
Keesokan harinya...
Bintang bangun sebelum matahari pagi menampakkan sinarnya. Bintang sengaja bangun lebih awal agar dia bisa menyiapkan segala keperluan sebelum mereka kembali ke kota.
Namun ternyata sudah ada yang bangun lebih dulu darinya, siapa lagi kalau bukan Ratih dan Uwa Susi. Kedua wanita itu sudah bangun setengah jam lebih dulu darinya.
"Sudah bangun, Nak?" tanya Ratih ketika melihat putrinya sudah berada di belakang mereka.
"Tadinya aku kira aku yang bangun paling pagi, ternyata ibu dan uwa bangun lebih pagi dariku," jawab Bintang.
"Ibu dan Uwa mau masak apa? Biar Bintang bantu?" tanya Bintang. Dia mengambil pisau dan mulai mengiris beberapa bawang.
"Tidak usah, Nak. Kamu bisa kembali beristirahat. Aku yakin kamu pasti masih capek," jawab Ratih dengan menahan senyumnya.
"Maksud ibu?" tanya Bintang karena dia tidak tahu maksud dari ibunya.
Ratih hanya menunjuk leher putrinya dengan telunjuknya. Bintang yang masih belum memahami maksud dari ibunya, segera kembali ke kamar dan berkaca. Bintang begitu malu ketika ada banyak tanda merah keunguan di leher jenjangnya itu.
"Kenapa aku tidak menyadari ini," gumam Bintang.
Bintang mengambil syal dari dalam lemari dan memakainya.
"Kenapa kamu memakai syal itu, Sayang?" tanya Rangga. Rangga baru saja bangun dari tidurnya.
"Untuk menutupi bekas gigitan Mas Rangga, semalam," jawab Bintang sembari mendengus kesal.
Rangga hanya terkekeh mendengar jawaban dari istrinya.
"Sudah, sana Mas mandi! Sebentar lagi subuh!" seru Bintang kepada suaminya.
Bukannya menuruti seruan sang istri, Rangga justru menarik lengannya dan membuat tubuh Bintang jatuh tepat di atas tubuhnya.
"Mas, ini hampir subuh." Bintang mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Aku tahu, tapi aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu menciumku," jawab Rangga kemudian memajukan bibirnya sebagai tanda agar istrinya tersebut memberikan ciuman di bibirnya.
"Aku akan memberikan morning kiss untuk Mas, tapi lepaskan aku dulu!" seru bintang.
Rangga segera melepaskan istrinya tersebut dari pelukannya.
"Sekarang tutup mata Mas Rangga!" seru Bintang dengan nada semanis mungkin.
"Kenapa harus tutup mata? Biasanya juga tidak perlukan?" tanya Rangga.
"Tapi aku mau yang luar biasa," kata Bintang yang kembali menggoda suaminya.
"Baiklah, apapun untukmu Sayang."
Rangga munutup matanya sesuai dengan permintaan istri cantiknya tersebut. Dengan langkah mengendap-endap Bintang mulai membuka pintu kamarnya perlahan.
Cukup lama Rangga menunggu untuk di cium oleh istrinya. satu detik, dua detik, hingga sepuluh detik dia menunggu. Belum juga dia rasakan bibir manis istrinya itu menyentuh bibirnya. Dan akhirnya Rangga memutuskan untuk membuka mata, ternyata istrinya itu sudah lari keluar dari kamar.
"Bye, Sayang," ucap Bintang sebelum dia ke luar dan menutup pintu kamar. Rangga menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang ternyata sedang mengerjai dirinya.
"Awas kamu, Sayang!" ancam Rangga. Ancaman penuh cinta yang dia berikan untuk istrinya.
Rangga tersenyum, dia mengingat bagaimana Bintang pertama kali menciumnya dulu. Rangga ingat ketika Bintang menangkup wajahnya dan mencium bibirnya, ketika dulu dia mengantarkan Bintang pulang ke rumahnya setelah acara promnight. Ciuman yang sampai sekarang tidak pernah bisa dia lupakan.Ciuman yang membuat dia sadar kalau dia masih memiliki perasaan cinta setelah Lyvia menghianatinya dulu.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Bahkan mungkin sebelum aku menyadari perasaanku padamu dulu," ucap Rangga dalam hati. Dia betul-betul sangat mencintai istrinya itu.
