Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 183


Ester masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Satu persatu dia mulai menanggalkan pakaiannya. Ester mulai berendam di dalam bath up yang ada di dalam kamar mandi itu.


"Rasanya hatiku sedikit tenang," Ester berbicara di dalam hati. Namun sedetik kemudian dia berteriak.


"Aaaaaaaaaa,"


Ester segera bangun dan mengambil handuk yang tergantung di dekat bathup, dia memakainya sebelum berlari ke luar dari kamar mandi.


"Ada apa, Mbak?" tanya Rini yang lari masuk ke kamarnya saat mendengar teriakan Ester.


"Rin...itu...itu...di dalam bathup ada cicak jatuh," jawab Ester.


"Mbak Ester takut sama cicak?" tanya Rini.


"Iya,sejak kecil aku paling geli ngelihat cicak," jelas Ester.


" Ono opo toh, Nduk?" tanya Mbok Inah yang baru saja masuk. Dia juga kaget mendengar suara teriakan Ester dari dalam kamar mandi.


( Ada apa toh,Nak? )


"Niki Bu,Mbak Ester wedi kaleh cecek," Rini yang menjawab pertanyaan ibunya itu.


( Ini Bu,Mbak Ester takut sama cicak )


"Owalah cecek toh? Tak kiro ono opo," kata Mbok Inah lagi.


( Owalah,cicak ya? Saya kira ada apa )


" Nggeh Bu,cecek. Rupane Mbak Ester iki wedi kalehan cecek," tutur Rini.


( Iya Bu,ternyata Mbak Ester ini takut sama cicak )


"Wes mono,Rin. Jupuk'en cecekke,mesakke Ester nganti keweden koyo ngono," seru Mbok Inah kepada anak perempuannya.


( Sudah sana,Rin. Ambil cicaknya,kasihan Ester sampai ketakutan seperti itu )


"Nggeh,Bu"


( Iya,Bu )


Rini masuk kedalam kamar mandi dan menguras air yang ada di dalam bathup,setelah itu dia membuang cicak yang tadi jatuh dan sudah mati. Setelah itu Rini mengganti air yang ada di dalam bathup tersebut dengan yang baru.


"Mbak, airnya sudah aku ganti dengan yang baru,tinggal nunggu penuh saja. Dan soal cicak tadi,sudah Rini ambil dan Rini buang,jadi Mbak nggak perlu takut," kata Rini menjelaskan.


"Terimakasih ya Rin, maaf karena aku jadi menyusahkan kalian," ucap Ester.


"Tidak apa-apa kok Mbak. Lagian ini juga bukan hal yang besar," kata Rini santai.


"Wes Ndok,gek ndang adus. Setelah itu kita makan bareng-bareng," seru Mbok Inah.


( Sudah Nak,cepat mandi. Setelah itu kita makan bersama )


Ester melihat ke arah Rini bermaksud menanyakan arti dari perkataan Mbok Inah barusan.


"Ibu menyuruh Mbak untuk cepat mandi," sela Rini sebelum Ester sempat bertanya.


"Kalau begitu aku lanjutkan mandiku dulu. Terimakasih ya Rin," ucap Ester sebelum kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Ester kembali masuk ke dalam kamar mandi. Dia meneruskan aktifitas mandinya yang sempat terhenti gara-gara cicak.


Rini dan Mbok Inah,segera ke luar meninggalkan kamar tersebut. Namun di depan pintu, mereka melihat Sigit yang sudah berdiri di sana.


" Wes Le,Ester esih adus. Ojo di ganggu," seru Mbok Inah kepada anak laki-lakinya tersebut.


( Sudah Nak,Ester sedang mandi jangan di ganggu ).


"Mboten,Bu. Tadi Sigit cuma sedikit khawatir karena mendengar suara teriakannya," jawab Sigit.


"Terus iseh opo kowe nang kene?" tanya Mbok Inah lagi.


( Terus sedang apa kamu di sini? )


"Nggeh,Bu. Ini Sigit mau pergi," jawab Sigit. Rini menahan tawanya melihat ibunya itu memarahi kakaknya.


"Eling,Ester dudu muhrimmu. Kowe ora keno macem-macem," kata Mbok Inah dengan sedikit mengancam.


(Ingat, Ester bukan muhrimmu. Kamu tidak boleh macam-macam )


"Nggeh,Bu" jawab Sigit sedikit menundukkan kepalanya.


"Sejak kapan Mas Sigit di sini? Jangan bilang tadi Mas Sigit lihat Mbak Ester yang masih memakai handuk," bisik Rini di telinga kakaknya itu.


"Diam kamu," seru Sigit dengan wajah merahnya.


