
Rangga baru keluar dari ruangan itu setelah 3 jam.
"Sudah selesai?" tanya Nando yang masih berada di depan pintu.
Rangga menatapnya dengan mengernyitkan dahinya.
"Sudahlah, aku sudah bilangkan kalau aku akan berpura-pura tuli," kata Nando yang tahu maksud tatapan Rangga.
"Ayo, kita kembali ke kantor! Malam ini aku ingin tidur di kantor. Rasanya malas kalau aku harus melihat kuntilanak itu di rumah," suruh Rangga.
"Memang kamu sudah puas dan tidak ingin tambah lagi?" goda Nando.
"Diam kamu, berani bicara lagi ku pecat kamu" kata Rangga yang berlagak marah. Nando yang memang tahu kalau Rangga sedang bercanda hanya tertawa lebar.
Setelah berpamitan dengan Ana dan karyawan lain, Rangga bersama dengan Nando dan akuntannya meninggalkan restoran tersebut. Tidak lupa dia memuji Ana dan yang lainnya karena telah berhasil membuat restoran itu maju. Setelah itu Ana dan Dewi segara menemui Bintang di ruang kerjanya.
"Bi, bangun, Bi!" panggil Ana. Bintang mengucek matanya. Dia memposisikan dirinya untuk duduk.
"Ada apa sih, An? Kamu ganggu tidurku aja," kata Bintang sambil menguap.
"Dari tadi kamu tidur, Bi?" tanya Ana sekali lagi.
"Iya, semalaman akukan nggak bisa tidur. Jadi aku ngantuk banget," jawab Bintang.
"Memangnya, tadi kamu nggak lihat atau bicara sama suamimu di sini?" tanya Dewi.
"Memangnya dia ke sini?" tanya Bintang.
Ana dan Dewi mengangguk.
"Entahlah, aku nggak lihat," jawab Bintang kembali membaringkan tubuhnya sambil terus menguap, kemudian dia berpura-pura memejamkan matanya.
"Padahal aku udah kasih kesempatan buat kamu bisa ngobrol berdua sama Rangga. Eh, kamu malah tidur kayak kebo." Gerutu Ana.
Sementara Dewi menatap Bintang dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Udah yuk, Dew, kita keluar saja, percuma kita khawatirkan dia. Eh... orang dianya tadi malah molor. Padahalkan itu kesempatan buat dia minta penjelasan ke suaminya."
"Sudahlah An, mungkin Bintang benar-benar capek. Kata orang wanita yang sedang hamil itu mudah sekali kecapekan." Dewi berusaha membela Bintang.
"Emang sih, tapi masalah dia sama Pak Ranggakan jadi nggak selesai-selesai," jawab Ana.
"Iya juga sih," kata Dewi yang memikirkan perkataan Ana barusan.
"Ya udeh deh, Dew, kita tinggalin Bintang dulu. Biarkan dia istirahat." Akhirnya keduanya keluar dari ruangan itu.
Bintang bangkit dari tidurnya, setelah kedua sahabatnya itu keluar dari sana.
"Maaf An, Dew. Aku harus bohong,"ucap Bintang.
satu jam yang lalu....
"Sayang, aku minta padamu jangan cerita apa pun pada orang lain kalau kita sudah baikan. Termasuk pada dua sahabatmu, biarkan mereka berpikir kalau kita masih bertengkar," ucap Rangga sambil terus memeluk istrinya.
"Kenapa?" tanyanya Bintang.
"Tidak apa-apa. Kamu akan tahu jawabannya 3 hari lagi," jawab Rangga sambil mencium pucuk kepala istrinya itu.
Bintang mengangguk.
Rangga kembali mencium bibir istrinya lagi. "sekali lagi ya!" pinta Rangga.
Pipi Bintang berubah merah mendengar permintaan suaminya itu. Dengan malu-malu Bintang mengangguk karena sejujurnya dia juga merindukan tubuh suaminya itu. Dan mereka melakukan itu sekali lagi.
Bintang segera bangkit dari tempat tidurnya.Dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi Bintang menemui dua sahabatnya yang sedang sibuk di dapur restoran.
"An, Dew aku pamit pulang ya."
"Emang kamu udah ngerasa baikan?" tanya Dewi.
Bintang mengangguk.
"Kamu, nggak kenapa-napa gitu kalau ketemu sama si Celin?" tanya Ana.
"Mau kita antar?" Ana dan Dewi menawarkan diri untuk mengantar sahabatnya itu pulang.
"Tdak usah, kaliankan dari tadi sibuk. Tadi aku sudah pesan taksi online kok."Bintang menolak tawaran dua sahabatnya tersebut.
"Hati-hati ya, inget kalau kamu punya masalah hubungi kita, karena kita akan selalu ada buat kamu," ucap Dewi.
"Dan rumahku juga selalu terbuka 24 jam buat kamu," tambah Ana.
