
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam-an,akhirnya kereta yang di tumpangi Harry dan Dinda tiba juga di Jakarta.
Begitu mereka keluar dari stasiun, mereka sudah di tunggu oleh Pak Mun di pintu keluar.
Melihat anak dari majikannya datang, Pak Mun segera menghampiri dan membantu membawa barang bawaan mereka.
"Maaf ya Pak,pagi-pagi kami sudah merepotkan Bapak", ucap Dinda.
" Tidak apa-apa Non,ini sudah tugas saya",balas Pak Mun.
Pak Mun membawa anak dan calon menantu majikannya itu ke dalam mobil.
"Silahkan,Non", kata Pak sambil membuka salah satu pintu mobil.
" Makasih,Pak"ucap Dinda sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil. Kemudian Pak Mun juga membukakan satu pintu lagi untuk Harry.
"Terimakasih,Pak", ucap Harry.
" Bagaimana dengan pelayan dan perawat yang aku bawa?Apa mereka sudah tiba di rumah? ",tanya Harry.
" Mereka sudah tiba sejak semalam Tuan",jawab Pak Mun.
Dengan kecepatan sedang Pak Mun mulai melajukan mobilnya meninggalkan stasiun.
"Kamu mau langsung ke apartemenmu atau ke rumahku dulu?" tanya Harry kepada Dinda.
"Aku langsung ke apartemen saja,soalnya aku ngantuk pingin langsung istirahat", jawab Dinda seraya menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya tersebut.
" Pak,kita mengantarkan Dinda ke apartemennya dulu",seru Harry.
"Baik,Tuan", jawab Pak Mun.
Setelah mengantar Dinda ke apartemennya, mobil mereka segera melaju kembali menuju ke kediaman keluarga Wijaya.
*****
" Lho Sayang, mana Dinda? "tanya Mia saat putranya itu masuk ke dalam rumah.
" Dinda langsung ke apartemennya, Ma",jawab Harry.
"Ma,Harry pamit ke kamar ya.Mau istirahat".
" Nggak sarapan dulu, Sayang?" tanya Mia lagi.
"Nanti habis bangun tidur", jawab Harry sambil menaiki anak tangga karena kamarnya berada di lantai dua.
"Pagi Om", sapa Mikha dan Tama yang berpapasan dengannya di tangga.
" Pagi,keponakan om yang cantik dan ganteng ",balas Harry.
"Kalian pada mau kemana?" tanya Harry kepada dua ponakannya itu.
"Sekolah, Om", jawab keduanya.
" Belajar yang pinter ya, Om ke kamar dulu mau tidur".
"Iya,Om".
Harry melanjutkan langkahnya menuju kamar,sementara Tama dan Mikha turun menuju ke ruang makan.
*****
Pukul 07.00 semua orang sudah berkumpul di meja makan,kecuali Harry yang memang baru saja kembali dari Jogja.
" Nia,bagaimana persiapan nikahan adikmu?"tanya Mia pada anak perempuannya, Rania. Karena dia yang si beri tugas oleh mamanya untuk mempersiapkan pernikahan Harry.
"Sudah hampir selesei, kecuali baju yang akan di gunakan Dinda" jawab Rania sambil mengunyah makanan.
"Maaf ya Kak,aku tidak bisa bantu karena harus bekerja", ucap Bintang.
" Tidak masalah kok,Bi. Lagian kita kan memakai jasa WO,jadi kakak cuma ngecek-ngecek kekurangannya saja",jawab Rania.
"Nia,setelah adikmu menikah mama juga berharap kamu juga akan menikah lagi.Mama ingin melihatmu bahagia dengan keluargamu".
" Nia,belum memikirkan itu lagi Ma",jawab Rania.
"Nak,kamu juga berhak bahagia", ucap Mia.
Rania meletakkan sendok dan garpu yang ada di tangannya.
" Tapi sepertinya kebahagiaan itu tidak di takdirkan untukku,Ma"
Setelah mengatakan itu, Rania langsung meninggalkan meja makan.
"Ma,kenapa mama harus membicarakan hal itu kepada kakak? Lihatlah,kakak jadi pergikan".
Rangga juga meletakkan sendok dan garpu di tangannya. Kemudian dia meninggalkan meja makan untuk menyusul kakaknya.
" Apa aku salah jika aku menginginkan putriku bahagia ",kata Mia lirih.
" Ma,maafkan Mas Rangga ya. Aku yakin dia tidak bermaksud berkata kasar sama mama",kata Bintang sambil menggenggam tangan mertuanya itu.
"Tidak, apa-apa kok Nak.Mama mengerti", jawab Mia.
