
Seluruh rombongan turun dari mobil masing-masing, namun semuanya berhenti saat tiba-tiba Harry mengatakan sesuatu.
" Gawat,ada yang ketinggalan..."
Semua orang yang ikut mengantar ikutan panik mendengarnya.
"Memangnya apa yang ketinggalan,Nak?" tanya Mia.
"Jangan bilang kalau cincin nikahnya yang ketinggalan", kata Rania yang ikut berbicara.
"Bukan Kak,bukan itu", jawab Harry.
" Kalau bukan cincin, terus apa?" tanya Rania lagi.
"Ponsel Harry yang ketinggalan", saat mendengar jawaban adiknya itu rasa-rasanya Rania ingin memukul kepala adiknya itu.
" Ya ampun, Nak. Mama kira apa" kata Mia yang akhirnya merasa lega.
Harry hanya cengengesan menanggapinya.
"Ayo masuk,kasihan si Dinda sudah menunggu lama", seru Yuna.
Semua rombongan kembali melanjutkan perjalanan, namun meraka kembali berhenti ketika ada yang suara yang memanggil mereka.
" Tunggu! ", teriak orang itu dengan napas ngos- ngosan.
" Ana...Alex ", panggil Bintang, karena memang yang memanggil mereka adalah Ana dan Alex.
" Kalian benar-benar kejam ya,masa aku dan Mas Alex di tinggal", gerutu Ana sambil mengatur napasnya.
"Lho aku kira kalian sudah jalan duluan tadi",kata Bintang.
" Jalan apaan,tadi perut Ana mual jadi aku mengantarnya ke toilet. Eh,pas kita ke luar semua orang sudah tidak ada di sana. Hanya ada Mbok Jum dan beberapa penjaga rumah ", jelas Alex.
" Maaf ya An,Lex kita benar-benar tidak tahu",ucap Bintang.
"Tidak apa-apa kok,Bi. Cuma tadi kita takut ketinggalan acara saja. Soalnya anakku ini ingin mendegar suara ijab qobul", jawab Ana sambil mengelus perutnya.
Bintang dan Dewi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
" Ohya Harry, ini ponselmu tadi ketinggalan di ruang tamu", kata Alex sambil memberikan smartphone keluaran terbaru kepada Harry.
"Terimakasih ya,Lex", ucap Harry.
" Tadi sepertinya ada yang menelpon di sana,tapi aku tidak menjawabnya", kata Alex memberi tahu.
Harry melihat ke layar ponselnya sebentar untuk melihat siapa orang yang menelponnya.Ternyata dari nomor yang tidak dia kenal.
"Ayo Nak,pasti Dinda dan keluarganya sudah menunggu kita di dalam",ajak Yuna. Harry pun mengurungkan niatnya untuk menelpon balik nomor tersebut.
Semua rombongan akhirnya kembali berjalan menuju ke ruang utama,yaitu sebuah ballroom di hotel itu yang sudah di sulap menjadi ruangan yang indah dan elegan.
Di ruangan itu sudah menunggu Dinda. Dinda dengan kebaya putihnya terlihat sangat anggun dan juga cantik. Di sebelahnya berdiri Mbok Inah dan kedua anaknya Rini dan juga Sigit. Mereka bertiga mewakili keluarga Dinda karena memang sejak nenek Dinda meninggal dia tidak punya siapa-siapa kecuali mereka.
" Mbak Dinda,Mas Harry duwe kembaran toh?," tanya Rini saat melihat ada dua orang yang berwajah sama berjalan ke arah mereka.
( Mbak Dinda,Mas Harry punya kembaran ya? )
"Iya...namanya Rangga", jawab Dinda.
" Wah...Mas Harry dan kembarnya keren yo Mbak. Cobo kembarane mas Harry dadi jodohku. Wuih,aku mesti bakalan seneng banget Mbak", kata Rini dengan semangatnya.
' Tuk '
Sigit memukul kepala adiknya itu dengan telunjuknya.
"Opo toh Mas?",kata Rini sambil mengusap kepalanya yang kena pukul tadi.
( Apa sih Mas )
" Nek ngimpi ojo kedhuwuren Rin. Kae wong wadon sing nang sebelahe kembarane Harry, kuwi bojone", kata Sigit.
( Kalau mimpi jangan ketinggian,Rin. Itu,wanita yang ada di sebelah kembarannya Harry, dia itu istrinya )
"iyo-iyo,Mas. Rini kan cuma berangan-angan,masa nggak boleh",kata Rini.
" Yo ora oleh,wong sing mok impikke wes keluarganan",seru Sigit.
( Ya tidak boleh,orang yang kamu impikan itu sudah mempunyai keluarga )
" Huuussssst,meneng acarane wes arep di tapuk'i", seru Mbok Inah kepada dua anaknya.
Harry duduk di sebelah Dinda,sementara Rangga dan Sigit duduk di kursi yang ada di samping kiri dan kanan mereka. Rangga dan Sigit bertugas menjadi saksi di acara ijab qobul tersebut. Dan di depan mempelai duduk penghulu yang sekaligus menjadi wali hakim untuk Dinda.
