Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 59


"Minumlah!" Seseorang memberinya sebotol air mineral. Dewi menatap orang itu.


"Aku tahu, kau pasti juga membenciku," ucap Dewi pada orang itu.


Orang itu berjongkok di depan Dewi.


"Bintang dan Ana, aku yakin mereka tidak membencimu. Saat ini mereka hanya kecewa padamu." Orang itu membukakan botol air mineral tersebut dan menyuruh Dewi meminumnya.


Dewi menerima botol tersebut dan minum air itu.


"Aku benar-benar bodoh, selama ini aku punya dua sahabat yang begitu baik. Tapi aku malah membenci mereka. Dan sekarang aku kehilangan mereka," kata Dewi sembari memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


"Kamu belum kehilangan mereka."


Dewi menatap orang itu, dia tidak mengerti maksud ucapan orang itu.


"Selama hatimu menginginkan mereka menjadi sahabatmu, mereka akan tetap menjadi sahabatmu."


Dewi makin tidak mengerti.


"Kamu masih menginginkan mereka jadi sahabat kamukan?" Dewi mengangguk.


"Maka, berusahalah untuk mendapatkan maaf dari mereka, kembalikan kepercayaan mereka padamu dan jangan pernah khianati mereka lagi."


"Terimakasih ya Nando," ucap Dewi pada orang itu. Nando hanya membalasnya dengan senyuman.


"Ayo, aku antar pulang!"


"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," jawab Dewi.


"Aku tidak sedang bertanya padamu, tetapi aku sedang memaksamu." kata Nando lagi.


"Tapi bagaimana kalau Rangga membutuhkanmu?" tanya Dewi.


"Saat ini bos tidak mungkin membutuhkanku. Dia pasti sedang menghibur istrinya," Nando terdiam saat sadar ucapannya barusan pasti menyinggung Dewi.


"Maaf, aku tidak bermaksud.... "


"Kau benar, saat ini bukan hanya aku yang sedih, Bintang, dan juga Ana pasti sangat sedih karena perbuatanku," kata Dewi.


Nando menepuk-nepuk bahu Dewi pelan, dia ingin membuat Dewi sedikit tenang.


Kemudian Nando mengantar Dewi sampai di depan rumahnya.


"Terimakasih ya," ucap Dewi.


"No problem. Istirahatlah yang cukup karena kamu akan membutuhkan tenaga lebih untuk memulai perjuanganmu. Selamat berjuang!"


Dewi sedikit tertawa mendengar perkataan Nando yang agak lebay.


"Sekali lagi terimakasih ya," ucapnya sebelum akhirnya keluar dari mobil Nando. Setelah melihat Dewi sudah masuk ke dalam rumahnya, barulah Nando melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Dewi, Ana, dan Bintang ketiganya sama-sama gelisah, galau dan merana. Meskipun, mereka di tempat yang berbeda saat ini mereka sama-sama sedang melihat foto kebersamaan mereka. Ketiganya sama-sama menarik napas dalam-dalam dan sama-sama juga membuangnya perlahan. Kemudian ketiganya pun meletakkan kembali foto tersebut ke tempat semula. Ketiganya juga sama-sama merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Mereka sama-sama membayangkan masa-masa indah mereka, apalagi persahabatan mereka sudah terjalin sejak SMP. Dan karena terlalu lelah, lama kelamaan ketiganya pun terlelap dalam mimpi masing-masing.


Keesokan harinya....


Bintang terbangun saat mencium harum makanan dari dapur. Dia segera menuju ke dapur untuk melihatnya. Perutnya sudah terasa sangat lapar karena sejak semalam dia belum makan.


"Mbok Jum, masak apa? Dari baunya kelihatannya enak?" tanya Bintang tanpa melihat siapa yang memasak.


"Cuma nasi goreng." Bintang menoleh ke sumber suara karena bukan suara Mbok Jum yang menjawab.


"Dew, ngapain kamu disini?" tanya Bintang dengan wajah tanpa ekspresi.


"Tante Mia dan Kak Rania sedang pergi, kalau Mbok Jum katanya lagi cuti, terus Pak Rangga sudah berangkat ke kantor bareng Nando tadi.Katanya ada keadaan yang mendesak di kantornya," jawab Dewi.


"Bi, tolong maafin aku!Aku tahu tahu kalau aku sudah keterlaluan padamu dan juga Ana. Aku menyesal," ucap Dewi.


Bintang masih diam saja.


"Aku sengaja masakin nasi goreng untuk mu adi makanlah!" kata Dewi lagi.


"Aku tidak lapar, aku mau mandi terus kuliah," jawab Bintang sambil melangkah meninggalkan tempat itu, tapi langkahnya terhenti saat cacing-cacing di perutnya bernyanyi.


