Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 67


Hari itu Bintang bangun kesiangan,itu semua karena ulah suaminya semalam.


Semalam usai bergulat di bathub,mereka melanjutkannya di tempat tidur bahkan mereka baru memejamkan matanya setelah pukul 3 pagi.


Pagi ini tubuh Bintang terasa sakit dan rasanya malas untuk berangkat ke kampus. Tapi bagaimana pun hari ini ada mata kuliah dari Pak Rendi,si Dosen killer. Dia segera mandi dan bersiap-siap.


Beberapa menit kemudian Bintang turun dan bergabung dengan keluarganya yang sudah berkumpul di meja makan.


"Mommy,apa Mommy sakit?" tanya Mikha. "Tidak Sayang Mommy hanya kecapekan" jawab Bintang sambil mengusap rambut putri kecilnya itu.


"Kamu beneran mau kuliah Sayang? Kelihatannya kamu kelelahan" tanya Rangga sedikit khawatir.


"ini semua kan gara-gara kamu Mas,sudah tahu semalem aku kecapekan. Masih saja ngajak main sampai jam 3 pagi" tanpa sadar Bintang menjawab semua itu dengan gamblang.


Tama dan Mikha menatap Daddy mereka dengan tatapan menghardik.


"Daddy,kenapa Daddy suruh Mommy main malam-malam?Bukankah malam itu waktunya kita bobo" kata Mikha yang terlihat kesal dengan ayahnya karena membuat Mommynya seperti sekarang ini.


"Memang Mommy sama Daddy main apa?bukankah malam hari nggak ada cahaya?kan nggak enak Dad,main di tempat gelap" tanya Tama yang tidak mengerti.


Rangga menatap ke arah Bintang untuk membantunya memberikan penjelasan pada anak mereka.


"Tama,Mikha hari ini Grandma yang akan antar kalian ke sekolah.Jadi cepat habiskan makanan kalian" kata Mia dan itu membuat Rangga dan Bintang bernapas lega.


"Kalian ini kebiasaan" kata Ratih pada anak dan menantunya yang selalu saja bicara sembarangan.


Setelah kedua anak mereka berangkat ke sekolah dengan nenek mereka.Rangga pun mengantarkan istrinya ke kampus.


"Sayang,semalam kamu bilang pasien?memang kamu dapat tugas apa hingga ada pasien segala?" tanya Rangga dalam perjalanannya menuju kampus.


Bintang mulai menceritakan bagaimana kemarin dia terlambat dan di usir dari kelas.Hingga hukuman yang harus dia jalani agar dia bisa ikut mata kuliah tersebut.


Rangga tertawa mendengarnya, "Pasti tu dosen tua dan kolot.Aku jadi pengen lihat wajah tu dosen" kata Rangga.


"Kamu salah Sayang,Dosen itu masih muda dan lumayan ganteng"


Ciiiiitttt....


Rangga mengerem mobilnya mendadak dan menatap tajam istrinya.


"Maksud kamu?!?" tanya Rangga


"Ya dosen itu masih muda,dia juga lumayan ganteng" jawab Bintang.


Seketika mood Rangga jadi jelek,dia langsung menekuk wajahnya.


Bintang yang melihat perubahan di wajah suaminya tersenyum simpul.Dia semakin ingin menggoda suaminya itu.


"Andai saja aku belum menikah pasti aku akan jatuh hati dengan dosen itu" kata Bintang sambil melirik ke arah suaminya dan melihat ekspresinya.


Benar saja raut muka Rangga berubah semakin kesal.


"Jika kamu berani jatuh hati padanya aku akan patahkan kakinya dan akan kukuliti dia hidup-hidup" ancam Rangga dengan tatapan membunuh.


Bintang yang mendengar ancaman itu malah tertawa,dia menangkup wajah suaminya itu dengan kedua tangannya.


"Dengar Sayang! Setampan dan se kaya apapun lelaki di luaran sana,bagiku kamulah yang paling tampan di dunia ini. Kamu adalah segalanya bagiku dan aku sangat sangat sangat mencintaimu" kata Bintang.


Saat Bintang hendak melepaskan tangkupan tangannya di wajah Rangga, Rangga menarik tengkuk istrinya itu dan mencium bibir istrinya itu lembut.Dan semakin lama ciuman itu semakin dalam apalagi tanpa sadar Bintang melenguh dan membuat birahi keduanya memuncak.