Setelah mengucapkan ijab qobul dan dinyatakan sah. Keduanya menyematkan cincin di jari manis masing-masing.
Dinda mencium punggung tangan lelaki yang sekarang berstatus sebagai suaminya itu. Kemudian Harry,dia mencium kening Dinda.
Acara ijab qobul sudah selesai dan di lanjutkan dengan acara resepsi. Dinda dan Harry mengganti pakaian kebaya mereka dengan gaun modern.
"Rasanya baru kemarin aku deg-degan saat Mas Nando mengucapkan ijab qobul di depan penghulu", kata Dewi sambil membayangkan pernikahannya dulu.
" Pernikahanmu dulukan romantis,Dew. Nando memberikanmu surprise saat kamu ke luar dari rumah sakit. Pokoknya so sweet banget deh", puji Bintang.
"Iya,aku ingat betul bagaimana wajah kamu yang begitu sedih ketika mengira Nando akan menikah dengan orang lain. Dan berubah berseri-seri saat tahu mempelai wanitanya adalah kamu", imbuh Ana.
" Beda banget dengan pernikahanku", kata Bintang sambil melirik ke arah Rangga yang sedang berbicara dengan Alex,Juan dan juga Nando.
Juan yang mendengar itu menahan diri untuk tidak tertawa.
"Tetnyata istrimu masih mengingat pernikahan kalian yang tidak romantis", bisik Juan di telinga sahabat sekaligus adik iparnya itu.
" Bagaimana bisa lupa,dulukan Rangga yang memaksa Bintang dengan kontrak pernikahan. Bahkan aku ingat poin-poin yang ada di dalamnya", tambah Nando.
"Kontrak Pernikahan? Jadi dulu kalian menikah karena kontrak?" tanya Alex. Dia memang tidak begitu tahu tentang kisah cinta Bintang dan Rangga.
"Diam kalian!" seru Rangga kepada dua sahabatnya yang dari tadi mulai cekikikan.
Pada saat bersamaan datanglah Ester dan ayahnya,Tuan Bramantyo. Dia memang di undang di pernikahan Harry.
"Pak Rangga, ada yang ingin aku bicarakan dengan Bapak", kata Pak Bramantyo.
" Silahkan! ", seru Rangga.
" Tapi,bisakah kita berbicara di ruangan lain?" tanya Pak Bramantyo.
Rangga menatap ke arah istrinya sebentar.
" Tentu saja", jawab Rangga.
Rangga mengajak Ester dan ayahnya ke ruangan lain yang ada di hotel tersebut.
*****
"Apa yang ingin Tuan Bram bicarakan dengan saya?", tanya Rangga to the point ketika mereka tiba di ruangan yang di maksud.
" Begini,aku dengar perusahaanmu sedang mulai mengembangkan sayapnya di Jepang. Jadi aku akan membantu perusahaan Anda agar cepat berkembang di sana", jawab Bram.
"Saya yakin semuanya tidak gratiskan? Jadi katakan apa syarat yang Anda inginkan?", tanya Rangga yang tidak suka bertele-tele.
" Tadinya Aku akan menjodohkan Ester dengan anak dari rekan bisnisku,tapi dia bilang dia menyukai orang lain dan itu adalah Anda. Jadi syarat yang ingin aku ajukan adalah nikahilah putriku. Saya tahu Anda sudah punya keluarga. Tapi jadikan putriku itu istri kedua Anda,saya tidak keberatan", kata Bramantyo.
Rangga menyandarkan bahunya di sandaran kursi.
"Jika Anda menerima tawaran saya,perusahaan Anda di jamin akan maju pesat di sana", imbuh Bramantyo dengan pedenya.
Rangga belum memberikan keputusan apapun soal syarat yang di ajukan oleh Bramantyo tadi.
" Anda boleh mempertimbangkannya terlebih dulu. Saya permisi ".
" Pak Bram,saya akan mengumumkan keputusan yang akan saya ambil di depan semua orang. Jadi Anda bisa menunggu di sana", tutur Rangga.
Bram dan Esterpun keluar dari ruangan itu. Mereka berharap Rangga mau menerima syarat yang mereka ajukan.
****
Semua tamu yang berada di tempat resepsi itu menghentikan kegiatan mereka, saat Rangga memberikan sebuah pengumuman. Pengumuman yang membuat orang di sana terkejut di buatnya.
" Para tamu undangan sekalian, saya Rangga Harryangga Wijaya hari ini ingin memberikan suatu pengumuman. Kalau saya akan menikah lagi".
Pengumuman itu membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Terlebih Bintang, dia tidak menyangka kalau suaminya akan menikah lagi. Apalagi tadi dia sempat mendengar pembicaraan Rangga dengan Bramantyo.
# Para reader semuanya apa kalian setuju kalau Babang Rangga menikah lagi?. Jangan lupa juga baca karya teman author yang lain,yang tidak kalah bikin baper juga.