
Selang beberapa waktu dokter keluar dari IGD. Semua orang mendekati sang dokter untuk mengetahui keadaan Dewi.
"Bagaimana keadaanya?"
"Dia tidak kenapa-napakan Dok?"
"Dia baik-baik sajakan Dok?"
"Dia pasti selamatkan Dok?"
Semua pertanyaan itu mereka lontarkan dan membuat sang Dokter agak kebingungan untuk menjawab.
"Dia hanya mengalami patah tulang di bagian kaki dan tangan kanannya. Dan beberapa luka sobek di tubuhnya, mungkin saat kecelakaan itu dia sempat melindungi kepalanya jadi tidak ada cidera berat di kepalanya," jawab sang Dokter.
"Dia masih bisa jalan kan, Dok?" tanya Ana.
"Setelah 2-3 bulan dia akan bisa berjalan seperti sedia kala."
Semua orang merasa lega mendengarnya. Mereka segera menemui Dewi di ruang rawatnya.
"Dew, kamu tahu kamu membuat aku takut" kata Bintang sambil memeluk Dewi.
"Maafin aku ya Dew, karena aku sudah bersikap keterlaluan padamu," ucap Ana yang juga memeluk Dewi.
"Tidak apa-apa aku senang karena akhirnya kalian bisa maafin aku," jawab Dewi.
"Bi, kandungan kamu tidak apa-apakan?" tanya Dewi cemas.
"kandunganku baik-baik saja, terimakasih ya, Dew," jawab Bintang.
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai terjadi kecelakaan seperti ini?" tanya Nando
"Tadi usai mata kuliah pertama,aku mencari Bintang dan Ana. Aku melihat mereka keluar dari kampus, awalnya aku mau langsung nyamperin mereka. Tapi saat aku melihat ada mobil yang mengikuti mereka, jadi ku putusksan untuk mengikuti mobil itu. Sepertinya mobil itu memang mengincar mereka berdua atau..." Dewi tidak melanjutkan ceritanya.
"Atau apa?" tanya Rangga
"Atau sebenarnya yang dia incar adalah Bintang. Karena sebelumnya aku juga pernah melihat mobil itu berada di depan rumah pak Rangga," jawab Dewi.
"Jika memang yang dia incar adalah Bintang itu artinya Bintang masih dalam bahaya.Tapi siapa yang ingin mencelakai Bintang?" kata Rangga.
"Aku akan menyelidikinya sekarang juga," kata Nando
"Tidak usah,aku yang akan turun tangan sendiri. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai istriku"
"Apa yang kalian bicarakan sih?akukan jadi takut," kata Bintang.
Rangga memeluk istrinya itu, "Tidak usah takut, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi" ucapnya.
"Dew, aku sudah menelpon ibumu sebentar lagi beliau akan tiba di sini"
"Terimakasih ya, An," ucap Dewi.
"Dew, aku pamit dulu ya. Nanti kalau kerjaan aku di restoran selesei aku akan kembali ke sini lagi." pamit Ana.
"An,aku temani ya kebetulan pekerjaanku di sini juga sudah selesei."
"Alasan saja kamu Lex,bilang saja kamu mau kaburkan dari pekerjaanmu di sini," cibir Bintang bercanda.
"Tahu saja kamu," jawab Alex cuek
Ana dan Alex ke luar dari ruangan Dewi.
"Sayang, kita juga pulang yuk!" ajak Rangga.Dia memberikan kode pada istrinya itu untuk memberikan waktu untuk Nando dan Dewi berduaan.
"Aku dan mas Rangga pulang dulu ya Dew, nanti kita kesini lagi," pamit Bintang.
"Ingat Nando tugasmu sekarang jagain Dewi,jadi tidak usah mencemaskan pekerjaanmu yang lain."
"Oke," jawab Nando.
Rangga dan Bintang juga meninggalkan ruang dimana Dewi di rawat.
"Kenapa kita harus meninggalkan mereka berdua?" tanya Bintang begitu berada di luar.
"Sayang, kamu tidak lihat kalau tadi Nando mengkhawatirkan Dewi?"
"Jadi... Nando...."
"Iya. Spertinya dia menyukai Dewi. Makanya kita harus memberikan waktu untuk mereka," jawab Rangga.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rangga pada istrinya, karena sejak tadi dia lupa menanyakan kabar istrinya tersebut.
"Aku baik-baik saja,hanya sedikit memar di sikut dan lututku," jawab Bintang.
Setelah mendapat keterangan dari Dokter Lisya bahwa Bintang dan bayinya tidak kenapa-napa barulah Rangga lega.
"Anda tinggal oleskan salep ini pada memar istri anda,memar itu akan hilang dalam 3-7 hari" Dokter Lisya memberi penjelasan.
