Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 56


Rangga mengepalkan tangannya, dia semakin geram mendengar laporan Nando barusan.


"Itu artinya, Celin sengaja ke sini untuk menjebakku. Begitu?" tanya Rangga.


"Sepertinya memang itulah rencananya. Menurut keterangan dari Dokter tersebut usia kehamilan Celin hampir 3 bulan. Dan dia baru datang ke sini 1,5 bulan yang lalu, jadi dari awal dia memang ingin menjebakmu."


"Nando, apa kamu bisa membantuku mencari tahu siapa laki-laki yang telah menghamili Celin dan membawanya ke sini sebelum acara pernikahan itu?"


"Pasti," jawab Nando, Rangga menutup telponnya.


Rangga kembali menghubungi seseorang, yang tak lain adalah anak buahnya yang dia suruh untuk menjaga Bintang.


"Bagaimana?"


"Aman terkendali, Bos. Saat ini nona muda sedang berada di restoran temannya."


"Terus jaga dan lindungi dia, jangan sampai terjadi sesuatu padanya!"


"Oke, Bos!"


Rangga meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Dia duduk di kursi dengan menyandarkan punggungnya.


"Bintang, aku sangat merindukanmu," gumamnya.


Dia memijit pelipisnya yang sedikit pusing.


Tok-tok-tok!


"Masuk!" suruh Rangga, dia begitu kesal ketika tahu yang datang adalah Celin.


"Ada apa kemari? Aku sibuk."


"Kak, aku hanya ingin Kakak menemaniku fiting baju. 3 hari lagikan kita menikah, meskipun itu cuma nikah siri tapi aku tetap ingin memaki baju yang indah di pernikahanku nanti." jawab Celin.


Rasanya Rangga benar-benar jijik melihat wanita di depannya itu.


"Kak, anak kita ingin ditemani ayahnya," rayu Celin sambil mengelus perutnya.


"Kau tidak lihat, hari ini aku banyak kerjaan! Kalau kau ingin fiting baju kamu bisakan minta antar pembantu di rumah?" jawab Rangga.


"Tapi Kak... akukan juga ingin ditemani olehmu," rengek Celin.


Rangga benar-benar kesal, rasanya dia ingin melempar wanita itu ke jalan. Tapi dia juga tidak ingin Celin mencurigainya. Jadi dengan berat hati dia mengiyakan permintaan wanita di depannya itu.


Celin mencoba banyak gaun di depan Rangga, dia berusaha menarik perhatian pria di depannya saat ini. Sayangnya Rangga hanya sibuk dengan ponselnya. Jangankan memandangnya, meliriknya saja tidak.


" Kak, kenapa sih Kakak tidak perduli padaku?biar bagaimana pun anak ini juga anakmu. Kalau Kakak memang tidak bisa menerima kehadiran bayi ini, tidak apa-apa aku akan pergi dari kehidupan Kakak."


"Drama apalagi yang ingin dia lakukan?" batin Rangga.


"Celin, dengar! aku sudah bilang padamukan hari ini aku banyak kerjaan. Dan dari tadi aku mengawasi pekerjaan itu melalui ponselku. Jika kamu ingin aku hanya fokus padamu baiklah tapi mungkin perusahaanku akan rugi triliunan dolar. Memang kamu mau hidup miskin bersamaku?" Rangga mencoba mencari alasan yang masuk akal.


Celin yang mendengar kata miskin langsung berlagak sok pengertian.


"Maaf ya, Kak. Aku kira Kakak tidak suka pergi denganku," ucapnya.


"Kalau Kakak memang sibuk, Kakak boleh kok kembali ke kantor. Aku bisa fiting baju sendiri." kata Celin lembut.


"Baguslah, akhirnya aku bebas juga darimu," batin Rangga.


"Benar kamu tidak apa-apa?" tanya Rangga.


"Iya Kak, sana kembalilah ke kantor!"


suruhnya.


"Ya sudah, aku kembali ke kantor ya," Rangga berusaha berbicara semanis mungkin.


Rangga sesegera mungkin pergi dari hadapan Celin, dia tidak mau kalau wanita licik itu berubah pikiran. Bahkan dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang bisa dibilang tinggi.


Akhirnya dia bisa bernapas lega, begitu sampai di kantor.


"Hah, akhirnya sampai kantor juga."


"Kenapa Bapak, seperti orang yang baru dikejar setan sih?" tanya Nando. Rangga yang tidak melihat kedatangannya sempat terkejut.


"Aku memang baru lepas dari tuh si kuntilanak," jawab Rangga ngasal.


"Jangan khawatir semua sudah aku selesakikan.Termasuk keberadaan cowok yang menghamili Celin, dia sudah aman bersamaku. Tinggal menunggu hari eksekusi saja" jawab Nando santai,dia duduk di hadapan Rangga.


Sebelumnya, aku kenalkan sosok Nando yang selama ini membantu Rangga.


Nando adalah kerabat jauh Rangga,dulu mereka pernah bersahabat. Namun,karena suatu kejadian sempat membuat kepercayaan Rangga hilang terhadapnya.


