Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 153


"Mas,siapa dia?", suara itu membuat Rangga menoleh ke sampingnya dan menatap orang yang memeluk lengannya itu.


Dengan kasar Rangga menghempaskan tangan wanita itu.Saat tahu orang yang memeluk lengannya adalah Ester.


" Kenapa tiba-tiba kamu ada di sini? Kamu benar-benar lancang telah memasuki kawasan rumahku tanpa izin",maki Rangga.


"Maaf, Pak Rangga. Aku...hanya ingin bercanda dengan Anda tadi", jawab Ester yang mendadak nyalinya menciut.


" Bercanda?!? Aku tidak suka bercanda. Apalagi dengan orang yang sok kenal sepertimu",maki Rangga.


"Mas...", Bintang memegang lengan suaminya itu seraya menggelengkan kepalanya.


Bintang kasihan saat melihat wajah wanita yang di marahi oleh suaminya.


Bak api yang di siram air,sekatika amarah Rangga mereda.


" Daddy, kenapa daddy marah-marah?" tanya Mikha.


"Apa tante ini melakukan kesalahan sama daddy?",tanya Tama sambil melihat ke arah wanita yang tadi di marahi oleh Rangga.


Rangga melihat ke arah istrinya sejenak.


" Tidak, Sayang ",jawab Rangga yang kembali dengan nada lembutnya.


" Mikha, Tama kalian masuk dulu gih ke dalam mobil,nanti mommy sama daddy menyusul",seru Bintang.


"Baik,Mom", jawab keduanya.


Mikha dan Tama segera melakukan seruan ibunya.


" Pak Rangga, saya mohon maafkan saya. Saya tidak bermaksud membuat Bapak marah",ucap Ester lagi.


"Nona,biar bagaimana pun cara bercanda Anda tidak bisa di benarkan. Bagaimana jika yang melihat adalah orang lain? Pasti mereka akan berprasangka yang tidak tidak terhadap suamiku", ucap Bintang.


" Iya,nyonya. Saya minta maaf, saya tidak tahu kalau Pak Rangga sudah berkeluarga. Jadi.. saya hanya ingin sedikit bercanda dengannya tadi",jawab Ester.


"Kenapa kamu bisa sampai ke rumahku? Bukankah sudah aku bilang,jika ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan mengenai kerjasama kita,kamu bisa menghubungi Nando terlebih dulu"


"Tadi saya sudah mencoba menghubungi Pak Nando, tapi nomornya tidak bisa di hubungi. Jadi saya bertanya kepada karyawan anda yang lain dan dia memberiku alamat rumah ini. Dan saat saya tiba,saya melihat Bapak sedang bermain hape sendirian. Jadi...saya...."


"Barusan aku sudah memberitahu Nando, kalau kamu ingin membicarakan soal kerjasama itu. Sebentar lagi dia akan menghubungimu", tukas Rangga.


" Tapi...Pak Hito bilang saya harus berbicara dengan Anda secara langsung",tutur Ester


"Kalau begitu bilang padanya,aku membatalkan kerjasama itu. Dan soal pinalti pembatalan kerjasama,kamu bisa bicarakan itu dengan Nando besok", kata Rangga.


" Ayo Sayang kita pergi!",Rangga menarik tangan istrinya itu agar ikut masuk ke dalam mobil.


Ester masih berdiri di depan rumah keluarga Wijaya, saat mobil yang di kendarai Rangga sudah pergi menjauh dari halaman rumah itu.


"Tadinya aku kira Pak Rangga itu masih sendiri, ternyata dia sudah berkeluarga", batin Ester.


Ester menghela napasnya.


" Sekarang apa yang harus aku lakukan, untuk menolak perjodohan itu"


Namun Ester segera tersadar, saat ponsel miliknya berdering.


"Iya,Pak Hito. Aku akan bicara dengan Pak Nando besok", jawab Ester kemudian dia kembali memasukkan ponsel miliknya itu ke dalam tas.


Ester berjalan ke arah mobil miliknya, yang ia parkir di tepi jalan raya.Setelah masuk ke dalam mobil tersebut, dia melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Pikirannya masih di hantui dengan perjodohan yang telah di atur oleh keluarganya.Orang yang dia harapkan bisa membantunya lepas dari jerat perjodohan ternyata telah beristri.