" Tama,Mikha ayo kita berangkat nanti kesiangan ",ajak Bintang.
Setelah berpamitan dengan Mia,Bintang mengajak dua anaknya masuk ke dalam mobil di mana suaminya sudah menunggu.
*****
Rangga tahu kalau istrinya saat ini sedang marah terhadapnya,dia memilih untuk diam sampai kedua anak mereka tiba di sekolahnya.
"Hati-hati ya,Sayang. Ingat sekolah yang benar dengarkan bu guru.Jadilah murid yang baik.Ok", Bintang memberikan pesan kepada ke dua anaknya sebelum mereka turun.
" Ok,Mommy ",jawab Mikha dan Tama bersamaan.
" Assalammu'alaikum, Mommy. Assalammu'alaikum Daddy ",ucap keduanya sebelum pergi.
" Wa'alaikum salam ",jawab Bintang dan Rangga bersamaan.
Rangga kembali menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
" Kamu marah?",tanya Rangga mencoba membuka pembicaraan.
"Mas, dengar ya aku tidak suka cara bicara mas tadi sama mama", jawab Bintang kesal.
" Maaf, aku tidak bermaksud begitu",ucap Rangga
"Jangan minta maaf padaku,minta maaf sama mama," seru Bintang.
"Iya nanti aku akan telpon mama begitu sampai kantor" jawab Rangga.
"Tadi aku bersikap begitu karena kasihan sama Kak Nia.Dua kali dia menikah dan dua kali pula dia menderita.Aku tidak mau dia menderita untuk yang ketiga kalinya", tutur Rangga.
" Mas,maksud mama itu baik. Mama cuma berharap kalau kakak bisa menikah dengan orang yang baik dan hidup bahagia seperti kita",tukas Bintang.
"Iya,aku tahu. Aku akan minta maaf sama mama nanti"
" Nah begitu dong, itu baru suamiku" ucap Bintang sambil mencium pipi suaminya.
"Kok cuma di pipi?" tanya Rangga
"Untuk sementara di situ dulu yang lainnya nunggu setelah Mas Rangga minta maaf sama mama", jawab Bintang.
" Baiklah.Tapi setelah aku minta maaf sama mama,aku tidak hanya ingin itu tapi yang lainnya juga",kata Rangga dengan senyum devilnya.
"Oke", jawab Bintang.
*****
Rangga kembali menghentikan mobilnya ketika mereka tiba di depan rumah sakit.
"Hati-hati ya,Mas. Kabari aku begitu sampai di kantor", ucap Bintang setelah turun dari mobil tersebut.
Rangga kembali menjalankan mobilnya meninggalkan Bintang.
^°^°^
Bintang berjalan memasuki koridor rumah sakit. Setelah meletakkan tas di ruangannya,dia langsung berkeliling memeriksa pasiennya satu per satu.
Menjelang siang dia baru selesei dengan tugas rutinnya itu.
" Anda? Kenapa anda di sini? ",tanya Bintang saat pasien VVIP yang dia periksa kemarin sudah berdiri di depan pintu ruangannya.
" Maaf dokter, aku hanya ingin bicara sebentar dengan dokter ",jawab pasien itu.
" O...Silahkan masuk",Bintang membuka pintu ruangannya dan mempersilahkan orang itu masuk.
"Silahkan duduk", Bintang mempersilahkan orang itu untuk duduk di bangku yang ada di depan mejanya.
" Apa yang ingin anda tanyakan?"tanya Bintang.
"Ti...tidak dokter,tidak ada.Saya permisi", jawab pasien itu.
Pasien itu meninggalkan ruangan Bintang tanpa mengatakan apapun.
" Kenapa dia?Benar-benar aneh"gumam Bintang. Kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
*****
Pasien VVIP itu kembali ke ruangannya,tubuhnya bergetar mengingat kembali kejadian 14 tahun yang lalu.
"Pak,Anda kenapa?", tanya asisten yang selalu menemaninya.
" Dokter...dokter itu,dia memang anaknya",jawab Pak Yoga.
"Dokter? Anak? Apa maksud Anda?".
" Dokter wanita itu adalah anak dari Rayhan, pasien yang meninggal di ruang operasi 14 tahun yang lalu",Pak Prayoga menjelaskan.
"Bapak yakin?", tanya asistenya
" Iya aku yakin.Karena aku melihat foto wanita 14 tahun lalu di mejanya",jawab Pak Prayoga.
"Pak,meskipun wanita itu adalah anak dari Rayhan .Dia tidak akan bisa menuntut Bapak,karena pengadilan sudah memutuskan bahwa anda tidak bersalah".
Pak Prayoga masih diam,pikirannya kembali ke kejadian 14 tahun lalu.