"kayak IGD aja buka 24 jam," celetuk Bintang.
Setelah memeluk dua sahabatnya, Bintang pergi meninggalkan restoran tersebut untuk kembali ke rumah keluarga Wijaya.
Ketika sampai rumah, Bintang disambut oleh Kakak ipar dan Mama mertuanya.
"Bintang Kakak sangat mengkhawatirkanmu. Berkali-kali Kakak menghubungimu, tapi ponselmu selalu di luar jangkauan."
"Maaf ya, Kak Nia, ponsel Bintang lowbat," jawab Bintang.
"Mama kira kamu marah sama mama dan tidak mau kembali lagi ke rumah ini. Mama minta maaf ya karena mengambil keputusan tanpa berbicara dulu denganmu," ucap Mia.
"Bintang ngerti kok, Ma. Semua perkataan mama tadi pagi itu benar, walau bagaimanapun anak yang dikandung Celin itu tidak salah. Jika memang anak itu adalah anak Mas Rangga, anak itu juga mempunyai hak yang sama dengan anak yang sedang Bintang kandung," jawab Bintang.
"Terimakasih ya Nak karena kamu sudah mau mengerti," ucap Mia yang dibalas Bintang dengan senyuman.
"Bintang ke kamar ya, Ma," pamit Bintang, dia langsung masuk ke kamarnya.
Bintang duduk di tepi ranjang tempat tidurnya. "Aku percaya sama kamu Mas Rangga. Aku akan menunggu penjelasan yang akan kamu berikan 3 hari lagi," katanya dalam hati.
Bintang mengambil ponsel dari dalam tasnya. Sebenarnya sejak tadi pagi Bintang memang sengaja mematikan ponselnya karena kesal. Dia menyalakan ponselnya dan memang benar banyak panggilan tak terjawab dari Kakak ipar dan mertuanya, serta banyak pesan dari mereka yang menanyakan keadaannya.
Dan ada pesan yang baru saja masuk, pesan itu dari suaminya yang mengatakan kalau malam ini dia akan tidur di kantor. Bintang hanya membaca isi pesan tersebut tanpa berniat membalasnya. Dia meletakan ponsel itu di nakas samping tempat tidur.
Malam ini dia memutuskan untuk tidur dengan tenang tanpa memikirkan persoalan rumah tangganya. Dia percaya kalau Rangga pasti akan menepati janjinya.
Hari berikutnya...
Tiba-tiba saja Celin menemui Bintang di kampusnya. Kebetulan saat itu Bintang sedang sendirian.
"Kak, aku mohon tinggalkan Kak Rangga.
Kalau Kakak tidak meninggalkan dia bagaimana nasib anakku? Aku tahu, Kak Rangga hanya mencintaimu, dia pasti tidak akan perduli dengan anak di dalam kandunganku dan hanya akan perduli dengan anakmu," pinta Celin dengan air mata palsunya,bahkan dia berlutut di kaki Bintang.
"Celin berdilah! Jangan seperti ini!" suruh Bintang.
"Tidak, sebelum Kakak janji akan meninggalkan Kak Rangga."
Karena bingung dan tidak tega melihat Celin berlutut seperti ini, akhirnya dengan berat hati Bintang setuju.
"Terimakasih ya Kak, terimakasih,"ucap Celin. Dari kejauhan Dewi melihat kejadian itu.
Dewi mengepalkan tangannya dengan ekspresi yang sulit di artikan. Dia meninggalkan tempat itu.
Dewi mengingat masa kecilnya yang sulit, karena hidup tanpa ayah. Bahkan sering kali dia melihat ibunya dihina tetangga karena tidak bersuami. Semua ingatan itu masih terukir dengan jelas di otaknya. Tanpa sadar air matanya mengalir seperti menyesali sesuatu.
Akhirnya hari pernikahan Celin dan Rangga tiba. Celin terlihat sangat bahagia,d dia memakai kebaya putih yang waktu itu dia beli. Celin duduk terlebih dulu di depan penghulu, tidak lama kemudian Rangga datang. Tapi, dia tidak memakai baju pengantinnya dan malah memakai jas yang biasa dia pakai untuk berangkat ke kantor.
" Kak, kenapa kakak memakai itu? "tanya Celin.
" Maaf ya Celin aku lebih nyaman memakai ini," jawab Rangga.
Rangga menatap sekelingnya seperti mencari sesuatu.
Sementara di dalam kamar, Bintang bingung harus berbuat apa.
Tok-tok-tok!
Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Saat Bintang membuka pintu, tanpa mengatakan apa pun dia manarik tangan Bintang dan membawanya ke hadapan Rangga dan juga Celin. Orang itu menatap Celin geram.
Wajah Celin berubah pucat, senyum yang dari tadi dia pamerkan hilang entah kemana.
Tiba-tiba saja orang itu berlutut di hadapan Bintang.
"Maaf... maaf... maafin aku," ucapnya berulang kali.