"Nggeh,Bu" jawab kedua kakak beradik itu bersamaan. Keduanya pun mengikuti langkah ibunya menuju meja makan.


Setelah menunggu kurang lebih 15 menit,Ester akhirnya ke luar dari kamar Rini. Rini segera duduk di bangku kosong di sebelah Sigit. Sebenarnya bangku itu,sengaja di kosongkan oleh Rini. Dia sengaja melakukan itu agar kakaknya bisa lebih dekat dengan Ester.


"Ayo,Ndok di makan!" seru Mbok Inah


"Iya,Bu," jawab Ester.


"Maaf ya Mbak menunya sederhana,soalnya kitakan dari kampung," ucap Rini.


"Kenapa harus minta maaf? Kan aku yang numpang di sini. Seharusnya aku yang mengucapkan terimakasih kepada kalian karena sudah mau menampungku," tutur Ester


"Lagian semua makanan ini enak," tambah Ester.


"Masakan ibuku memang nomer satu," Sigit ikut memuji masakan ibunya. Mereka pun memulai aktifitas makan mereka.


*****


Di tempat lain...


Setelah pulang dari acara pertunjukan,Bintang dan Rangga mengajak ke dua anak mereka pergi ke rumah Dewi untuk mengunjungi baby Arya.


Sejak tahu Kiara memiliki adik baru,Mikha dan Tama sering merengek kepada kedua orang tuanya untuk di ajak berkunjung ke rumahnya. Mereka ingin melihat baby Arya secara langsung. Kebetulan di sana juga sudah ada Ana dan Alex yang datang terlebih dulu.


Alex,Rangga dan Nando pergi ke ruangan lain khusus untuk para pria,mereka tidak ingin mengganngu istri-istri mereka untuk bercengkerama.


"Bintaaaaannnngg.... akhirnya kamu datang juga," teriak Ana menyambut kedatangan sahabatnya itu. Bahkan teriakan Ana lebih heboh di banding sang empunya rumah.


"Huuussssst,jangan berisik. Anakku baru saja tidur," seru Dewi sambil menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya.


"Sorry,Dew. Aku senang banget saolanya,apalagi kita jarang berkumpul akhir-akhir ini," jawab Ana.


"Bagaimana kabar calon menantuku Dew?" tanya Bintang sedikit bercanda.


"Hei hei hei, Arya adalah calon menantuku. Kamu kan sudah ada Kiara, jadi sekarang Arya itu adalah calon menantuku," sela Ana.


"Terus kalau anakmu laki-laki, memang kamu masih tetap mau menjodohkan si Arya dengan anakmu?" tanya Bintang.


"Lha kamu sendiri mau menjodohkan Arya sama siapa,Bi? Sama si Mikha? Dia kan lebih tua dari Arya,"


" Kalau Aryanya mau kenapa tidak," jawab Bintang yang tidak mau kalah.


"Ih...kamu curang,masa kamu mau Kiara dan Arya jadi menantumu. Pokoknya Arya itu calon menantuku titik," kata Ana sambil berpura-pura memasang wajah cembererutnya.


"Bumil tidak baik pasang wajah cemberut,nanti kalau anakmu jelek dan Arya tidak mau bagaimana?" tanya Bintang lagi.


"Ih...kok kamu malah nyumpahin anakku jelek sih,Bi" protes Ana.


"Maaf Ana ku Sayang,mana mungkin aku nyumpahin anakmu ini jelek. Dia pasti bakalan lebih cantik dari ibunya," kata Bintang.


" Tentu saja,anakku pasti bakalan lebih cantik dari aku," kata Ana senang dan di sambut tawa oleh Dewi dan juga Bintang. Namun sedetik kemudian,


"Berarti aku jelek dong?" protes Ana sekali lagi.


"Bercanda Ana ku Sayang,kamu dan anakmu kelak pasti sama-sama cantik," kata Bintang lagi.


"Tante,dimana Kia dan Arya?" tanya Mikha. Pertanyaan Mikha membuat candaan ketiga orang dewasa itu seketika berhenti.


"Kamu ke atas saja ya Sayang, baby Arya dan Kia ada di sana," jawab Dewi sambil menyentuh pipi Mikha.


"Ayo Tama,kita ke tempat baby Arya!" ajak Mikha kepada kembarannya Tama.


"Ayo," jawab Tama.


Mikha dan Tama segera berlari menaiki anak tangga menuju ke kamar baby Arya.


Ketiga orang dewasa itu pun kembali melanjutkan candaan mereka. Namun ketiganya langsung berhenti ketika mendengar teriakan Tama dari atas.


"Mommy...."


## *Jangan lupa like,komen dan vote sebanyak- banyaknya ya...Biar author makin semangat buat update.


## Baca juga novel keren di bawah ini: