Mau ngecek dia sudah ngabisin makanan yang aku bawa apa belum",kata Ana.
"Kamu bawain suamimu itu makanan,An?" tanya Bintang.
" Iya.."
" Pantes saja dia kebingungan saat aku menyuruhnya menghabiskan makanan yang aku bawa,ternyata dia sudah makan",kata Ana.
"Ya sudah ya Bi,aku ke ruangan mas Alex dulu.Aku takut dia maksain diri buat makan makanan yang aku bawa tadi", pamit Ana.
" Hati-hati ya An",jawab Bintang.
Setelah sahabatnya itu keluar dari ruangannya,Bintang beranjak dari sofa yang dia duduki.
Dia segera menyalakan komputer di depannya dan memasukkan passward yang Alex berikan. Bintang mulai memasukkan nomor pasien ayahnya ke dalam komputer tersebut.
"Kenapa tidak ada", gumam Bintang setelah mencoba mencari data pasien menggunakan nomor pasien ayahnya.Namun dia tidak menemukan data itu.
" Apa datanya sengaja tidak di masukkan ke dalam komputer? Atau ada seseorang yang sudah menghapusnya?",gumam Bintang lagi.
Bintang menyandarkan bahunya di sandaran kursi sambil memejamkan matanya.
"Mungkin aku harus meminta bantuan Mas Rangga soal ini", gumam Bintang lagi.
*****
Ana kembali lagi ke ruang suaminya,dia melihat suaminya itu sedang berusaha menelan makanan yang ada di hadapannya.
" Mas sudah hentikan",seru Ana.
Ana membereskan makanan yang ada di meja suaminya itu.
"Kenapa Sayang? Aku kan belum menghabiskan makanannya?", tanya Alex.
" Mas,kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah makan siang tadi? Harusnya kamu bilang jadi aku tidak akan memaksamu untuk menghabiskannya",jawab Ana.
"Bintang sudah memberitahuku", kata Ana saat melihat suaminya menatapnya.
Alex beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati istrinya itu.
" Tapi aku bisa memakan yang lain Sayang",bisik Alex seraya memeluk istrinya itu dari belakang.
Kedua tangan Alex sudah masuk kedalam baju istrinya itu.
"Mas..", Ana menahan tangan suaminya itu.
" Tidak di sini",kata Ana seraya melepaskan diri dari suaminya itu.
"Maaf, Dok.Anda di tunggu di ruang operasi", kata seorang perawat yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
" Maaf,saya tidak tahu kalau ada istri Anda di dalam",ucap perawat tersebut saat melihat ada Ana di sana.
"Lain kali ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruanganku", tegur Alex.
" Iya,Dokter.Saya minta maaf ",jawab perawat itu.
" Sayang,aku harus ke ruang operasi.Kamu tidak apa-apakan aku tinggal? ",tanya Alex pada istrinya.
" Tidak apa-apa, Mas.Aku juga mau langsung pulang ",jawab Ana.
Alex keluar dari ruangannya setelah mencium kening istrinya itu.
" Aku tinggal ya Sayang dan hati-hati saat pulang nanti",ucap Alex sebelum akhirnya dia benar-benar pergi dari ruangannya.
*****
Malam harinya...
Setelah hampir setengah hari Rania bermain dengan Leon,tiba waktunya dia untuk pergi dari apartemen milik Erik.
"Leon,mami pulang dulu ya.Besok mami akan ke sini lagi untuk menemani Leon main", pamit Rania pada anak yang kini memanggilnya mami itu.
" Iya Mami",jawab Leon.
"Leon,Sayang. Papi antar mami dulu ke depan ya", kata Erik.
" Baik,Papi",jawab Leon.
Erik dan Rania berjalan ke luar apartemen. Erik mengantar Rania sampai ke tempat parkir.
"Terimakasih ya Nia,karena hari ini kamu sudah mau menemani Leon"ucap Erik.
" Sama-sama Pak Erik, aku juga senang bisa menghabiskan waktu bersamanya",jawab Rania.
Rania hampir saja terjatuh saat high hells miliknya tiba-tiba patah.Untungnya dengan sigap Erik menolongnya,sehingga posisi mereka seperti sedang berpelukan.
Mata mereka berdua saling beradu,bahkan debaran jantung keduanya terdengar jelas di telinga keduanya.
Rania memejamkan matanya saat hembusan napas laki-laki itu semakin mendekat ke arahnya.
Dan....