Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 71


Malam hari di hari berikutnya...


Setelah menemani kedua anaknya belajar,Bintang pergi ke rumah sakit untuk menemui ibunya Rendi.


Dia mengirim pesan singkat kepada suaminya,memberi tahu kalau sekarang dia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Begitu sampai,Bintang menyuruh Pak Mun untuk langsung pulang. Dia akan menelpon Pak Mun saat urusannya sudah selesei.


Bintang segera berjalan ke ruang rawat ibunya Rendi. Ibunya Rendi begitu senang saat melihat kedatangan Bintang.


"sini Nak,ayo duduk dekat ibu" suruh ibunya Rendi. Bintang duduk di sisi ranjang.


"Oh iya,kemarin kita belum berkenalan secara baik.Nama ibu Yulia,nama kamu siapa Nak?" tanya ibunya Rendi seraya memperkenalkan diri.


"Oh,saya Bintang Tante"


"Jangan panggil Tante,kamukan calon mantu ibu.Jadi kamu bisa panggil ibu ini ibu sama seperti Rendi".


Bintang melihat ke arah Rendi sebentar, kemudian dia kembali menatap Ibunya Rendi dan tersenyum.


"Apa kamu sudah makan malam,Nak?" tanya Yulia.


"Sudah Tante"


"Tuh kan Tante lagi" protes Yulia. "Ibu panggil ibu bukan Tante"kata Yulia lagi.


" Sudahlah Bu,mungkin Bintang belum terbiasa"kata Rendi.


"Kamu tahu Nak,ibu senang sekali karena akhirnya Rendi punya pacar.Ibu kira dia ini punya kelainan karena selama ini dia tidak pernah memperkenalkan wanita pada ibu" kata Yulia yang terlihat bahagia.


Mendengar perkataan Yulia barusan,Bintang jadi merasa bersalah karena telah membohongi wanita itu.


Yulia mengambil satu tangan Bintang dan satu tangan Rendi,kemudian dia menyatukannya dalam satu genggaman.


Tiba-tiba saja seseorang menarik tangan Bintang dari genggaman Yulia,wajahnya sudah tampak merah padam menahan amarah.Dia menatap sisnis ke arah Rendi.


"Siapa kamu?apa yang kamu lakukan?" tanya Yulia.


Orang itu menarik Bintang agar mendekat kepadanya,dan merangkul bahunya.


"Beraninya kamu menyentuh calon menantuku"


Rendi dan Bintang,keduanya saling tatap. Mereka menelan ludah mereka dengan susah payah.Mereka benar-benar takut kalau orang itu akan mengatakan semuanya kepada Yulia.


"Ibu dia..."


"Aku Kakaknya Bintang" orang itu memperkenalkan diri sebagai kakak dari Bintang. Bintang dan Rendi bernapas lega.


"Maaf Nyonya siapa pun tidak boleh menyentuh adikku selain mahromnya" katanya tegas.


"Maaf saya tidak tahu" ucap Yulia.


"Ini sudah malam,jadi kami harus pulang sekarang" kata orang itu tanpa ekspresi.


"Oh...iya,sialahkan.Saya rasa saya juga butuh istirahat" kata Yulia.


"Ibu,Aku antar mereka keluar dulu ya" pamit Rendi.


Bintang dan orang itu keluar lebih dulu,Dan diikuti oleh Rendi di belakangnya.


"Terimakasih,Sayang. Karena kamu tidak mengatakan apa-apa kepada ibunya Pak Rendi tadi" ucap Bintang sembari memeluk orang itu.


"Maaf ya Pak Rangga,karena saya sudah menyuruh istri Bapak untuk berpura-pura jadi tunangan saya" Kata Rendi.


"Sudahlah,toh semuanya sudah terjadi" kata Rangga malas.Orang yang datang tadi adalah Rangga.


Rangga segera menuju rumah sakit, sesaat setelah mendapat pesan dari istrinya.


"Sekali lagi maafkan saya,saya juga berterimakasih karena Bapak tidak mengatakan apapun kepada ibu saya tadi"


Sebenarnya tadi Rangga datang dengan mobil pribadinya,tapi dia menyuruh Nando untuk membawa mobilnya pergi, karena dia ingin memberikan Rendi sedikit pelajaran.


Rendi setuju untuk mengantar Rangga dan Bintang pulang kerumah mereka.