Selama beberapa tahun Nando berusaha untuk mendapatkan kepercayaan Rangga kembali,dan akhirnya kepercayaan itu datang juga kepadanya. Sejak saat itu Nando berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu membantu Rangga dan selalu menjadi orang kepercayaannya.


"Ada apalagi?" tanya Nando saat melihat wajah bos, teman sekaligus kerabatnya itu berubah.


"Aku sangat merindukan Bintang, aku ingin sekali bisa melihat wajahnya,"jawab Rangga.


"Tinggal temui saja, apa susahnya sih."


"Bintang itu marah sama aku. Bagaimana aku bisa menemuinya?" jawab Rangga


"Kamu bilangkan, katanya saat ini Bintang sedang di restoran? kenapa tidak gunakan alasan inspeksi mendadak untuk datang kerestoran tersebut." Nando memberikan ide cemerlangnya.


"Pinter juga kamu,nggak sia-sia aku jadiin kamu orang kepercayaanku," puji Rangga.


"Bukannya emang dari dulu aku ini emang pinter ya. Kamunya saja yang nggak nyadar" jawab Nando sedikit narsis.


Keduanya pun tertawa bersama.


Sore itu, Rangga datang ke restoran dengan membawa beberapa orang. Sebenarnya bukan beberapa sih cuma dua orang saja Nando dan satu lagi adalah akuntannya.


Semua pegawai termasuk Ana dan Dewi juga ikut berjajar menyambutnya.


"Ana, apa aku boleh ke ruang kerjamu sekarang! Aku dan dua orang ini ingin melihat semua pembukuan beberapa bulan ini."


"Tentu, Pak. Silakan!" jawab Ana.


"Tidak usah mengantarku. akamu bisa lanjutkan pekerjaanmu." suruh Rangga.


Sebenarnya Ana ingin bilang, kalau ada Bintang di ruangannya." Mungkin setelah mereka bertemu, Bintang akan jadi sedikit lebih baik," batinya.


"Kalian berdua, tetap di sini jangan biarkan orang masuk ke dalam!" titahnya pada Nando dan akuntannya tersebut.


"Jangan khawatir, kami juga akan pura-pura tuli bila nanti ada suara-suara aneh dari dalam," jawab Nando sembari bercanda.


Rangga masuk ke ruang kerja tersebut, dia memperhatikan Bintang yang masih tertidur pulas di ranjang yang ada di ruangan itu.


Rangga menatap wajah istrinya itu lekat-lekat, padahal baru sahari dia tidak melihat istrinya tersebut, tetapi rasanya dia sudah tidak bisa menahan kerinduannya.


Dia merebahkan dirinya di samping tubuh istrinya. Di pandanginya wajah cantik istrinya itu,dia menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajah Bintang. Dan mulai menyusuri wajah cantik itu dengan telunjuknya.Dia menyentuh bibir ranum Bintang dengan ibu jarinya,dia menatap bibir yang selama ini menjadi candu baginya. Dia merindukan bibir itu, bibir yang sejak semalam tidak bisa dia sentuh.


Dan cup, dia mencium bibir itu lembut. Bintang yang setengah sadar membalas ciuman itu, Rangga tersenyum. Kali ini Rangga menciumnya sedikit rakus, dia mulai ******* dan menyesap bibir istrinya itu.


Bintang mulai membuka matanya saat merasa napasnya mulai tersengal dan ada tangan yang nenggerayangi tubuhnya. Dengan reflek dia mendorong tubuh Rangga hingga jatuh dari ranjang.


"Aw," teriak Rangga.


"Kamu? Mau disini?" tanya Bintang.


"Menemui istri sendiri apa perlu alasan?" jawab Rangga sambil bangkit dari tempat dia jatuh dan kembali merebahkan dirinya di samping Bintang.


"Kenapa tidak nenemui calon istri barumu saja!" jawab Bintang yang masih kesal. Dia mencoba bangkit dari tidurnya, tetapi Rangga sudah mendekap tubuhnya dengan sangat erat.


"Percayalah padaku Bintang, kalau tidak ada yang terjadi antara aku dan Celin. Untuk saat ini hanya itu yang bisa aku katakan. Tapi aku mohon percayalah padaku!" Bintang menatap mata suaminya, dia tidak menemukan kebohongan di mata itu.


"Lalu bagaimana dengan kehamilan Celin?" tanya Bintang


"Dia memang hamil, tapi bukan denganku. Tiga hari lagi kamu akan tahu semuanya, aku sedang berusaha melindungi hatimu agar tidak terluka."


Bintang tidak mengerti maksud ucapan suaminya.


"Aku akan berusaha percaya padamu, "jawab Bintang.


"Terimakasih, Sayang,"ucap Rangga.


Dia kembali menarik tubuh istrinya dan memeluknya dengan sangat erat.


"Aku merindukanmu," bisiknya di telinga Bintang. Tubuh Bintang bagai di sengat listrik saat Rangga kembali mencium bibirnya dengan tangan yang mulai bergerlya. Dan akhinya mereka melampiaskan hasrat mereka dan melupakan permasalahan yang sedang mereka hadapi.