Bintang kembali lagi ke dapur, dia kemudian duduk dan mengambil nasi goreng buatan Dewi.


"Aku terpaksa makan masakanmu karena sepertinya babyku ini sedang ingin makan nasi goreng." Kata Bintang yang menggunakan kehamilannya sebagai alasan.


Dewi tersenyum saat melihat Bintang makan nasi goreng buatannya dengan sangat lahap. Dia jadi teringat ketika mereka kemah dulu, Bintang selalu meminta Dewi membuatkannya nasi goreng, menurutnya nasi goreng buatan Dewi adalah makanan paling enak.


"Wah, nasi gorengmu masih sama enaknya ya kayak dulu." Tanpa sadar Bintang memuji masakan temanya itu.


Tapi sedetik kemudian dia kembali diam karena ingat kalau saat ini dia sedang marah pada temannya itu.


"Aku sudah kenyang, sekarang aku mau mandi terus berangkat ke kampus," kata Bintang kemudian dia pergi ke kamarnya.


Dewi tersenyum setidaknya Bintang masih mau memakan nasi goreng buatannya.


Beberapa jam sebelumnya,


setelah subuh Dewi datang ke keluarga Wijaya, dia sengaja datang pagi karena ingin minta maaf kepada seluruh keluarga.


Dia datang dengan di antar oleh Nando, dan sebelum mereka ke keluarga Wijaya, Nando sudah memberitahu Rangga melalui telpon.


Dewi berlutut di hadapan seluruh keluarga Wijaya dan meminta maaf. Dia meminta mereka memberinya kesempatan, dia berjanji akan bersikap lebih baik lagi.


"Aku akan memberimu kesempatan meminta maaf pada Bintang, tapi semua terserah pada Bintang dia mau memaafkanmu atau tidak. Jadi manfaatkan kesempatan yang kuberikan ini baik-baik!" kata Rangga pagi itu.


Bukan tanpa alasan Rangga memberi Dewi kesempatan. Dia melihat ketulusan di mata Dewi kali ini. Selain itu sepertinya Bintang juga masih mengharapkan persahabatan mereka bisa di perbaiki dan bisa kembali seperti dulu lagi.


Rangga menyuruh mama dan kakaknya untuk sementara tinggal di hotel, dia juga memberikan Mbok Jum cuti.


Dan dengan sengaja pula Rangga berangkat ke kantor lebih awal.


30 menit kemudian, Bintang sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. Dia mencari Pak Mun untuk mengantarkannya ke kampus.


"Kemana sih Pak Mun?" gumam Bintang.


Bintang mengambil ponselnya dan menghubungi Rangga.


"Sayang, Pak Mun ke mana sih? Sudah siang ni, hari ini aku ada kuliah pagi."


"Pak Mun baru saja ngabarin katanya mobilnya mogok dan mungkin baru selesei di perbaiki nanti sore. Kamu pesen taksi online saja!" jawab Rangga dari seberang sana.


"Mana sempet, ini sudah terlalu siang," kata Bintang agak kesal.


"Maaf ya Sayang, aku harus mulai rapat lagi. Love you." Rangga menutup telponnya.Bintang benar-benar kesal.


"Bi, mamu bisa kok berangkat bareng aku. Kebetulan tadi aku sudah pesen taksi. Tu taksinya sudah di depan," kata Dewi.


"Nggak perlu," jawab Bintang sambil berjalan meninggalkan Dewi.


Tapi Dewi tetap berusaha tersenyum, dia sadar kalau semua ini karena kesalahannya.


Bintang sedang mengotak-atik hpnya, sepertinya dia sedang mau pesan taksi online.


"Bi, sebentar lagi kuliah kamu mau dimulai lho. Kamu bisa terlambat," kata Dewi. Bintang melihat jam tangannya, yang dikatakan Dewi ada benarnya juga.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang," kata Bintang. Dia dan Dewi masuk ke dalam taksi online yang di pesan Dewi tadi pagi.


Begitu sampai kampus, dia bertemu dengan Ana yang sudah terlebih dulu berada di kampus.


"Kamu bareng dia, Bi?" tanya Ana tanpa ekspresi.


"Iya. Kebetulan tadi pagi dia sudah ada di rumah," jawab Bintang.


"Hai An, selamat pagi," sapa Dewi.


Ana diam saja seolah dia tidak melihat sipapun kecuali Bintang.


"Sana Bi, tu dosen di kelas kamu sudah dateng 5 menit yang lalu!" Ana memberitahu. Buru-buru Bintang menuju kelasnya.


"Terimakasih, Dew," ucap Bintang sebelum pergi meski tanpa menoleh.


Dewi kembali tersenyum setidaknya Bintang masih menganggap dia ada.