Rangga sengaja mengajak istrinya duduk di bangku belakang,membiarkan Rendi sendirian di kursi depan.


"Aku tidak perlu memberitahumukan dimana rumah kami?Karena aku yakin kamu sudah tahu dimana rumah keluarga Wijaya" kata Rangga yang sengaja menekankan kata Wijaya.


"iya tentu saja" Rendi berusaha bersikap sesopan mungkin.


Rangga sengaja menyandarkan kepalanya di bahu sang istri sambil sesekali mencium leher istrinya itu.


"Mas" Bintang berusaha menjauhkan kepala suaminya dari lehernya,bukannya Bintang tidak mau.Tapi dia merasa tidak nyaman kalau harus bermesraan di depan orang lain.


"Kenapa? Biasanya kamu juga menikmatinya", Rangga sengaja mengatakan dengan suara sedikit lebih keras.


" Iya,Sayang. Apapun yang kamu lakukan padaku,aku akan selalu menikmatinya. Tapi tidak di depan orang lain"jawab Bintang setengah berbisik.


Rangga tidak memperdulikan ucapan istrinya tadi. Dia malah menarik tengkuk istrinya itu,mencium bibirnya dengan sangat rakus. Awalnya Bintang menolak karena tidak enak ada Rendi di sana, tapi kemudian dia menikmatinya bahkan membalas ciuman dari suaminya itu.


Rendi melihat yang mereka lakukan lewat spion yang tergantung di depannya. Diam-diam dia mengepalkan tangannya.


Rangga dan Bintang melepaskan ciuman mereka,saat mobil itu berhenti.


"Maaf Pak,kita sudah sampai" kata Rendi.


"oh..." hanya itu yang keluar dari mulut Rangga.


Rangga membawa istrinya itu keluar dari mobil. Bintang menundukkan kepalanya karena malu.Padahal tadi dia bilang kalau dia tidak enak bermesraan di depan orang lain, tapi nyatanya ciuman suaminya membuatnya melupakan segalanya.


"Pak Rangga saya pamit ya dan terimakasih untuk hari ini" ucap Rendi kemudian dia pergi meninggalkan kediaman Wijaya.


Rangga langsung membopong tubuh istrinya itu.


"Kamu harus di hukum karena sudah berani memegang tangan pria lain" kata Rangga dengan sorot mata tajamnya.


"Sayang,akukan tidak bermaksud begitu"


"Pokoknya kamu harus dihukum dan kamu tahu apa hukumanmu?",Rangga mendekatkan wajahnya ketelinga Bintang.


" Puaskan aku malam ini"bisiknya.


"Kamu licik sekali,Sayang"


"Karena kamu berani protes,maka kamu yang harus pegang kendali karena aku hanya ingin menikmatinya"


Bintang tidak berani mengatakan apapun lagi.Dia pasrah menerima hukuman dari suaminya,meskipun itu artinya dia harus bekerja lebih ekstra untuk memuaskan suaminya.


Sementara itu Rendi yang baru saja tiba di apartemennya,langsung melempar jasnya ke sembarang tempat.


Dia benar-benar kesal karena kemesraan yang di lihatnya di mobil tadi.


"Awas kamu Rangga, Aku pasti akan menghancurkan kebahagianmu" gumam Rendi geram.


Rendi menatap foto wanita yang sedang tersenyum yang terletak di atas mejanya.


Dia kembali mengingat semua yang sudah dia lakukan selama setahun ini.


Begitu lulus menjadi dokter,Rendi tidak langsung mencari pekerjaan.Dia lebih memilih mengamati kehidupan Rangga dan keluarganya.


Setelah di rasa cukup dan ada kesempatan,dia segera melamar menjadi dosen di universitas di mana keluarga Wijaya menjadi ketua yayasan.Terlebih dia mendapat informasi kalau istri dari Rangga Wijaya akan memulai kuliahnya lagi.


Dia tidak menyi-nyiakan kesempatan tersebut untuk mendekati Bintang. Dia merekayasa semuanya agar tampak tidak di sengaja.


Bahkan dia rela membayar wanita yang mempunyai penyakit jantung untuk berpura-pura menjadi ibunya agar dia bisa mendekati istri dari Rangga Wijaya. Karena dia tahu kelemahan seorang Rangga Wijaya adalah istri dan anaknya.


"AKU PASTI MENGHANCURKANMU RANGGA WIJAYA" kata Rendi di sertai senyum smirknya.