Bintang mengalungkan tangannya di leher sang suami,sementara tangan Rangga sudah menyusup masuk ke dalam baju istrinya itu dan m******s gundukan kembar di dalamnya.


"Maaf Sayang,hari ini ada mata kuliah Pak Rendi aku tidak mau di usir dari kelas hanya gara-gara telat masuk." ucap Bintang kemudian merapikan bajunya yang agak berantakan.


Rangga mengusap wajahnya kasar, dia merasa kesal karena harus menghentikan permainan saat birahinya sudah mulai memuncak.


Sebenarnya Bintang merasa bersalah membuat suaminya jadi seperti itu, tapi mau bagaimana lagi dia juga tidak mau di usir dari kelasnya dan tidak di perbolehkan mengikuti mata kuliah Pak Rendi.


"Baiklah,tapi malam ini kamu harus membayarnya dua kali lipat" jawab Rangga kemudian kembali melajukan mobilnya.Bintang bergidik ngeri mendengar kata 'dua kali lipat' semalam saja mereka melakukannya sampai jam 3 pagi,aka kabar malam ini.


"Tapi...bagaimana dengan....", Bintang tidak melanjutkan perkataannya, dia hanya melirik ke alat vital suaminya yang sudah kelihatan mengeras di balik sana.Dia benar-benar merasa bersalah.


" Jangan khawatir aku bisa menuntaskannya sendiri"jawab Rangga santai dia tidak ingin istrinya itu merasa bersalah.


Bintang segera turun dari mobil saat sampai di pertigaan sebelum sampai kampus. Namun sebelum dia pergi dia mencium bibir suaminya itu sekilas.


"Love you"


"Love you too my sweety" balas Rangga sebelum pergi.


Hampir saja Bintang terlambat sampai di kelas.Karena begitu dia tiba di kelasnya kurang dari satu menit dosen killer itu juga datang.


Dan seperti hari sebelumnya usai pulang kuliah Bintang langsung ke klinik milik sang dosen.


"makan ini", Rendi memberikan roti coklat kepada Bintang saat sudah tidak ada pasien. Kebetulan hari ini pasien yang datang tidak seramai biasanya.


" terimakasih "ucap Bintang sambil menerima roti tersebut.


" Ohya Pak Rendi, kenapa Anda mengubah penampilan Anda saat mengajar di kampus?"tanya Bintang sambil mengunyah roti yang di berikan Rendi barusan.


"Menurutmu jika aku berpebampilan seperti ini apa mahasiswaku akan memperhatikan mata kuliahku?" Rendi balik tanya.


"Iya juga sih Pak,pasti mereka akan lebih memperhatikan wajah Bapak di bandingkan pelajaran Pak Rendi" jawab Bintang sambil tertawa.


"Apa kamu juga akan melakukan hal itu jika aku berpenampilan seperti ini saat mengajar?" tanya Rendi.


"Mungkin kan lumayan dapat hiburan gratis" jawab Bintang santai.


Tiba-tiba Rendi menatap Bintang,dia mengusap sudut bibir Bintang yang terkena coklat dengan jempolnya.


Bintang balik menatap Rendi sebentar, kemudian dia menjauhkan tangan Rendi dari bibirnya.


"Maaf Pak,tidak enak di lihat yang lain" ujar Bintang.


"aku minta maaf" ucap Rendi.


Bintang hanya membalasnya dengan senyum.


"Sepertinya sudah tidak ada pasien lagi,lebih kita tutup kliniknya sekarang. Jadi kamu bisa pulang lebih awal malam ini" kata Rendi.


"Akhirnya aku bisa pulang cepat,aku sangat merindukan anak-anakku"kata Bintang bersemangat.


" tadi kamu bilang apa?"tanya Rendi karena dia tidak mendengar dengan jelas apa yang di katakan Bintang barusan.


"Memang aku bilang apa Pak?" tanya Bintang bingung, dia tidak mengerti maksud pertanyaan Rendi.


"Sudah lupakan saja mungkin aku salah dengar" kata Rendi lagi.


Bintang hanya mengedikkan bahunya,karena dia tidak tahu maksud perkataan Rendi.