Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 103


Jam 22.00 waktu setempat,semuanya sudah berkumpul di bandara kecuali Rangga.


Bahkan seharian ini Rangga tidak kelihatan batang hidungnya,dia hanya mengirim pesan kepada istrinya kalau dia ada urusan dan akan tiba sebelum pesawat take off.


"Sebenarnya Rangga ke mana Sayang?" tanya Mia kepada menantunya itu.


Keadaan Mia sudah jauh lebih baik dari semalam.Bahkan dia juga sudah bersikap seperti biasanya.


"Tidak tahu,Ma.Mas Rangga cuma bilang kalau dia akan kembali sebelum pesawat take off" jawab Bintang.


"Eh,Bi.Kamu nggak khawatir kalau sebenarnya Rangga pergi ke tempat wanita lain.Dan dia sedang menghabiskan waktu terakhirnya di sini bersama wanita itu?",tanya Alex. Dia sengaja ingin menggoda Bintang.


" Tutup mulutmu",jawab Bintang sambil menatap tajam Alex.


"Jangan bicara begitu,Sayang. Saat ini Bintang sedang mengkhawatirkan Pak Rangga kenapa kamu malah membicarakan hal yang tidak masuk akal", kata Ana. Dia tidak suka dengan sikap suaminya yang sengaja menggoda Bintang.


" Iya, Sayang. Maaf, akukan cuma bercanda"ucap Alex seraya merangkul bahu istrinya itu.


"Tapi bercandamu itu nggak lucu ", Dewi ikut berbicara.


Bintang terus melihat jam tangannya.


" Bi,kita tunggu Mas Nando. Siapa tahu dia berhasil mencari Pak Rangga ",Dewi berusaha membuat temannya itu tenang.


Saat mengetahui Rangga pergi sejak pagi,Nando berinisitif mencari bosnya itu.


" Mommy kenapa Daddy belum datang juga?" tanya Mikha.


"Daddy sebenarnya pergi kemana sih,Mom?" Tama ikutan bertanya.


Bintang hanya bisa menghela napasnya, dia juga tidak tahu kemana suaminya itu pergi.


"Tama,Mikha Daddy kalian pasti akan segera datang sebelum pesawatnya take off.Jadi tenanglah,jangan buat mommy kalian jadi semakin khawatir" kata Ratih untuk menenangkan kedua cucunya.


"Iya, Nek" jawab Tama dan Mikha bersamaan.


Tidak lama kemudian, Nando datang.


"Bagaimana Mas,apa kamu menemukan Pak Rangga?" tanya Dewi saat suaminya itu muncul.


Nando menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya kita hanya bisa menunggu" kata Nando.


Terdengar dari pengeras suara bahwa penumpang pesawat yang menuju Jakarta harus segera naik karena pesawat akan segera take off.


"Bagaimana, Bi?Apa kita mau nunggu Pak Rangga dulu atau kita mau langsung masuk untuk boarding?" tanya Dewi.


"Masuk saja,aku yakin mas Rangga akan datang sebelum pesawat take off", jawab Bintang.


Bintang dan lainnya segera menuju ke terminal keberangkatan untuk melakukan boarding.


Semuanya sudah berada di dalam pesawat.


Bintang masih memperhatikan bangku kosong di sebelahnya.


" Mas,kenapa kamu belum datang juga?Sebenarnya kamu kemana?"batin Bintang.


"Mommy, kenapa Daddy belum datang juga?" tanya Mikha. Dia duduk di bangku belakang mommy dan daddy nya bersama dengan Ratih.


Sementara Tama,dia duduk di bangku depan mommy dan daddy nya bersama dengan Mia.


"Sebentar lagi Sayang" jawab Bintang.


Bintang berusaha terlihat tenang di depan kedua anaknya. Dia tidak mau anak-anaknya khawatir.


"Mas apa kamu tidak akan ikut kami kembali ke Jakarta?" batin Bintang.


Bintang memejamkan matanya saat ada pengumuman untuk penumpang memakai seatbelt karena pesawat akan segera take off.


Bintang membuka matanya ketika merasa ada tangan yang menggenggam jemarinya.


"Mas, Kamu kemana saja?" kata Bintang dengan mata berkaca-kaca ketika melihat suaminya sudah duduk di sebelahnya.