'Hahhhh'


Berkali-kali dia menghela napasnya.


" Apa aku harus menyerah dan menerima perjodohan itu?",gumamnya.Dia mencoba mengambil earphon miliknya yang berada di samping jok.


'Ciiiiiiiittttttttttt'


Ester mengerem mobilnya mendadak ketika dia hampir saja menabrak seseorang.


*****


( Di rumah Dewi )


" Rangga",jawab Nando.


Nando beranjak dari tempat tidurnya dan memunguti pakaian miliknya yang masih tercecer di atas tempat tidur dan juga lantai kamarnya.


"Selalu saja menelponku di saat yang tidak tepat", gerutu Nando.


" Mungkin ada hal yang mendesak",kata Dewi.


"Aku harus menelpon seseorang dulu,kita lanjutkan urusan kita nanti", seru Nando sambil mengenakan bajunya.


" Jangan nanti ya Mas,besok saja.Aku sudah capek",jawab Dewi yang memang merasa lelah dengan kegiatan yang baru saja mereka lakukan.


"Baiklah,kamu istirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu lagi malam ini", jawab Nando,kemudian dia mencium kening istrinya itu.


" Kiara biar aku yang urus,tidak usah mengkhawatirkannya",kata Nando sebelum menutup pintu kamarnya.


Sejak pulang kerja tadi,Nando meminta Dewi untuk melayaninya.Dan entah sudah berapa kali,mereka melakukan itu. Mereka baru berhenti saat ada telpon dari Rangga. Padahal Nando dengan sengaja sudah mematikan ponsel miliknya. Tapi bosnya itu malah menghubunginya melalui telpon rumah mereka.


*****


"Maaf ya Tuan,saya tidak sengaja. Anda tidak apa-apakan?", tanya Ester,begitu turun dari mobil miliknya.


" Tidak apa-apa, Mbak",jawab orang yang hampir saja tertabrak mobilnya.


"Apa ada yang luka? Atau apa kita perlu ke rumah sakit untuk memastikan kalau Anda baik-baik saja?", tanya Ester panik.


" Tidak kok Mbak.Sungguh saya baik-baik saja",jawab orang itu.


Ester bernapas lega.


"Syukurlah kalau Anda baik-baik saja",ucapnya.


" Kelihatannya Anda bukan asli orang sini",kata Ester saat melihat ransel yang di bawa oleh orang itu.


"Iya,Mbak kebetulan saya dari luar kota", jawab orang itu.


"Anda mau kemana? Biar saya antar,anggap saja sebagai permintaan maaf dari saya",


" Tidak perlu Mbak. Saya sudah di jemput orang kantor,permisi ",kata orang itu ramah.


Orang tersebut berjalan ke arah sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berada. Setelah tersenyum dan melambaikan tangannya,orang itu masuk ke dalam mobil tersebut.Dan mobil itu pun semakin menjauh meninggalkan tempat itu.


" Dia lumayan tampan",kata Ester sambil menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


******


Keesokan harinya...


( Perusahaan Wijaya Grup )


Sejak tadi pagi,Rangga dan Nando berada di kantor. Setelah berbicara dengan Pak Hito lewat sambungan telephon,akhirnya di capai sebuah kesepakatan kalau perusahaan mereka tetap akan melanjutkan kerja sama sesuai dengan perjanjian sebelumnya.


"Nando, kapan orang suruhan dari cabang perusahaan kita akan datang?", tanya Rangga dengan mata yang tetap fokus dengan dokumen di tangannya.


" Mungkin sebentar lagi ",jawab Nando.


" Hei, kenapa kamu bilang mungkin? Apa kamu lupa aku tidak menyukai hal hal yang tidak pasti",protes Rangga.


"Iya iya,tapi memang dia sudah tiba sejak semalam. Jadi bersabarlah", jawab Nando.


Tok tok tok


" Maaf ,Pak.Orang yang dari cabang perusahaan kita sudah ada di depan",salah seorang karyawan memberitahu.


"Suruh dia masuk", jawab Rangga.


Tidak lama kemudian seorang laki-laki datang memasuki ruangan tersebut.


" Maaf, Pak saya terlambat ",ucap orang itu.


" Duduklah",seru Rangga sambil mendongakkan wajahnya.


"KAMU....", kata orang itu sambil menatap Rangga tak percaya.