"Terimakasih ya, Dok," ucap Rangga,
Rangga kembali menggendong istrinya itu. "Sayang, cepat turunkan aku! malu sama Dokter Lisya," kata Bintang dengan suara sedikit berbisik .
"Kenapa harus malu, kamukan istriku," jawab Rangga enteng.
"Permisi ya, Dok," ucap Bintang dengan malu-malu dengan tetap berada di gendongan suaminya.Dokter Lisya tersenyum melihat melihat tingkah pasangan di depanya tersebut.
Sementara itu,di tempat rawat Dewi.
"E... kapan ibumu sampai?" tanya Nando entah kenapa itu yang keluar dari mulutnya padahal bukan itu yang ingin dia tanyakan.
"Mungkin sebentar lagi," jawab Dewi
"Kalau kamu sibuk,aku bisa kok di sini sendiri" kata Dewi, "Tidak,aku tidak sibuk. Lagian Rangga kan sudah menyuruhku menjagamu" jawab Nando.
Entah kenapa Dewi sedikit kecewa mendengar jawaban Nando barusan. Tidak lama ada notif pesan masuk di hp Dewi. Setelah membaca pesan tersebut, raut wajah Dewi berubah sedih.
"kenapa?" tanya Nando.
"Ibuku tidak jadi datang hari ini, karena dia harus menemani anak bosnya keluar kota," jawab Dewi kemudian menghela napasnya.
"Sebelumnya maaf, tapi bolehkah aku tahu apa pekerjaan ibumu?" tanya Nando sedikit berhati-hati.
"Ibuku seorang ART, makanya dia tidak bisa seenaknya pergi tanpa seizin majikannya," jawab Dewi dari matanya terlihat jelas kalau dia sangat sedih ibunya tidak jadi datang.
"Sebenarnya dulu aku punya cita-cita ingin menjadi istri orang kaya agar aku bisa melihat ibuku senang tanpa harus bersusah payah. Tapi Sepertinya aku tidak seberuntung itu."
"Bagaimana kalau aku mengajakmu keliling rumah sakit,untuk mengurangi kejenuhanmu?" tanya Nando
"Caranya?"
Nando mengambilkan kursi roda untuk Dewi. Kemudian dia mengangkat tubuh Dewi dan mendudukkan di kursi roda tersebut.
Dia mengajak Dewi berkeliling rumah sakit. Di depan poli obgyn, tanpa sengaja dia bertemu dengan kakak kelasnya waktu SMA.
"Kak Sarah, apa kabar?" sapa Dewi, Sarah kelihatan mencemaskan sesuatu.
"e... a... baik," jawab Sarah gugup.
"Kakak bersama siapa di sini?" tanya Dewi lagi.
"Sayang, ini obat kamu." Seseorang mengatakan itu dari belakang Dewi dan Nando. Suara itu terdengar familiar di telinga Dewi.
Orang itu mendekati Sarah tanpa menoleh ke arah Dewi. " Tadikan aku sudah menyuruhmu untuk menungguku di mobil, kenapa kembali ke sini?" orang itu Sepertinya mengkhawatirkan Sarah, Sarah hanya diam.
"Kamu bicara dengan siapa Sayang?" tanya orang itu sambil melihat kearah Dewi. Dewi dan orang itu sama-sama terkejut.
"Dewi."
"Kak Hendri."
Kata mereka bersamaan. "Jadi Kak Sarah... istrimu?" tanya Dewi.
Hendri dan Sarah jadi salah tingkah.
"Iya, dia istriku. Dan ini calon anak ke dua kami," jawab Hendri sambil mengelus perut Sarah.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Dewi.
"Dimana Bintang dan Ana, biasanyakan kalian selalu bertiga?" tanya Hendri.
"Mereka baru saja pulang," jawab Dewi.
"De, maaf ya dulu aku berselingkuh di belakangmu bahkan hingga Sarah hamil," ucap Hendri.
"Mungkin kalau di sini ada Ana dan juga Bintang mereka akan menghajarku seperti waktu itu."
"Waktu itu? Maksud Kak Hendri apa?" tanya Dewi ingin tahu.
"Iya. Dulu waktu mereka melihatku sedang bermesraan dengan Sarah mereka langsung menghajarku. Bahkan saat itu juga mereka memberiku ultimatum untuk memilih antara kamu atau Sarah, tapi... karena Sarah sudah mengandung anakku. Aku memilih Sarah,Maafkan aku, De," jawab Hendri
"Bahkan Bintang sengaja pura-pura mencintaiku hanya untuk menjaga perasaanmu agar kamu tidak terluka karena penghianatanku," lanjut Hendri.
Hati Dewi benar-benar sakit,bukan karena penghianatan Hendri. Tapi karena selama ini dia membenci orang yang salah dan gara-gara itu juga dia hampir kehilangan sahabat terbaiknya.