
Bintang dan Rangga mengajak kedua anak mereka ke DUFAN.Mereka memainkan banyak permainan di sana mulai dari bermain di istana boneka,wahana alap-alap,treasure land,ice age hingga dream playground.
Mereka sangat menikmati kebersamaan mereka.
Sebelum pulang mereka mampir ke sebuah restoran untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.
Ketika sedang asyik menyantap makanan mereka,hp Bintang berdering. Dia menatap layar ponselnya tertera nama Rendi di sana.
Bintang menghela napasnya,dia bingung antara menjawab telpon tersebut atau mengabaikannya.
"Kok nggak di jawab Sayang? Dari siapa?" tanya Rangga sambil mengunyah makanannya.Dia juga menyuapi putra kecilnya.
"Daddy,Mikha juga mau" kata putrinya karena dia juga ingin disuapi Daddynya.
"ini Sayang, A..." kata Rangga yang juga menyuapi Mikha.
"Mas,aku...ingin membicarakan sesuatu sama kamu.Tapi tidak di sini dan tidak juga di depan anak-anak" kata Bintang hati-hati.
"Mau bicara apa?"
"Nanti saja di rumah" jawab Bintang.
Bintang memutuskan tidak menjawab telpon Rendi.Dia hanya mengirimi Rendi pesan kalau saat ini dia sedang bersama keluarganya.
Begitu sampai di rumah, Rangga dan Bintang membopong malaikat kecil mereka dari mobil dan menidurkannya di kamar. Kedua anak kembarnya itu tertidur saat perjalanan pulang,karena kecapekan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Rangga saat keluar dari kamar anak mereka.
Bintang menarik tangan suaminya untuk masuk ke ruang kerjanya.
"Apa kamu ingin melakukan seperti malam tadi?" tanya Rangga menggoda dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar mesum"
"Tapi kamu cintakan?"
"apaan sih Mas,bukan itu yang ingin aku bicarakan" jawab Bintang.
"Ayo bilang!kok diem" suruh Rangga karena Bintang tidak kunjung bicara.
"Mas,tapi janji ya kamu tidak akan marah?" kata Bintang sebelum memulai pembicaraannya.Karena Sebenarnya Bintang sangat takut kalau suaminya itu akan murka.
"iya,aku janji tidak akan marah.Cepat bicara"
Bintang menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
Bintang mulai menceritakan semuanya kepada suaminya.Bagaimana dia harus terpaksa memenuhi permintaan dosennya untuk pura-pura menjadi tunangannya.
BRAKkkkkkk
Rangga menggebrak meja yang ada di depannya.
"Mas,aku...aku minta maaf. Tadi kamu janjikan tidak akan meraah,tapi kenapa sekarang kamu marah?" kata Bintang lirih,dia menundukkan kepalanya.
"Kamu pikir sendiri suami mana yang rela istrinya menjadi tunangan orang lain meskipun Itu cuma pura-pura" Bentak Rangga.
"Mas aku hanya tidak tega karena Ibunya sakit" kata Bintang yang mencoba membenarkan tindakannya sendiri, meskipun Sebenarnya dia tahu kalau tindakannya itu salah.
Rangga masih diam,kali ini dia benar-benar kecewa dengan keputusan yang di ambil oleh istrinya.
"E...Mas,tadi dokter Rendi bilang kalau besok malam ibunya ingin bertemu denganku.Apa aku boleh menemuinya?" tanya Bintang.
Rangga sudah benar-benar tidak bisa lagi menahan amarahnya,bisa-bisanya istrinya minta izin untuk bertemu dengan lelaki lain.Meskipun dengan alasan ibunya yang sakit.
Rangga lebih memilih meninggalkan istrinya itu, dari pada dia kehilangan kendali karena amarahnya.Dia pergi dengan membanting pintu ,hingga membuat Ratih dan Mia keluar dari kamar mereka.
"Ada apa Nak?" tanya Mia
"Kenapa suamimu pergi dengan keadaan marah?" tanya Ratih.
Bintang menceritakan semuanya kepada ibu dan juga mertuanya.
"Pantas saja suamimu marah.Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan suamimu waktu kamu mengiyakan permintaan Dokter itu" Kata Ratih yang juga kecewa dengan tindakan bodoh yang di lakukan putrinya.
"Sudahlah Tih,kamu jangan marahi dia.Bintang melakukan itu karena dia ingin menolong" kata Mia.
"Biarkan Rangga menenangkan diri dulu,mama yakin nanti juga dia akan mengerti." Mia berusaha menenangkan menantunya itu.
"Kamu istirahatlah,pasti kamu juga capek" suruh Mia lembut.
