Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 148


Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 ,artinya waktu istirahat sudah tiba.


Bintang dan perawat yang bernama Lina berada di kantin rumah sakit. Keduanya menikmati makan siang mereka sembari bercanda, meski sesekali masih membicarakan soal pasien dan pekerjaan.


"Dok,apa dokter tahu kalau pasien yang bernama Prayoga itu dulunya seorang dokter ahli bedah?", kata Lina sambil maafin nyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Prayoga?", Bintang berusaha mengingat nama pasien dengan nama tersebut.


" Itulho Dok,pasien VVIP di rumah sakit ini",kata Lina memberi tahu.


"Oh...dia. Dari mana kamu tahu kalau dia seorang Dokter ahli bedah?" tanya Bintang lagi.


"Dokter bisa kok cari dia di internet.Dulu dia itu dokter bedah yang sangat terkenal,bahkan hanpir semua pasien yang datang ke rumah sakit ini selalu meminta dia untuk mengoprasinya.Tapi...ada suatu kejadian yang tidak terduga terjadi di meja operasi, seorang pasien meninggal di tangannya. Padahal pasien itu tidak menderita penyakit serius,hanya sakit usus buntu. Dan sejak saat itu Dokter Prayoga enggan melakukan operasi lagi,bahkan dia mundur dari dunia kedokteran", Lina bercerita tentang dokter Prayoga panjang lebar.


" Kenapa?"tanya Bintang lagi.


"Keluarga pasien membawanya ke jalur hukum.Yah meskupun pada akhirnya pengadilan tetap memutuskan kalau Pak Prayoga tidak bersalah. Tapi..gosip yang beredar waktu itu, katanya Pak Prayoga sengaja menyuap salah satu hakim agar dia bebas dari segala tuduhan.Sejak saat itu dia menghilang bak di telan bumi", turur Lina panjang lebar.


Bintang nampak berfikir sejenak.


" Apa dokter sudah selesei makannya?", tanya Lina saat melihat Bintang masih diam.


"Iya, aku sudah kenyang", jawab Bintang.


" Kalau begitu kita kembali bekerja yuk,Dok!",ajak Lina.


"Ayo" jawab Bintang.


Bintang dan Lina beranjak dari tempat duduk mereka dan meninggalkan kantin.


*****


Bintang masih diam di ruangannya, entah kenapa dia jadi penasaran dengan cerita Lina di kantin tadi.


Bintang mulai mencari tahu tentang Dokter Prayoga di internet.


Bintang mulai membaca artikel Dr.Prayoga,di mulai dari profil dokter tersebut.


"Ternyata dia dokter yang cukup kompeten"


Bintang kembali melanjutkan membaca artikel tersebut. Hingga pada akhirnya dia mendapati kasus yang di bicarakan oleh Lina tadi.


"Mana mungkin dia gagal mengoperasi pasien yang hanya menderita sakit usus buntu? Sementara operasi-operasi besar lainnya dia berhasil.Apa terjadi sesuatu saat operasi?" batin Bintang lagi.


"Reyhan Alfian? Namanya seperti nama ayah.Mungkin hanya kebetulan".


Bintang berhenti membaca artikel tersebut saat Alex datang ke ruangannya.


" Ada apa? Tumben nggak sibuk? ",tanya Bintang kepada suami sahabatnya itu.


" Bi,waktu kamu hamil kamu minta yang aneh-aneh nggak?",tanya Alex sambil mendudukkan dirinya di kursi yang berada di depan Bintang.


"Kenapa? Apa Ana ngidamnya aneh-aneh?"


"Masa ya Bi,dia nggak mau aku deketin. Malahan aku di suruh tidur di kamar tamu.Kesalkan?"


"Yang sabar,itukan kemauan anak kamu", jawab Bintang santai.


" Kak Rangga gitu juga,nggak Bi?"tanya Alex lagi.


"E....", Bintang tidak menjawab, dia hanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


" Masa aku bilang kalau aku ngidamnya pingin begituan,bisa di ketawain aku sama Alex ",jawab Bintang dalam hati.


" Hello",Alex melambaikan tangannya di depan wajah Bintang.


"E..sorry,tadi kamu tanya apa Lex? Aku lupa".