Rangga mengambil piyama yang terletak tidak jauh dari jangkauannya. Dia bangkit dan memakai piyamanya itu, kemudian dia berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
******
Pukul 8 pagi semua sudah bersiap untuk kembali pulang ke kota. Semua barang sudah di masukkan ke dalam mobil.
Bintang, Rangga, Ratih dan kedua anak kembarnya sudah berpamitan dengan Uwa Susi, mereka semua sudah masuk ke dalam mobil. Namun saat mereka hendak melajukan mobilnya, tiba-tiba...
"Stop Daddy!" teriak Mikha.
Seketika Rangga menginjak rem mobilnya, dan mobil itu pun berhenti.
"Kenapa Sayang?" tanya Bintang cemas.
Tanpa memberikan jawaban kepada mommy-nya, Mikha langsung ke luar dari mobil, hingga membuat orang yang berada di dalamnya panik dan turun dari mobil untuk mengikutinya.
"Ada apa dengan Mikha, Tih?" tanya Uwa Susi kepada Ratih. Uwa Susi juga mengkhawatirkan gadis kecil tersebut.
Namun semuanya merasa lega ketika Mikha kembali ke luar dari dalam rumah. Ternyata gadis kecil itu turun untuk mengambil ikan hias yang dia beli kemarin.
Mereka semua menatap Mikha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun yang di tatap hanya membalas tatapan semua orang itu dengan senyum polosnya, senyum tanpa dosa yang membuat semua orang tidak bisa marah kepadanya.
"Ayo, Sayang! Jangan sampai kita kemalaman sampai di kota nanti!"
Bintang menyuruh putrinya itu untuk kembali masuk ke dalam mobil.
Kini mereka semua sudah kembali masuk ke dalam mobil. Rangga kembali menyalakan mesin mobilnya yang tadi sempat dia matikan. Mobil itu kini kembali melaju untuk meninggalkan desa tersebut.
Bintang menatap pemandangan indah di desanya melalui kaca jendela mobil. Ada sedikit rasa sedih di hatinya karena harus meninggalkan kampung halamannya.
Rangga menggenggam tangan istrinya, dia tahu persis apa yang sedang istrinya itu rasakan.
"Tidak lama lagi, kita akan kembali ke sini," kata Rangga di sertai senyum manisnya.
Bintang menatap suaminya sembari mengangguk.
*****
Setelah kurang lebih 8 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di kediaman keluarga Wijaya.
Mikha dan Tama langsung turun ketika mobil itu sudah berhenti. Mereka langsung berlari memeluk grandmanya yang sudah menyambutnya di depan pintu.
"Grandma..." panggil kedua anak kembar itu. kemudian mereka mencium pipi grandma-nya.
"Mikha kangen sama Grandma," ucap Mikha.
"Tama juga kangen sama Grandma," timpal Tama yang tidak ingin kalah dengan saudara kembarnya.
"Grandma juga kangen dengan kalian," jawab Mia, Mia mencium pipi kedua cucu kembarnya bergantian.
"Bagaimana Bintang, apa semuanya menyenangkan?" tanya Mia kepada menantunya.
"Iya, Ma. Semuanya menyenangkan" jawab Bintang.
"Bagaimana kabarmu, Mi?" tanya Ratih kepada besan sekaligus sahabatnya.
"Baik, Tih. Kamu sendiri?"
"Aku juga baik," jawab Ratih.
"Ayo, Nak masuk! Kalian semua pasti kecapekan setelah melakukan perjalanan jauh!" seru Mia.
Semuanya pun berjalan masuk ke dalam rumah.
"Hai, dua keponakan Tante. Apa kabar?" tanya Dinda.
" Baik Tante," jawab keduanya bersamaan.
Dinda mencubit pipi kedua keponakanya karena gemas.
"Kalian benar-benar keponakan-keponakan Tante yang lucu," puji Dinda yang kembali mencubit pipi mereka.
"Harry mana?" tanya Rangga, ketika tidak melihat keberadaan saudara kembarnya.
"Mas Harry belum pulang, dia sibuk mengurus perusahaan milik almarhum ayah Michel," jawab Dinda.
Mereka semua begitu panik, saat melihat Mia tiba-tiba jatuh ke lantai tak sadarkan diri.
β‘οΈ **Hai redader semua, jangan lupa untuk selalu like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya setelah membaca! Salam cinta dari Author untuk kalianπππ.
β‘οΈ Baca juga novel kece di bawah ini**:
Terima kasih πππ