Dia menghapus air mata yang mengalir di pipi istrinya itu dengan menggunakan ibu jarinya.


" Aku kira Mas tidak akan ikut pulang ke Jakarta bersama kami",kata Bintang dengan air mata yang tetap mengalir di kedua pipinya.


Rangga mencium kening istrinya itu,kemudian dia juga mencium kedua mata istrinya yang basah karena air mata.


"Bagaimana aku tidak ikut ke Jakarta, jika belahan jiwaku ada di sana.Dan sumber kebahagiaanku juga ada di sana" kata Rangga.


Bintang menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Lalu kenapa Mas menghilang seharian ini? Bahkan ponselmu juga tidak bisa di hubungi" kata Bintang.


"Akukan sudah mengirimu pesan kalau aku pasti akan datang sebelum pesawat take off. Bukankah aku menepati janjiku?"


"Tapi tetap saja,Mas membuatku khawatir".


Bintang memeluk tubuh suaminya.


" Tidurlah,karena penerbangan ini membutuhkan waktu yang cukup lama".


Bintang mengangguk, dia semakin mengeratkan pelukannya seolah takut kalau suaminya itu akan kembali menghilang.


Rangga membelai rambut istrinya dan mencium pucuk rambut istrinya itu. Dia juga ikut memejamkan matanya.


Sebenarnya semalam setelah bercinta dengan sang istri,Rangga kembali menemui Om Edwar.Dia semakin penasaran dengan yang namanya Harry. Apalagi setelah mamanya juga menyebut nama tersebut.


Awalnya Om Edwar tidak bersedia mengatakan apapun, namun dengan sedikit ancaman akhirnya Om Edwar mau bercerita juga tentang Harry.


Om Edwar juga menceritakan sedikit masa lalu orang tuanya.Juga kisah cinta antara orang tuanya,Om Edwar dan juga Michel.


Setelah mendengarkan semua cerita itu,Rangga meminta Om Edwar menunjukkan di mana rumah Michel dulu.Dan dengan di temani Erik,dia mendatangi alamat rumah Michel.


Itulah sebabnya seharian ini Rangga menghilang, dia ingin menyelidiki keberadaan saudara kembarnya.


Tidak ada petunjuk apapun yang dia dapatkan setelah mendatangi rumah yang dulu rata dengan tanah.Tetapi dari informasi yang dia dapatkan dari mantan penjaga rumah Michel, Rangga tahu kalau Michel saat itu juga membawa anak kecil selain saudaranya ke rumahnya.


"Sebenarnya siapa yang ikut terbakar dalam musibah itu? Harry atau orang lain?" Rangga bertanya dalam hati.


"Jika itu Harry kenapa Michel menghilang saat papa sudah membawa uang 50 milyar untuk menebusnya?apa dia punya tujuan lain? Atau memang Harry sudah meninggal dalam musibah kebakaran itu?"


Rangga terus memikirkan hal itu hingga dia juga benar-benar tertidur.


*****


Setelah kurang lebih 18 jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga di bandara internasional Soekarno Hatta.


Rangga dan yang lainnya keluar dari terminal kedatangan internasional.


Di depan bandara Pak Mun sudah menunggu. Dia berdiri di samping mobil warna hitam milik keluarga Wijaya.


"An,Dew kami duluan ya.Pak Mun sudah menunggu Kami." pamit Bintang kepada kedua sahabatnya.


"Hati-hati ya,Bi" jawab Ana dan Dewi.


"Kia,lain kali kita main bareng lagi ya", Mikha berbicara pada Kiara.


" Iya,Mikha ".


" Tama,kamu tidak berpamitan dengan Kiara?"tanya Bintang kepada putranya.


"Tidak mau.Buat apa berpamitan lainkali kita juga bertemu lagi." jawab Tama acuh,tapi diam-diam dia melihat ke arah Kiara.


"Kia cantik,Tante pamit ya" ucap Bintang pada putri kecil Nando dan Dewi itu.


Bintang dan yang lainnya masuk ke dalam mobil.Namun tiba-tiba Tama keluar dan mencium pipi Kiara.Setelah itu dia kembali masuk ke dalam mobil orang tuanya.


"Tama....", teriak Kiara sambil memegangi pipinya.


Bintang dan Dewi hanya tertawa melihat tingkah kedua anak mereka.