
Keadaan mulai tenang setelah Juan dan Alex membawa Mamanya pergi ke rumah sakit.
"Ibu dan Kak Tari, kalian bisa istirahat dulu di sini!" kata Bintang sambil membantu memapah ibunya. Namun, tanpa di duga Mia menahan lengan Bintang.
"Siapa yang memberimu izin untuk membawa ibu dan Kakakmu masuk ke rumah ini?" tanya Mia dengan tatapan aneh.
"Ma, tapi.... "
"Bintang, sekarang juga putuskan hubunganmu dengan ibu dan juga kakakmu. Aku tidak ingin berbesan dengan ibu seorang pelacur!" perintah Mia.
"Apa yang Mama katakan? Kenapa Mama bersikap begini?" tanya Bintang yang tidak mengerti dengan perubahan sikap mertuanya itu.
"Aku hanya tidak ingin keluarga Wijaya malu karena berbesan dengan ibu seorang pelacur." Jawaban Mia benar-benar membuat Bintang kecewa.
"Ma, kenapa mama bersikap begini? Dimana mamaku yang selalu bersikap bijak dan penyayang?" Rangga mulai ikut berbicara karena melihat sikap mamanya sudah keterlaluan.
"Mama hanya tidak ingin keluarga Wijaya malu. Jadi sekarang kamu tinggal pilih memutuskan hubunganmu dengan ibu dan Kakakmu atau bercerai dengan putraku!" Mia memberikan dua pilihan yang berat pada Bintang.
"Apa yang mama katakan? Apa pun yang terjadi aku tidak akan pernah menceraikan Bintang karena aku sangat mencintai dia." Kata Rangga marah.
"Jadi kamu lebih memilih melihat mama berakhir seperti Ema, begitu?"
"Sebelum mama melakukan hal itu, Aku yang akan lebih dulu melakukannya," kata Rangga sungguh-sungguh.
"Hentikan!" teriak Rania. "Ma, jika karena Mentari pernah menjadi seorang pelacur Mama ingin mengusir Bintang dan keluarganya, maka mama juga harus mengusirku," kata Rania.
Mia menatap Rania bingung.
"Apa maksudmu?" tanya Mia.
Rania menatap Bintang, Bintang menggeleng.
"Apa yang dialami Mentari, aku juga mengalaminya, Ma," kata Rania lirih, tapi masih didengar oleh semua yang ada di situ.
"Jaskan maksud perkataanmu!" seru Mia. Dia menginginkan penjelasan dari ucapan Rania barusan.
Air mata Rania mulai menetes tanpa dikomando. "Apa mama tahu apa yang di lakukan Agung padaku setelah menikah? Dia menyuruhku melayani Direktur dari sebuah perasaan besar hanya untuk mendapatkan tender. Dan saat aku menolaknya dia mengancamku akan menghancurkan perusahaan papa yang aku tangani. Saat itu aku bingung sekaligus takut." Untuk sesaat Rania menghentikan ceritanya.
"Apalagi saat itu Rangga dalam kondisi terbawahnya karena pengkhianatan Lyvia dan kehilangan papa sekaligus. Aku tidak mau perusahaan yang dengan susah payah papa rintis dihancurkan oleh Agung. Aku adalah anak tertua jadi aku harus bisa mempertahankan perusahaan itu dengan cara apa pun termasuk dengan mengorbankan kehormatanku. Dengan terpaksa aku melayani direktur itu, Ma." Rania kembali menangis, tidak hanya Rania kini air mata Mia juga mengalir dengan deras di kedua pipinya.
"Sejak saat itu Agung semakin berbuat seenaknya, setiap malam dia membawa wanita lain masuk kedalam rumah, bahkan terang-terangan mereka bermesraan di depanku. Agung hanya menganggapku alat untuk memuluskan tujuannya. Setiap ada persentasi dia akan menyuruhku melayani direktur-direktur itu. Sebenarnya aku sudah sangat lelah, aku ingin bercerai darinya. Tapi... setiap aku minta pisah dia selalu mengancam akan menyebarkan video dimana aku sedang melayani salah seorang direktur di kamar hotel. Aku benar-benar tidak berdaya." Tangis Rania kembali pecah saat mengingat semua kejadian pahit yang menimpanya. Hati Mia benar-benar hancur mendengar putri kesayangannya hidup penuh dengan penderitaan. Rangga mengepalkan tangannya, menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun.