" Sudahlah, aku balik ke ruanganku saja",kata Alex seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Tunggu, Lex!", cegah Bintang


" Ada apa? "tanya Alex.


" Apa kamu tahu kalau Pak Prayoga itu seorang dokter bedah?"


"Iya,aku tahu. Dia itu dokter bedah yang sangat hebat. Kenapa?", Alex balik tanya.


" Aneh saja,dia berhasil mengoperasi pasien dengan penyakit atau masalah yang lebih serius. Tapi kenapa dia gagal mengoperasi pasien dengan sakit usus buntu? Apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan itu?".


"Iya juga ya. Aku tidak pernah berfikir sejauh itu".


" Kamu ini bagaimana? Dulu diakan bekerja di rumah sakit milik keluarga Rahardian juga, Kenapa kamu tidak tahu apa-apa soal ini"


"Aku kan baru memegang rumah sakit Rahardian satu tahun ini,bagaimana aku bisa tahu kejadian apa yang terjadi 14 tahun lalu", jawab Alex.


" Apa kamu tahu keluarga korban yang meninggal itu?",tanya Bintang


"Sudahlah, kamu juga pasti tidak tahu soal itu", ralat Bintang.


" Aku ke ruanganku lagi ya",Setelah mengatakan itu Alex keluar dari ruangan Bintang.


Bersamaan dengan itu,ponsel milik Bintang berdering. Dia segera menjawabnya saat melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya.


"Ada apa,Mas?" tanya Bintang


"Aku sudah minta maaf sama mama,jadi malam ini aku akan minta hadiah yang kamu janjikan tadi pagi".


" Jadi Mas menelponku cuma ingin mengatakan itu? "


"Iya,akukan tidak ingin kamu lupa", jawab Rangga enteng.


" Isshhh,tenang saja aku tidak akan lupa. Aku akan membuatmu puas malam ini ",jawab Bintang sedikit kesal.


Rangga hanya terkekeh di ujung sana.


" Sudah ya Mas,aku tutup telponnya. Love you "


"Love you too, Sayang", jawab Rangga.


Bintang meletakkan kembali ponsel miliknya ke atas meja. Bintang kembali melihat layar komputer di depannya sambil menatap nama pasien dari Dr Prayoga.


" REYHAN ALFIAN",gumam Bintang.


Nama itu sama persis dengan nama ayahnya yang meninggal 14 tahun lalu.Tapi sayangnya tidak ada foto yang terlampir di artikel tersebut.


*****


Siang itu setelah melihat persiapan gedung untuk pernikahan adiknya,Rania memilih untuk tidak kembali ke kantor keluarga Wijaya.


Rania masih memikirkan perkataan mamanya tadi pagi.


"Sebenarnya aku juga ingin menikah lagi dan hidup bahagia. Tapi...apa ada laki-laki yang mau menikahi wanita yang tidak sempurna sepertiku" batin Rania.


Rania duduk di sebuah taman yang tidak jauh dari gedung tempat resepsi adiknya akan di gelar.


Rania terkejut saat ada bola yang mengenai kepalanya.


"Aw", ringis Rania,kemudian dia mengambil bola yang mengenai kepalanya tadi.


" Milik siapa ini?",teriak Rania sambil berdiri.


"Maaf,Tante itu milikku", jawab anak kecil yang umurnya sekitar 3 tahunan tersebut.


Anak itu menundukkan kepalanya karena takut.


Rania mendekati anak itu dan berjongkok di depannya.


" Lain kali kalau main hati-hati ya,Sayang. Jangan sampai mengenai kepala orang ",kata Rania sambil mengembalikan bola tersebut kepada anak itu.


" Iya,Tante. Terimakasih ",ucap anak itu.


"Leon", panggil seseorang dari belakang Rania.


" Papiii",anak kecil itu berlari ke arah sumber suara Itu.


Rania berbalik kemudian melihat siapa yang di panggil papi oleh anak itu.


Rania dan orang itu sama-sama terkejut .


"Rania.."


"Kamu.."


Kata mereka bersamaan.


## Hy reader semua jangan lupa like,komen dan votenya ya. Author tunggu!