Bintang masuk ke kamarnya,dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Sementara itu Rangga yang dalam keadaan kesal,lebih memilih pergi ke perusahaannya.Meskipun hari itu perusahaan libur.
Dia menghubungi Nando untuk segera datang menemuinya di kantor. 15 menit kemudian Nando sudah berada di depan Rangga.
"Ada apa kamu menyuruhku kesini?kamu tahukan ini hari libur",Nando menarik kursi di depannya dan mendudukkan bokongnya di sana.
" Aku butuh teman"jawab Rangga.
"Lho,biasanya tiap libur kamukan nggak mau di ganggu.Tumben kamu malah ke kantor"
"Aku sedang kesal dengan istriku"
"Kenapa?" tanya Nando.
Rangga mulai menceritakan permasalahannya pada orang di depannya. Selama ini Nando selalu menjadi teman curhat Rangga tiap dia punya masalah. Karena menurutnya meskipun kadang nyleneh Nando selalu bisa memberikan masukan yang masuk akal.
Nando tertawa mendengar penuturan temannya itu..
"Hei,kenapa kamu tertawa bodoh?" kata Rangga sedikit kesal.
"Rangga Rangga, kamukan tahu istrimu itu terlalu baik.Mana tega dia mengatakan semua kebenaran kepada seorang ibu yang sedang sakit.Dari pada kamu membiarkan istrimu bersandiwara sendirian mending kamu ikut menemaninya bersandiwara"
"Jadi menurutmu aku harus membiarkan istriku berpura-pura menjadi tunangan orang lain begitu? Dasar tidak waras"
"Terus dengan kamu marah seperti ini,kamu pikir Bintang akan langsung memberitahu ibu dari tu dokter begitu?" tanya Nando.
Rangga masih diam,yang di katakan Nando ada benarnya.Bintang pasti tidak akan tega,mengingat tu ibu punya penyakit jantung.
" Kalau kamu membiarkan istrimu itu bersandiwara sendirian itu artinya kamu memberikan peluang kepada tu cowok buat ngedeketin istrimu.Siapa tahu tu cowok memang ada hati sama istri kamu."Nando menjelaskan.
Rangga masih memikirkan semua perkataan Nando.Tiba-tiba saja Rangga berdiri.
"Thanks ya"ucap Rangga kemudian pergi begitu saja meninggalkan Nando.
"Hei,Rangga. Mau kemana kamu?" tanya Nando sembari berteriak.
"Pulang" jawab Rangga sambil melambaikan tangannnya.
"Sialan,aku di tinggal sendiri lagi" gerutu Nando.
"Aku juga harus kembali pulang,melanjutkan semua yang tertunda" kata Nando yang juga keluar dari kantor.
Sebenarnya tadi saat Rangga menelponnya dia sedang berada di atas ranjang bersama dengan istrinya,Dewi.
Keduanya sudah tanpa busana bersiap untuk saling memberi kehangatan.Maklum saja akhir-akhir ini keduanya di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing.Di tambah Dewi yang sedang hamil muda dan Dokter melarangnya melakukan hubungan intim sampai usia kandungannya 3 bulan.Dan sekarang usia kandungan Dewi sudah memasuki 4 bulan,jadi Nando meminta haknya pada sang istri karena Kebetulan keduanya libur dan anak mereka sedang di ajak jalan-jalan oleh neneknya.
Saat itu senjatanya yang sudah on,harus di tunda karena panggilan bosnya yang tidak tahu waktu itu.Dia memakai kembali pakaiannya dan segara menuju kantor.
Dengan cepat Nando pulang ke rumahnya.Tanpa basa-basi dia menerkam tubuh istrinya dan membopongnya kembali ke kamar melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
Sementara itu Rangga yang pulang kerumahnya,dia langsung masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan dirinya di samping Bintang.
Dia memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. "Kamu sudah pulang,Mas?" tanya Bintang, Rangga mengeratkan pelukannya.
"Mas,aku sedang tidak ingin melakukan nya.Aku capek"
"Aku hanya ingin memelukmu" jawab Rangga
"Apa itu artinya kamu sudah tidak marah padaku?" tanya Bintang. Rangga hanya diam.
"Jadi apa besok malam aku boleh menemui ibunya Pak Rendi?"tanya Bintang lagi.
" Berhenti membicarakan orang lain saat kita sedang berdua.Atau kamu ingin kita melakukan hal yang semalam lagi "
"Iya iya,Aku akan diam"
Akhirnya keduanya menutup mata,dengan Rangga yang memeluk tubuh Bintang dari belakang.