"Dan terakhir beberapa hari yang lalu, Agung mengajakku bertemu hanya untuk menyuruhku melayani direktur dari perusahaan STAR dan untuk mendapatkan proyek besar dari perusahaan itu, aku hampir saja melakukan hal itu lagi, jika saja Bintang tidak datang dan menyelamatkan aku," lanjut Rania.
"Bintang, kenapa kamu tidak menceritakan soal ini padaku?" tanya Rangga.
"Karena aku yang memintanya. Aku yang menyuruhnya untuk diam, aku tidak ingin membuat mama dan kamu sedih gara-gara hal ini." justru Rania yang menjawabnya. Mia memeluk putrinya itu. Lagi-lagi tangis mereka kembali pecah.
"Dan soal Mentari, dia sama kurang beruntungnya seperti aku. Bertemu dengan suami brengsek yang tega menjual istrinya kepada orang lain. Apa semua itu kesalahan Mentari? Jika dia bisa memilih dia pasti ingin menikah dengan laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, sama halnya seperti aku" kata Rania lagi.
Mia mendekati Mentari dan juga Ratih, kemudian satu tangannya menggenggam tangan Mentari dan satunya lagi tangan Ratih.
"Aku minta maaf atas segala ucapan kasarku padamu Ratih, terutama juga padamu Mentari. Tolong maafkan aku," ucap Mia.
Ratih dan Mentari sama-sama memeluk Mia.
"Sudah lupakan saja, kita inikan keluarga," kata Ratih tulus.
"Aku juga minta maaf padamu Bintang, hampir saja aku kehilangan menantu yang istimewa sepertimu," ucap Mia pada Bintang. Bintang juga ikut memeluk mertuanya itu. Rangga tersenyum bahagia melihat keluarganya berpelukan. Dia memutuskan untuk meninggalkan mereka dan masuk ke ruang kerjanya.
"Nando, suruh orang untuk mencari tahu berapa banyak proyek yang Agung dapatkan beberapa tahun ini. Dan juga proyek baru apa saja yang dia dapatkan saat ini. aiiku tunggu satu jam dari sekarang," suruhnya kepada Nando lewat telpon.
"satu lagi cari tahu siapa orang yang memberikan informasi tentang masa lalu Mentari pada keluarga Juan" perintahnya lagi. Kemudian Rangga menutup telponnya dan duduk di kursi kerjanya.
"Aku akan hancurkan semua usahamu Agung,karena kamu sudah berani menyakiti kakakku.Lihatlah kamu pasti akan menyesali perbuatanmu pada kakakku," batin Rangga dengan tatapan dinginnya.
Sementara itu di kamar tamu, Celin merasa kesal karena semua rencananya hari tidak berjalan lancar. Tadinya dia berharap kalau Bintang dan keluarganya akan di usir dari keluarga Wijaya.Namun yang terjadi justru kebalikannya.
"Aaaaaaaa" teriaknya sambil melempar semua benda di depannya.
"Aku pasti akan menghancurkanmu Bintang, setidaknya ada hal yang membuatmu terluka yaitu gagalnya pernikahan kakakmu," guman Celin.
Tidak lama ponsel Celin berdering.
"Iya, aku sudah bicara dengan papaku. Kau jangan khawatir, aku akan siapkan kontrak kerjasama denganmu" jawab Celin saat tahu siapa yang menelponnya.Celin kembali memaskkan ponselnya kedalam tas.
Bintang masuk ke kamarnya, dia melihat suaminya sedang berdiri di balkon kamarnya.Bintang mendekatinya dan memeluk suaminya itu dari samping.
"Sayang, menapa belum berkemas? Bukankah tadi pagi kamu bilang harus keluar kota malam ini?" tanya Bintang.
Bukannya menjawab, Rangga membalas pelukan istrinya dan membelai rambut istrinya itu dengan sangat lembut.
"Kau pasti tegang karena kejadian hari ini?" katanya.
"Sedikit" jawab Bintang.
"Apa kau ingin aku membantumu membuatmu rileks?"
Bintang tahu betul maksud suaminya,
"Tidak mau, sudah seharian ini kau membuatku lelah" jawab Bintang dengan cepat. Rangga hanya terkekeh mendengarnya, Dia semakin mengeratkan pelukannya.